Rabu, 7 Desember 22

Harga Solar Mencapai Rp 23 Ribu Bikin Nelayan Sekarat

Harga Solar Mencapai Rp 23 Ribu Bikin Nelayan Sekarat
* Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Tani dan Nelayan Riyono. (Foto: Humas DPP PKS)

Obsessionnews.com – Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Tani dan Nelayan Riyono mengatakan, kondisi sektor perikanan semakin berat. Harapan baru nelayan dan sektor perikanan mampu bangkit sebagai pengungkit ekonomi nasional terganjal oleh berbagai regulasi dan kondisi yang memberatkan nelayan dan pelaku usaha perikanan.

 

Baca juga:

Pelatihan Gunakan Media Sosial yang Baik di Kampung Nelayan Kaliadem

Dua Alumni LSPR Institut Ajarkan Melek Digital kepada Pemuda Kampung Nelayan Kaliadem

 

 

“Kontroversi PP 85, kenaikan PNBP, sistem penangkapan terukur membuat gaduh dan mandeknya sektor perikanan. Tampaknya KKP belum memahami psikologi serta denyut nadi nelayan,” ujar Riyono dalam keterangannya, Minggu (31/7/2022).

Menurut dia, sejak menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu ST hanya fokus bagaimana meningkatkan pendapatan melalui berbagai aturan yang ujungnya menuai kontroversi. Dan akhirnya harus direvisi. Berbagai sikap nelayan dari penolakan dan ribut soal PP 85 Tahun 2021 beserta turunannya dalam bentuk permen KP no 85 dan 86 tentang Harga Patokan ikan (HPI) dan PHP (pungutan hasil perikanan) membuktikan bahwa KKP tidak memiliki sense of crisis, dan sekaligus gagal berkomunikasi dengan nelayan.

“Tapi kenapa Presiden Jokowi menandatanganinya?” tanya Riyono.

Setelah terbitnya PP 85 Tahun 2021 yang ditindaklanjuti dengan PermenKP menjadikan suasana dialog serta komunikasi menjadi kaku. Di satu sisi KKP sudah pasang target Rp 12 triliun untuk PNBP sampai 2024 dengan harapan di 2022 bisa naik menjadi 1 Triliun. Kondisi pandemi tampaknya belum menjadi pertimbangan serius KKP, angka di atas kertas yang disodorkan BPK soal potensi transaksi perikanan yang mencapai Rp 215 triliun per tahun menjadi acuan target.

Kini penderitaan nelayan dan dunia perikanan bertambah dengan harga solar yang mencapai Rp 23.000.

“Ada hampir 3.000 kapal gak bisa melaut karena biaya bahan bakar minyak (BBM) membengkak sampai 60% dari biasanya. Kenaikan BBM dan juga diiringi kenaikan perbekalan membuat nelayan sekarat,” tutur Riyono.

Kenaikan BBM ini berdampak sangat serius. Ada hampir 7.000 kapal di atas 30 GT izin pusat yang terancam bangkrut akibat kenaikan harga solar ini.

“Visi poros maritim tidak mampu hadir pada saat nelayan susah, negara tidak hadir saat kondisi susah,” ujar Riyono. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.