Selasa, 19 Oktober 21

Hartati, Koreografer Kelas Internasional

Hartati, Koreografer Kelas Internasional
* Hartati, salah seorang koreografer yang mengharumkan Indonesia di tingkat internasional. (Foto: Sutanto/obsessionnews.com)

Di blantika tari kontemporer namanya sudah tak asing lagi. Hartati seorang koreografer atau penata tari kontemporer yang berangkat dari tradisi Minang. Wanita kelahiran Jakarta, 27 Februari 1966, ini berkecimpung di dunia tari sejak kecil ketika tinggal di Muara Labuh, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Tahun 1987 ia termasuk salah seorang yang melakukan revolusi besar di dunia tari, yakni meramu koreografinya dengan unsur silat Minangkabu, balet modern, dan gaya bebas. Karya-karyanya merefleksikan perjalanan hidup seorang perempuan, penghargaan pada tradisi Minang, dan kegamangan identitas Indonesia di tengah perubahan zaman dengan segala problematikanya.

Lulusan Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menciptakan tari Sentak, Pinto jo Pintel, Parimbangan jo Patantangan, Martabat, Suap, Sayap yang Patah, The Way of the Women, Membaca Meja, Ritus Diri, dan lain sebagainya. Ide-idenya dalam bentuk karya koreografi mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sehingga mengantarkannya untuk berkiprah di panggung nasional dan internasional. Ia tampil di berbagai negara, yakni Singapura, China, Kolombia, Amerika Serikat, Australia, dan lain-lain.

Penghargaan yang diterimanya adalah mengikuti Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) di Universitas California, Los Angeles (UCLA) tahun 1996. Selain itu Hartati menerima penghargaan dari Asian Cultural Council (ACC) sebagai visiting artist selama lima bulan di New York (2000). Tahun 2001 ia diundang Bates Dance Festival menampilkan The Way of the Women. Tahun 2007, Hartati mewakili Asia dalam program pertemuan Asia-Eropa “Point to Point” yang diselenggarakan oleh Asia-Europe Foundations (ASEF) di Beijing.

Karena reputasinya tersebut, Hartati terpilih menjadi anggota dewan juri festival tari kontemporer dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015. Kegiatan yang bertema revolusi ekonomi kreatif ini akan digelar di Bandung, Jawa Barat, November mendatang. Hartati menyambut baik penyelenggaraan BeKreatif Indonesia 2015, karena hal itu merupakan peluang emas bagi para seniman untuk menampilkan karya-karya terbaiknya.

Ditemui obsessionnews.com seusai rapat dengan panitia BeKreatif Indonesia 2015 di sebuah hotel di Jakarta Selatan baru-baru ini, Hartati mengemukakan optimismenya tari kontemporer berprospek bagus.

“Saya merasa gembira karena jumlah peminat tari kontemporer di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Mereka harus dirangsang agar terus menekuni tari kontemporer. Salah satu caranya diberi kesempatan tampil dalam festival. Nah, BeKreatif Indonesia 2015 salah satu ajang besar bagi penari kontemporer untuk unjuk gigi,” katanya.

Karya-karyanya diperhitungkan karena nyaman memadukan tari tradisional dan tari modern. Koreografinya memberikan warna baru karena menyerap materi modern demi memperkaya unsur tradisional. Hal itu dicapainya melalui proses panjang. Hartati menyadari dia mesti menapaki tangga perkembangan demi menghadirkan inovasi setiap berkarya. Kuncinya adalah dengan membuka diri.

Hartati memanfaatkan setiap kesempatan yang ia peroleh untuk membuka diri terhadap perkembangan teknologi, informasi, dan ide orang lain. Bekerja sama dengan seniman-seniman yang memiliki idealisme berbeda merupakan tantangan baginya. Tahun 2007 wanita yang ramah ini bekerja sama dengan Marc Appart, komposer asal Belgia, secara jarak jauh. Selama dua tahun mempersiapkan karya tersebut, Hartati tidak pernah bertatap muka dengan Marc, tapi ia berhasil membangun kepercayaan demi mewujudkan impian.

”Setiap habis latihan, saya mengirim rekamannya ke Marc sebagai pedoman membuat komposisi musik bagi tarian saya. Saya ingin berbagi pengalaman dengan seniman lain untuk mewujudkan tujuan bersama. Masalahnya adalah bagaimana membuat para seniman yang terlibat merasa memiliki sehingga karya menjadi pekat dan utuh, dalam koreografi dan pertunjukannya,” tuturnya.

Menyadari profesinya mengharuskannya untuk tahu banyak hal, Hartati rajin membaca koran dan mengikuti tren buku best seller yang menjadi buah bibir banyak orang, sehingga mengetahui perkembangan dunia di luar kesenian. Sensitif menangkap gejala sosial, Hartati memberikan sumbangsih kepada masyarakat dengan menggarap karya yang mengangkat kegelisahannya terhadap kenyataan sekitar, seperti tampak dalam sebuah karyanya Suap pada akhir era kekuasaan Soeharto tahun 1998.

Kepekaan sosial ini kemudian ia sempurnakan dengan terus mengeksplorasi teknik gerak, karena Hartati termasuk koreografer yang sangat percaya pada kemampuan gerak dalam berbicara. Baginya, penguasaan teknik secara total adalah mutlak bagi seorang penari.

Dosen Jurusan Tari IKJ ini tak mau para penarinya hanya menguasai teknik tari.  Menurutnya, mereka juga harus memiliki teknik menari yang baik yang membuatnya mampu menghayati apa yang mereka lakukan, sehingga ada penjiwaan, penafsiran, dan ekspresi. Sampai ke ujung jarinya pun mereka bisa bicara. Mereka harus dapat mengalirkan semua ekspresi ke tubuhnya. (Arif RH)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.