Jumat, 9 Desember 22

Golkar Kendaraan Jokowi di Pilpres 2019?

Golkar Kendaraan Jokowi di Pilpres 2019?
* Presiden Jokowi membuka Munaslub Golkar di Nusa Dua, Bali, Sabtu (14/5/2016).

Jakarta, Obsessionnews – Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar dengan agenda utama memilih ketua umum (ketum) di Bali Nusa Dua Covention Center telah berakhir Selasa (17/5/2016). Di luar dugaan tokoh  kontroversial, Setya Novanto (Setnov), terpilih menjadi ketum, menggantikan Aburizal Bakrie (ARB).

Menurut  Tri Joko Susilo, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI), di balik terpilihnya Setnov sebagai Ketum Golkar terdapat pertarungan besar.  Ada tiga kelompok utama yang memperebutkan Golkar. Pertama, keluarga Cendana, julukan populer bagi keluarga mantan Presiden Soeharto dan pendiri Golkar yang berdomisili di Jl. Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. “Keluarga Cendana merasa sebagai pemilik Golkar yang sah dan ingin come back,” kata Tri ketika dihubungi Obsessionnews.com  melalui telepon, Rabu (18/5).

Kedua, kelompok yang berkiblat ke Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Dan ketiga, kelompok yang berkiblat ke Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, dan ada indikasi juga berkiblat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kemudian pertarungan mengerucut ke faksi Ade Komaruddin (Akom) –JK  dan faksi Setnov- Luhut.  Tri mengatakan, kalau Akom yang menang maka JK akan memiliki pengaruh yang sangat besar di pemerintahan dan gayanya seperti di era SBY akan berulang kembali.

“Makanya ada indikasi Jokowi via Luhut mesti menahan gerakan tersebut dengan  merebut posisi ketum Golkar dan memasang Setnov,” ujar tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) besutan  Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto ini.

Kondisi kasus Setnov  yang diduga terlibat dalam kasus meminta saham PT Freeport yang mencatut nama Jokowi dan JK, atau yang terkenal dengan sebutan “papa minta saham”, kata Tri, maka Setnov sekarang tunduk  pada Jokowi.

“Dengan kemenangan Setnov itu,  maka posisi power Jokowi selaku Presiden akan semakin kuat. Apalagi Golkar telah resmi keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP), dan  KMP sudah pecah berkeping- keping,” ujarnya.

Tri menganalisa  ada permainan yang lebih seru lagi, yakni  posisi tawar Jokowi ke PDI-P akan semakin kuat.

“Selama ini  PDI-P mencoba mengendalikan Jokowi sebagai petugas. Tapi, PDI-P tidak berdaya menekan Jokowi,” katanya.

Ia menilai kekuasaan saat ini sudah semakin terpusat ke Jokowi.  “Jika PDI-P bertingkah kembali menekan Jokowi untuk maju ke Pilpres 2019, maka Jokowi bisa menolak, karena dia sudah memiliki dua kendaraan, yakni Golkar dan Nasdem,” pungkasnya.  (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Golkar Ditantang Juara Pilkada, Pileg dan Pilpres

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid

Ormas Tommy Soeharto Kecewa Akom Tidak Bertarung Sampai Akhir

Jadi Ketum Golkar, Novanto Tinggalkan Jabatan Ketua Fraksi

Akom Lempar Handuk, Novanto Ketum Golkar

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.