Sabtu, 25 September 21

Harus Ada Pembisik ke Jokowi Agar Kepala BIN Diganti

Harus Ada Pembisik ke Jokowi Agar Kepala BIN Diganti

‎Jakarta, Obsessionnews – Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya masih belum menemukan nama yang cocok untuk dijadikan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) menggantikan Marciono Norman. Padahal, publik sudah banyak yang mempertanyakan mengapa dari sekian banyak lembaga negara hanya BIN yang belum ada pergantian pimpinan.

Jurubicara Barisan Umat Islam Kaffah( BUIKAFF), Syarief Hidayatullah, mengatakan hal itu bisa jadi disebabkan karena tidak ada pembisik yang kuat dari Istana untuk menyampaikan kepada Presiden bahwa keberadaan BIN sangat penting sebagai alat pertahanan negara.

“Ini bisa jadi karena tidak ada orang yang bisa membisik Presiden untuk segera melakukan pergantian kepemimpinan sebagai kepala BIN,” ujar Syarief, dalam diskusi publik ‘Menebak Kepala BIN‘ yang digelar di Gedung Juang, Jakarta, Sabtu (16/5/2015).

Menurut Syarief, adanya pergantian kepala BIN memang sangat dibutuhkan, lantaran Indonesia kerap beberapa kali kecolongan informasi tentang perkembangan politik dan keamanan baik di tingkat nasional maupun internasional. Seperti halnya, maraknya gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang melibatkan warga Indonesia.

Kasus ini, bisa dijadikan contoh bahwa kemampuan BIN sebagai alat negara lemah untuk memberikan informasi kepada Presiden tentang ancaman politik dan ideologi dari luar melalui penyebaran paham-paham radikalisme di Indonesia. Kenyataannya kata dia, banyak orang yang masuk ISIS.

“Jadi kepala BIN ini harusnya data dan informasi yang kuat tentang perkembangan situasi politik nasional maupun internasional,” terangnya.

Kemudian persoalan narkoba, dimana dalam perkembangannya Indonesia sudah ditetapkan statusnya sebagai negara darurat narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Peredaran narkoba ini jelas melibatkan jaringan internasional. Karena itu kata dia, BIN juga memiliki peran penting untuk mencegah itu dengan memberikan informasi kepada pihak Kepolisian maupun BNN.

Syarief menambahkan, Presiden sebagai Panglima Tertinggi ‎negara sangat bertanggung jawab atas keutuhan negaranya. Untuk menopang itu dibutuhkan seluruh instrumen negara yang kuat seperti BIN, TNI maupun Kepolisian dan juga pihak-pihak yang terkait. Mereka kata Syarief, harus memberikan informasi kepada Presiden tentang sesuatu hal yang benar dan positif.

‎Diketahui, nama calon Kepala BIN yang saat ini masih beredar luas yakni ada Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali, dan bekas Wakil Panglima TNI Jenderal (Purn) Fachrul Razi, kemudian bekas Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto dan Ketua Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) Sutiyoso.

Syarat Kepala BIN Versi Masyarakat Sipil
Selama hampir tujuh bulan Pemerintahan Joko Widodo berjalan, belum terlihat tanda-tanda adanya pergantian Kepala Badan Intelijen Indonesia (BIN). Saat ini, jabatan Kepala BIN masih dipegang oleh Marciono Norman.

Masyarakat ada yang menginginkan agar Jokowi segera mencari sosok nama yang tepat untuk menduduki jabatan tersebut. ‎Seperti halnya, Barisan Umat Islam Kaffah( BUIKAFF), dan juga Ormas Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB). Mereka menawarkan beberapa syarat bagi calon kepala BIN.

‎Sekjen PEKAT IB, ‎Bob Hasan mengatakan, jabatan kepala BIN hendaknya diisi oleh orang-orang yang bukan dari kalangan partai politik, independen, berintegritas, bersih, tidak terlibat kasus hukum pada masa lalu dan memiliki visi dan misi yang jelas mengenai keutuhan negara (NKRI).

“Syaratnya bukan dari Parpol, berintegritas dan bersih dari dosa-dosa masa lalu,” ujarnya dalam diskusi Menebak Kepala BIN, di Cikini Sabtu (16/5/2015).

Kemudian kata‎ Hasan, diharapkan berasal dari Angkatan Darat. Sebab, Angkatan Darat dianggap lebih paham dan lebih menguasai wilayah teritorial Indonesia. Secara taktik juga dianggap lebih mumpuni serta lebih memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi dibanding dengan yang lain. “Harus dari militer Angkatan Darat, bukan sipil,” jelasnya.

Terakhir, calon kepala BIN‎ harus memiliki kemampuan dan paham tentang situasi geopolitik yang terjadi ditingkat nasional maupun internasional. Serta harus orang yang memiliki jiwa kenegarawanan, jiwa yang penuh pengabdian.

‎Sementara itu, Ketua BUIKAFF, Syarief Hidayatullah juga mengatakan hal yang sama, calon kepala BIN hendaknya bukan dari anggota Parpol, Angkatan Darat, bebas dari persoalan hukum, punya wawasan yang tinggi tentang persoalan kebangsaan, baik ditingkat nasional maupun internasional.

Selain itu, ‎calon kepala BIN harus memiliki kedekatan khusus dengan Presiden. Sebab, BIN sebagai alat negara memiliki tugas yang penting untuk menyampaikan informasi kepada presiden tentang kondisi dan situasi negaranya. Menurutnya, kuat atau tidaknya suatu negara juga bisa ditentukan melalui agen rahasianya.

“Kalau BIN kita kuat, dan cangih maka negara juga akan kuat. Jadi kita berharap semua elemen negara bisa bekerjasama dengan Presiden,” tuturnya.

‎Diketahui, nama calon Kepala BIN yang saat ini masih beredar luas yakni ada Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali, dan bekas Wakil Panglima TNI Jenderal (Purn) Fachrul Razi, kemudian bekas Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto dan Ketua Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) Sutiyoso. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.