Selasa, 21 September 21

Hari Buku Nasional, Momentum Bangkitkan Minat Baca Masyarakat Indonesia

Hari Buku Nasional, Momentum Bangkitkan Minat Baca Masyarakat Indonesia
A.Rapiudin
Jakarta– Dibanding Jepang dan Singapura, minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih rendah.  Minat baca masyarakat negeri Sakura 45 persen, Singapura 55 persen, dan Indonesia di kisaran 0,01 persen.
Padahal membaca berperan penting dalam membangun dan memajukan suatu bangsa. Pembentukan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas dimulai dari membaca. SDM semacam ini menjadi modal utama pembangunan dan bekal menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan.
Tidak bisa dipungkiri pula buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Melalui buku kepribadian seseorang terbentuk dan melalui buku pula majunya peradaban suatu bangsa akan terlihat.
Bangsa Jepang yang maju peradabannya karena buku. Masyarakat Jepang menjadikan aktivitas membaca menjadi semacam budaya sehingga tak aneh jika Jepang mampu bangkit dari keterperukan pasca Perang Dunia II. Kala itu Jepang hancur dan porak poranda digempur tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat. Tetapi kini kondisinya telah berubah dan Jepang tampil menjadi negara maju.
Jepang hanyalah salah satu contoh. Contoh lainnya adalah Jerman, Amerika Serikat, dan Cina. Negara-negara tersebut menjadi negara yang maju karena rakyatnya punya tradisi membaca yang begitu kuat.
Indonesia sebenarnya punya momentum untuk kembali membangkitkan  minat baca di kalangan masyarakat. Paling tidak Hari Buku Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 bisa dijadikan pijakan untuk mendorong momentum tersebut. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan didirikannya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980.
Karena itu, jika Indonesia ingin tampil menjadi negara maju, maka masyarakatnya harus didorong untuk gemar membaca. Sebab, itulah prasyarat bagi suatu bangsa agar maju dan berkembang. Dengan masyarakat yang gemar membaca menunjukkan masyarakat yang respeck dan respek terhadap ilmu pengetahuan, yang merupakan pilar utama kemajuan umat manusia.
Dalam kaitan Hari Buku Nasional, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon meminta pemerintah dapat meningkatkan minat baca putra-putri bangsa, dan semakin mendekatkan mereka membuka tirai dunia. Lebih fundamental lagi, kegiatan membaca buku ini merupakan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kami sangat mendukung peningkatan minat baca di masyarakat yang masih hanya sekitar 0,01 persen. Artinya, hanya 1 dari 10.000 masyarakat Indonesia yang memiliki keinginan baca. Sementara di Jepang 45 persen, dan Singapura mencapai 55 persen,” ucapnya.

Pendiri Fadli Zon Library ini menyebut, buku adalah pedoman menuju peradaban. Buku merupakan pintu ilmu dan jendela melihat dunia. Membaca tiap halaman buku sama dengan membuka tiap lapis tirai dunia. Buku melahirkan pikiran-pikiran besar dunia, membentuk ideologi bahkan membangun peradaban.

Mengapa minta baca masyarakat Indonesia rendah? Inilah yang perlu dicari penyebabnya. Anggota Komisi X Itet Tridjadjati Sumarijanto pun mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan penelitian mencari faktor penyebab rendahnya minat masyarakat Indonesia.
Bisa jadi, kata Itet, rendahnya minat baca masyarakat lantaran kurangnya sarana yang memadai seperti perpustakaan di sekolah atau di tempat-tempat umum. Keberadaan perpustakaan ini menjadi sangat fundamental untuk membangkitkan minat baca. Sesuai  UU No 43/ 2007 tentang Perpustakaan, peran perpustakaan adalah perangkat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kolega Itet di Komisi X DPR, Surahman Hidayat punya jawaban mengapa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Menurut politisi PKS ini, rendahnya minat baca masyarakat selama ini terkait dengan kultur masyarakat yang memang tidak punya kegemaran membaca. Masyarakat Indonesia lebih cenderung menonton tayangan televisi.
Upaya meningkatkan minat baca ini, kata Surahman, bisa dilakukan antara lain lewat perpustakaan keliling. Sayangnya, perpustakaan keliling tidak dimiliki semua kabupaten di Tanah Air. Karena itu, ke depan harus didorong agar dapat dipastikan paling tidak setiap kabupaten memiliki perpustakaan keliling.

Menurutnya,  dukungan anggaran untuk meningkatkan minat baca bagi masyarakat dalam bentuk perpustakaan keliling ini masih minim, dibandingkan dukungan anggaran ke kegiatan lainnya. Padahal, kegiatan perpustakaan itu  punya perspektif yang bisa membangun peradaban, yang bisa mengubah karakter bangsa menjadi lebih baik.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.