Kamis, 30 Juni 22

Guru Punya Peran Penting Menangkal Hoax

Guru Punya Peran Penting Menangkal Hoax
* Diskusi publik "‎Strategi Menang Melawan Hoax dan Fitnah”‎ di ‎Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2017).

Jakarta, Obsessionnews.com – Banyaknya berita hoax atau berita bohong di masyarakat membuat semua orang prihatin, termasuk Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia ‎ (PGRI) Unifah Rosyidi. Ia merasa terpanggil untuk berkampanye memerangi hoax, karena bila informasi bohong itu dibiarkan  bisa merusak generasi bangsa.

Hal itu disampaikan ‎Unifah, dalam acara diskusi publik “‎Strategi Menang Melawan Hoax dan Fitnah”‎ yang diadakan oleh ‎Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi di ‎Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat,  Rabu (25/1/2017).

Unifah menyatakan, pengguna media sosial di Indonesia tidak mengenal usia. Bahkan hampir semua anak sekolah saat ini punya banyak media lebih dari satu. Dan di era keterbukaan informasi ini, berita hoax bisa menyebar di mana saja. Banyak dari anak-anak sekolah menjadi korban hoax karena minimnya pengatahuan.

“Karena itu guru sebagai seorang pendidik punya peran penting, untuk mengajari murid-muridnya bagaimana bisa menggunakan media sosial secara bijak. Karena banyak kejahatan yang menimpa anak sekolah berawal dari media sosial,” ujarnya.

Sebagai seorang guru, ia menyayangkan mengapa hoax begitu massif dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Mereka seperti tidak memikirkan akibat yang dihasilkan dari berita hoax jauh lebih besar karena menyangkut keutuhan NKRI.

“Bayangkan kalau dari kecil saja anak-anak sudah dimasuki oleh banyaknya berita-berita hoax, ini sama saja mengajari mereka untuk berbohong. Dan ini merusak generasi bangsa,” jelasnya.

Sementara itu, ‎ Ahmad Mukhlis Yusuf anggota Pokja Revolusi Mental, sekaligus mantan Dirut LKBN Antara menyatakan, hoax sama sekali tidak mencerminkan dari semangat revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Karena revolusi mental lahir dari pembangunan jiwa yang dianggap belum selesai.

“Hoax ini sama sekali tidak mencerminkan dari semangat masyarakat yang memiliki jiwa revolusi mental. Karena revolusi mental menuntut kita untuk berkerja secara cerdas dan bijak,” tuturnya.

‎Strategi melawan hoax kata dia, tidak bisa hanya dibebankan oleh pemerintah tapi juga peran serta dari masyarakat. Dan ia berharap hal ini juga dilakukan oleh media maenstreem. Sebab, Fungsi media dipahami bukan hanya sebagai alat ekonomi. Tapi harus bisa mewujudkan masyarakat yang cerdas dan peduli.

“Kuncinya menurut saya bahwa apapun berita atau informasi yang kita muat bukan hanya sekedar benar tapi harus bermanfaat. ‎Karena yang benar itu belum tentu bermanfaat,” jelasnya. (Albar)‎

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.