Minggu, 9 Agustus 20

Hasad (Dengki), Sifat Tercela 

Hasad (Dengki), Sifat Tercela 
* Ilustrasi dengki.(Foto: (tipspengembangandiri.com)

Oleh: Ustadz Mulia Mulyadi

Salah satu sifat tercela yang paling-hampir menghinggapi setiap orang adalah sifat hasad (dengki).
Menurut Imam al-Ghazali hasad memiliki 2 (dua) tingkatan.

Pertama, Tidak suka orang lain mendapatkan nikmat. Bahkan ingin menghilangkannya.

Kedua,
Ingin mendapatkan yang didapat dari orang lain itu.

Orang hasad tidak senang dengan segala kelebihan dan keutamaan yang dimiliki orang lain, baik kelebihan itu menyangkut harta benda, kekayaan, kedudukan, kehormatan, dan lain-lain.
Bisa jadi, orang hasad (dengki) akan membenci orang lain yang tidak memiliki ni’mat atau kelebihan apa-apa, namun karena hasad (dengki) yang semakin meningkat.

Dan perilaku orang orang hasad ialah, senang jika orang lain terus-menerus dalam kesusahan dan kekurangan.
Jadi, hasad itu adalah sifat atau prilaku seseorang yang membenci semua orang tanpa alasan yang jelas.

Karena kebencian dan kedengkiannya, orang hasad (dengki) secara diam-diam menginginkan orang yang dibencinya itu celaka. Dan kalau sudah begitu, besar kemungkinan baik secara langsung maupun tidak langsung ia ikut terlibat dalam usaha mencelakakannya. Maka, timbullah ghībah dan fitnah, yaitu menyebar berita buruk mengenai orang yang dibencinya itu.

Orang yang hasad (dengki), hatinya selalu gelisah. Kegelisahannya bukan disebabkan oleh kekurangan yang ada pada dirinya, tetapi karena kelebihan yang ada pada orang lain. Ia lebih fokus memperhatikan kelebihan orang lain daripada introspeksi atas kekurangan pada dirinya.
Bahkan kekuatannya
digunakan untuk menghilangkan kelebihan pada orang lain, daripada usaha untuk memperbaiki nasib dirinya sendiri.

Nabi pernah mengingatkan kita semua:

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ: « إِيَاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كما تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi saw bersabda: “Jauhilah olehmu sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat menghapus segala kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu yang kering.”
(HR. Abu Dawud).

Orang yang dengki atau hasad, di dalam hatinya tersembunyi keinginan agar orang lain celaka. Maka kedengkiannya itu merupakan bukti yang nyata sekali bahwa di dalam hatinya tidak punya i’tikad baik kepada orang lain secara tulus.

Jadi, andaikata terdapat kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh seorang pendengki/hasad, dapat dipastikan bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan itu palsu.
Suatu perbuatan baik tanpa disertai dengan niat atau i’tikad baik, maka mustahil akan melahirkan perbuatan yang tulus. Dengan kata lain, perbuatan baiknya kepada orang lain hanyalah untuk menutupi kebusukan yang tersembunyi di dalam hatinya.

Oleh karena itu, karena sifatnya tersembunyi dan sulit diketahui secara lahiriah, Al-Qur’an dalam surat al-Falaq memperingatkan kepada kita agar senantiasa berlindung kepada Allah dari kejahatan pendengki, karena hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang tersembunyi.
Surat al-Falaq ini, mengingat kandungan makna dan sabab nuzūl-nya, maka kita juga dianjurkan untuk membacanya jika melihat suatu keni’matan yang ada pada orang lain.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ .وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ .وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.
(QS. Al-Falaq : 1-5)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.