Senin, 26 Oktober 20

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo
* Agus D.W Martowardojo.

Sebagai Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo memiliki pengaruh besar dalam mengatur pergerakan ekonomi di Tanah Air.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni 2017 sebesar 0,69%. Inflasi yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 H lebih terkendali dibandingkan Hari Raya Idul Fitri 1437 H tahun sebelumnya.

Berdasarkan catatan BPS, inflasi saat Lebaran 2014 yang terjadi pada Juli 2014 sebesar 0,93%. Lebaran 2015 terjadi di Juli dengan inflasi 0,93%. Selanjutnya di 2016, inflasi Juni 0,66% dan Juli 0,69%, sehingga jumlahnya 1,35%.

Perkembangan ini tidak terlepas dari kontribusi positif berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan koordinasi yang kuat dengan Bank Indonesia dalam menghadapi lebaran.

“Ke depan, inflasi akan tetap diarahkan agar tetap berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4,0±1%. Untuk itu, koordinasi kebijakan Pemerintah di pusat dan daerah dengan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi terus diperkuat,” ujar Agus.

BI bersama pemerintah juga meresmikan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang bertujuan untuk memberikan akses informasi harga pangan terkini bagi masyarakat dan sekaligus mendukung perumusan kebijakan pengendalian inflasi.

Neraca perdagangan Indonesia mencatat peningkatan surplus pada Juni 2017, yakni sebesar USD 1,63 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus Mei 2017 sebesar USD 0,58 miliar. Peningkatan surplus tersebut didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan menurunnya defisit neraca perdagangan migas.

Secara kumulatif Januari-Juni 2017, surplus neraca perdagangan tercatat USD 7,63 miliar, lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 4,13 miliar.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2017 tercatat USD123,09 miliar. Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2017 tersebut masih kuat untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” terang Gubernur BI periode 2013-2018 tersebut.

Guna memitigasi risiko perekonomian global tak menentu, di bawah nakhoda Agus, BI telah menyiapkan empat arah kebijakan makroekonomi pada tahun 2017.

Agus menilai dengan arah kebijakan yang akan diterapkan ini akan dapat menumbuhkan perekonomian nasional pada tahun-tahun ke depan. Menurutnya, untuk memperkuat peran permintaan domestik sebagai sumber kebutuhan ekonomi pemerintah harus dapat memitigasi pertumbuhan dengan permintaan domestik.

Pada tahun ini Indonesia harus mempertahankan stabilitas ekonomi dan sistem keuangan yang sudah terjaga serta menjadikannya sebagai pijakan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kemudian, langkah selanjutnya memperkuat struktur perekonomian melalui peningkatan daya saing perekonomian jangka menengah panjang. Serta pada kebijakan terakhir mengelola berbagai kebijakan agar tetap dalam koridor kebijakan makro ekonomi yang sehat. (Gia)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.