Selasa, 28 Januari 20

Hanura Menuai Badai di Tahun Politik

Hanura Menuai Badai di Tahun Politik
* Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) mengibarkan bendera berlambang Hanura.

Jakarta, Obsessionnews.com – Tahun politik memberi implikasi buruk bagi keberlangsungan sebuah partai politik (parpol). Tarik menarik kepentingan kerap kali enjadi penyebab terjadinya konflik internal dalam tubuh sebuah parpol. Seperti halnya yang sedang dialami Partai Hanura.

Seyogyanya parpol memanfaatkan tahun politik sebagai momentum untuk melakukan konsolidasi ke akar rumput. Tapi tidak demikian yang sedang dialami Partai Hanura. Kedua kubu yang berseberangan saling pecat-memecat.

Konflik itu bermula ketika Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) mencopot ketua DPD Hanura Sumsel, Mularis Djahri. Mularis dianggap membangkang perintah OSO terkait dukungan partai di Pilgub Sumsel.

Selain Mularis, OSO juga memberhentikan secara definitif sekretaris DPD Hanura, Zakaria Abas yang juga dinilai ikut melakukan pembangkangan. OSO lalu menunjuk Hendri Zainudin sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Hanura Sumsel.

Pembangkangan terlihat saat Mularis Djuhari dan sekretarisnya, Zakaria Abas, tidak hadir dengan berbagai alasan ketika pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya yang diusung partai mendaftar di KPU pada Selasa (9/1/2018) pekan lalu.

Sehari kemudian, Mularis malah terlihat hadir bersama puluhan kader Hanura mengenakan atribut partai saat deklarasi paslon Dodi Reza Alex-Giri Ramanda Kiemas di Monumen Perjuangan Rakyat. Kehadirannya pun menjadi perhatian banyak orang karena secara terang-terangan Mularis mengaku mendukung putra Gubernur Sumsel itu.

Mularis menolak mendukung Herman Deru-Mawardi Yahya karena partai Golkar telah terlebih dahulu mengusung dirinya untuk maju di Pilwako Palembang. Sehingga dirinya harus menentukan sikap dan memilih mendukung paslon Dodi Reza Alex-Giri Ramanda yang sama-sama didukung Golkar.

Kubu pengurus harian yang berseberangan dengan OSO kemudian menggelar rapat di Hotel Ambhara Blok M, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018). Rapat ini memutuskan mencopot OSO dari jabatan ketua umum. Pemecatan berdasarkan mosi tak percaya dari pengurus tingkat daerah.

Ketua DPP Hanura Dossy Iskandar menyebut OSO sudah melakukan aneka pelanggaran sehingga dipecat. Salah satunya karena memecat pengurus DPD Hanura tanpa melalui mekanisme partai. Pengurus kubu Hotel Ambhara saat ini menunjuk Marsdya (Purn) Daryanto sebagai Plt Ketum.

“Pelanggaran cukup banyak dan kami memandang setelah dipaparkan tadi, salah satunya memberhentikan DPD, ada pengganti yang tidak melalui mekanisme. Cukup banyak,” ungkap Dossy.

Sementara itu, pada hari yang sama, pengurus Hanura kubu OSO menggelar pertemuan di Hotel Manhattan Setiabudi, Jakarta Selatan. OSO terpantau tengah berada di sana untuk memimpin rapat verifikasi faktual partai. Sebagian pengurus Hanura juga terlihat sudah memenuhi ruangan rapat.

Loyalis OSO menyebut pemecatan OSO adalah ilegal. Ketua Bidang Organisasi Hanura Benny Rhamdani menyebut rapat resmi partai terletak di Hotel Manhattan. Benny mengatakan, agenda rapat di luar itu adalah rapat tak resmi.

“Rapat resmi itu di Hotel Manhattan, kami tak pernah tahu ada rapat di luar Manhattan. Kami juga tak tahu siapa yang kumpul di sana, pastinya kalau di luar Manhattan itu rapat liar,” kata Benny.

Perpecahan parpol menjadi hal yang lumrah. Sebagian di antaranya harus saling menggugat karena mengklaim sebagai pengurus yang sah. Hal ini pernah dialami oleh PPP dan Partai Golkar. Sayangnya Golkar mampu keluar dari ambang kehancuran dengan kedua kubu memilih ketua umum yang baru.

Bagaimana dengan PPP? Partai yang mengklaim sebagai partai umat ini masih menyisahkan konflik yang berkepanjangan, walaupun sudah melawati proses hukum. Hingga kini partai itu memiliki dua ketua umum. Romahurmuziy di satu kubu, dan Djan Faridz di kubu lainnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.