Senin, 18 Oktober 21

Guru Honorer Ini Dipecat Usai Curhat dengan Wapres JK

Guru Honorer Ini Dipecat Usai Curhat dengan Wapres JK

Jakarta, Obsessionnews – Nasib sial menimpa Miftah Sabban, seorang guru honorer di SD Negeri 2 Banda, Maluku Tengah. Miftah harus menerima dirinya dipecat oleh kepala sekolahnya usai curhat tentang berbagai masalah pendidikan di Banda, Maluku ke Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kisah ini bermula ketika Wapres JK yang sedang berkunjung ke daerah tersebut menggelar acara dialog terbuka di Istana Mini, Maluku, Kamis (17/3/2016). Acara dialog ini dihadiri pejabat pemda, tokoh daerah dan sejumlah elemen masyarakat.

“Saat itu ada di dadapan Wapres ada salah satu penanya yang menanyakan tentang masalah pendidikan,” cerita Bupati Maluku Tengah, Abua Tuasikal saat dihubungi, Jumat (25/3/2016).

Abua mengatakan sebenarnya permasalahan pendidikan yang diungkapkan Miftah sudah pernah dibahas di level pemerintahan daerah. Namun, karena belum tuntas, Mintah mencoba kembali bertanya hal yang sama kepada Wapres JK.

Curhatan Miftah itulah yang kemudian membuat Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Banda, tersinggung. Miftah dipecat mendadak oleh Kepala SD Negeri 2 Banda Fatimah Assagaff, hanya empat hari berselang.

“Setelah itu, pertanyaan itu diajukan mungkin ada yang tersinggung, mungkin Kepala UPTD, lalu dia mengambil sikap tegas dengan menonaktifkan yang bersangkutan,” katanya.

Abua menilai curhatan Miftah bukan merupakan sesuatu yang prinsipil, sehingga tidak perlu direspon dengan sikap reaktif. Justru Menurut dia, Miftah harusnya diapresiasi karena keberaniannya menyuarakan aspirasi tentang masalah pendidikan di Maluku.

“Itu suatu keberanian yang luar biasa dan katong (kita) harus memberikan apresiasi kepada orang-seperti seperti itu,” pungkas dia.

Abua mengaku baru mengetahui kejadian ini, antara hari Selasa atau Rabu lalu melalui media sosial Facebook. Saat itu juga dia perintahkan Kepsek memanggil Miftah untuk kembali menjalankan tugas seperti sedia kala. Tapi sayangnya yang bersangkutan belum memutuskan mengajar lagi.

“Sebagai warga negara punya hak apakah dia mau kembali lagi untuk mengajar atau tidak, itu haknya dia. Tapi yang terpenting pimpinan sudah perintahkan untuk dia kembali memenuhi kewajiban tugasnya,” lanjut Abua.

Tidak hanya itu, pria yang berlatar belakang sebagai seorang Notaris ini juga telah memberi sanksi berupa teguran secara lisan kepada Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banda. Sanski itu sekaligus sebagai peringatan bagi setiap pejabat daerah supaya tidak reaktif terhadap kritikan orang.

“Jadi harus tegas dalam melakukan pembinaan. Untuk itun beta (saya) sudah memberikan arahan kepada Kepala UPTD untuk tidak melakukan sesuatu d luar kewenangan dia,” tandasnya.

Miftah dipecat oleh Kepala SD Negeri 2 Banda, Fatimah Assagaff atas perintah Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banda. Namun, Fatimah telah menyampaikan permohonan maaf karena menganggap tindakan pemecatan itu diambil dengan keputusan yang terburu-buru. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.