Rabu, 22 September 21

Guruh Ungkap Bung Karno Lahir di Surabaya

Guruh Ungkap Bung Karno Lahir di Surabaya
* Guruh Soekarnoputra

Jakarta, Obsessionnews – Guruh Soekarnoputra mengungkapkan ayahnya, Presiden pertama RI Ir. Sukarno atau Bung Karno, lahir di Surabaya, Jawa Timur, bukan di Blitar. Guruh mengatakan hal itu saat berpidato dalam acara penerbitan buku Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid II) di Gedung Pola, Jakarta, Sabtu (6/6/2015). Acara itu digelar untuk merayakan 114 tahun kelahiran Bung Karno.

imagesPernyataan putera bungsu Bung Karno itu sekaligus meluruskan pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut Bung Karno lahir di Blitar. Seperti diketahui pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2015 di Blitar, Jokowi membacakan teks pidato. Pada salah satu bagiannya, Jokowi menyebut kota kelahiran Bung Karno adalah Blitar.  (Baca: Jokowi Salah Sebut Lahir Bung Karno, Sukardi Minta Maaf)

Kesalahan Jokowi menyebut nama kota kelahiran Bung Karno itu menuai protes dari masyarakat. Hal itu kemudian membuat penulis teks pidato Jokowi, Sukardi Rinakit, angkat bicara. Sukardi yang menulis teks pidato itu, menyampaikan permintaan maaf atas kesalahannya dalam memberikan informasi kepada Jokowi.

“Kesalahan tersebut sepenuhnya adalah kekeliruan saya dan menjadi tanggung jawab saya,” ujar Sukardi dalam pernyataan pers pada Kamis (4/6/2015) malam.

Selain mengoreksi kota kelahiran Bung Karno, Guruh juga menjelaskan tentang cara menuliskan nama Sukarno yang benar.

“Yang benar adalah Sukarno, dengan u, bukan Soekarno,” tuturnya.

Pernyataan tersebut didukung dengan bukti langsung ucapan Bung Karno yang dimuat dalam halaman 32 buku otobiografinya, Sukarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis oleh Cindy Adams. Guruh lalu membacakan kutipan pernyataan Bung Karno dalam buku itu.

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno, sesuai ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan agar semua oe diterjemahkan kembali menjadi u. Nama Soekarno menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku masih menulis Soe,” tuturnya.

Selanjutnya yang tidak kalah penting, menurut Guruh, adalah kepanjangan dari kata “Jasmerah” yang merupakan judul pidato kenegaraan Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1966.

“Jasmerah itu sering disebut-sebut pemerintahan zaman Orde Baru (Orba) supaya konotasinya Bung Karno identik dengan PKI. Padahal Jasmerah itu kan artinya jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, tapi orang banyak keliru mengartikannya jadi jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Melupakan dan meninggalkan itu beda jauh,” kata anggota Fraksi PDI-P DPR ini.

Catatan selanjutnya adalah tentang beberapa pihak yang menyebutkan pemerintahan Sukarno adalah zaman Orde Lama. Guruh dengan tegas membantah pengertian tersebut.

“Kalau menyebut Bung Karno Orde Lama itu suatu penghinaan. Bung Karno sendiri anti Orde Lama karena Orde Lama adalah keadaan pada saat manusia Indonesia masih dengan mental dijajah atau zaman kolonialisme. Kalau mau bilang ya sebut saja pemerintahan masa Bung Karno, bukan pemerintahan masa Orla,” katanya. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.