Rabu, 25 Mei 22

Guru Dianiaya Wali Murid, Mendikbud Harus Turun Tangan!

Guru Dianiaya Wali Murid, Mendikbud Harus Turun Tangan!
* Guru SMK 2 Makassar yang dipukul wali murid

Jakarta, Obsessionnews.com – Setelah terjadi kasus pembunuhan dosen dan kriminalisasi terhadap guru, kini bahkan seorang guru SMK 2 Makassar dianiaya oleh wali murid, dipukuli hingga hidungnya berdarah pada Rabu (10/8/2016). Terkait nasib guru tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) harus turun tangan untuk mengatasinya agar kejadian serupa tidak terulang.

“Mendikbud harus turun tangan! Tanggung jawab pendidikan di negeri ini adalah Mendikbud,” tegas Ketua Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) Dr HA Fathoni Rodli yang juga Rektor Universitas Ma’arif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (10/8/2016).

Fathoni menegaskan, perlindungan guru sudah ada dalam UU Guru dan Dosen, dalam tugas profesinya adalah membina, mendidik, memberi tugas dan memberi sanksi bagi yang melanggar kesepakatan. “ADRI mengutuk atas penindasan, teror dan kekerasan fisik maupun psikologis terhadap pendidik baik guru maupun dosen!” tegasnya.

Ia menyerukan, semua pihak diminta untuk tidak main hakim sendiri atas proses pembelajaran yang dianggap kurang tepat tetapi harus mengedepankan persoalan mengapa guru memberi sanksi. “Kalau guru dilarang memberikan sanksi dalam proses pembelajaran maka akan terjadi pembiaran perilaku menyimpang peserta didik,” tandas Fathoni yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Seorang guru, Dasrul, menjadi korban penganiayaan orangtua siswa SMKN 2 Makassar, Rabu (10/8).
Seorang guru, Dasrul, menjadi korban penganiayaan orangtua siswa SMKN 2 Makassar, Rabu (10/8).

Menurut Fathoni, fenomena ‘pembiaran terhadap siswa yang berilaku menyimpang’ sudah terjangkit di kalangan guru karena trauma terhadap kekerasan, ancaman dan penjara yang menghantui para guru.

“Siswa mendapat perlindungan atas perilaku menyimpangnya dalam bentuk HAM, Perlindungan Anak, Pengadilan dilarang untuk di bawah umur, LSM yang memanfaatkan kasus dan para pembela yang mencari popularitas,” ungkapnya.

Ia pun menilai, Pemerintah tidak amanah dalam melaksanakan  peraturan pemerintah tentang perlindungan guru.  “Unit kerja Perlindungan guru tidak ada dalam struktur pemerintahan,” bebernya pula.

Oleh karena itu, tegas Fathoni,  ADRI mengingatkan kepada Mendikbud yang baru supaya fokus pada persoalan guru yang sudah mulai dalam level darurat pendidikan, sesegera mungkin melajukan koordinasi dengan Komisi HAM, KPAI, Kapolri, Menkumham, Dirjen Guru, PGRI, PERGUNU, Organisasi profesi guru, ormas keagamaan penyelenggara pendidikan.

“Banyak guru yang lakukan solidaritas namun tidak mau demonstrasi karena masih kuat menahan kemarahanya, namun pelampiasannya adalah ada gerakan spontanitas ‘pembiaran perilaku menyimpang anak oleh guru’. Jika ini terjadi, maka strategi pelemahan SDM dalam perang warware akan terjadi,” paparnya sembari menambahkan, “Tanggung jawab pendidikan di negeri ini adalah Mendikbud”.

Sebagaimana informasi yang didapat obsessionnews.com, pada Rabu (10/8), sekitar pukul 10.00 WITA di SMK 2 Makassar, ada  guru dipukul orangtua murid yang mendatangi sekolah, karena tidak terima anaknya dihukum sama guru tersebut. Kejadiannya bermula murid itu tidak kerjakan tugasnya sehingga ditegur oleh gurunya. Namun, murid tersebut malah marah menendang pintu. Gurunya memarahi sang murid. Ternyata di murid itu pun mengadu kepada ayahnya lewat telepon, katanya dipukul sama guru. Bapaknya datang ke sekolah langsung cari guru yang bersangkutan dan memukuli sang guru tersebut hingga hidungnya keluar darah. Guru lari ke ruang kepala sekolah, tapi masih dikejar sama orang tua murid. Untung ada guru lain yang menahannya.

Dr Fathoni Rodli
Dr Fathoni Rodli

Dihajar Hingga Hidung Kucurkan Darah
Sebagaimana diberita Obsessionnews.com, guru SMKN 2 Makassar, Sulawesi Selatan, yang dianiaya itu bernama Dasrul (52 tahun). Dia menjadi korban kekerasan yang dilakukan orangtua siswa, Rabu (10/8/2016).

Hidung Dasrul mengucurkan darah setelah dihajar Adnan Achmad (43) yang merupakan orangtua siswa bernama Airul Aliq Sadang.

Suasana di SMK 2 Makassar itu sempat menimbulkan ketegangan karena para siswa yang emosi melihat gurunya babak belur sempat hendak ‘menghakimi’ Adnan. Beruntung sekitar pukul 12.00 WITA, sejumlah personil Polsek Tamalate tiba dan mengamankan Adnan.

Kejadian kekerasan itu bermula saat Dasrul menanyakan tugas PR yang diberikan kepada Airul. Karena tak mengerjakan tugas, Aliq pun ditegur oleh Dasrul.

Airul yang tidak terima ditegur gurunya lantas menendang pintu sambil mengucapkan kata-kata kotor, “sundala”. Kontan hal itu membuat Dasrul naik pitam hingga menampar siswa tersebut.

Airul langsung mengadu kepada orangtuanya. Tak berapa lama, orangtua Airul datang ke sekolah yang beralamat di Jalan Pancasila, Makassar itu. Awalnya, Adnan mencari kepala sekolah, namun tidak ketemu. Saat berjalan di koridor, dia bertemu Dasrul hingga terjadilah penganiayaan itu.

Kepala Sekolah SMKN 2 Makassar, Chaidir Madja mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan sanksi bagi Aliq. Sanksi bisa saja berupa pencoretan Aliq.

“Kami sudah menyiapkan sanksi tegas kepada siswa yang membuat keonaran di dalam lingkungan sekolah. Namun, tentu ke depannya kita lihat proses hukumnya seperti apa. Pasti ada saksi karena kan ada tata tertib di sekolah. Ada kategori-kategori tertentu,” kata Chaidir.

Sementara itu, pelaku penganiayaan, Adnan, mengaku berprofesi sebagai wartawan. Pengakuan itu diungkapkannya saat digelandang polisi ke Mapolsek Tamalate. Adnan mengaku bekerja di tabloid Berita Anti Korupsi atau yang biasa disebut BAK.

“Saya kebetulan dari media berita anti korupsi yang berkantor di Minasa upa Makassar, teman-teman media biasa sebut BAK,” kata Adnan.

Untuk menguatkan pengakuannya, Adnan juga mengeluarkan kartu identitas kewartawanan yang dipasang di saku baju. Tak hanya itu, Adnan juga mengaku merupakan alumni dari SMKN 2 Makassar tersebut. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.