Rabu, 12 Agustus 20

Golkar Kalah Pintar dari Partai Demokrat?

Golkar Kalah Pintar dari Partai Demokrat?

Golkar Kalah Pintar dari Partai Demokrat?

Gara-gara kepentingan politik sesaat, Golkar dan PDIP harus  berseberangan.  Partai beringin yang biasanya jadi kaki tangan pemerintah, gara-gara diduga  tidak kebagian kue kekuasaan, sekarang menjadi oposan. Meskipun dalam undang-undang ketatanegaraan kita tidak mengenal oposisi, tetapi Partai Golkar ingin menjadi kekuatan politik yang berbeda dengan pemerintah, bahasa halusnya untuk mengkritisi pemerintah.

Dan karena di sisi lain PDIP adalah pendukung pemerintah, maka dua kekuatan besar itu berseberangan diikuti partai-partai yang lebih kecil, kecuali Partai Demokrat (PD). Partai ini terang-terangan menyatakan partai non blok, tidak berpihak dengan dua kubu tersebut. Pertanyaannya adalah siapakah yang paling diuntungkan dari pertikaian dua kubu tersebut? Dan siapa yang pintar?

Saya katakan dalam hal ini Golkar dan atau mungkin juga PDIP, kalah pintar—-bukan bodoh—-dibanding dengan PD. Mengapa? Lihat saja, partai ini mampu didikte oleh PD. Misalkan dalam soal pemilihan pimpinan DPR dan MPR, mestinya PDIP lebih berhak  mendapatkan  posisi itu karena mereka adalah  partai pemenang Pemilu. Nyatanya, yang dapat jatah malah PD yang hanya partai pemenang Pemillu nomor empat di bawah Gerindra. Ini terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang antara Golkar dan PDIP

Dalam perdebatan soal Pilkada langsung atau tidak, dan berbuntut kepada revisi undang-undang PIlkada yang melahirkan kemudian Pilkada tidak langsung.  Golkar dan PDIP ngotot mau agar pendapat merekalah yang benar. DI saat terjadi  ketegangan semacam itu, Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang waktu itu masih Presiden RI, tiba-tiba mengeluarkan Perppu Pilkada.

Di sini, kembali kedua partai harus bersitegang untuk mendukung atau menolak Perppu tersebut, dan tentu saja diikuti anggota kelompoknya. Di saat Golkar menyatakan menolak Perppu, kembali PD beraksi melalui Ketumnya SBY yang mendatangi Presiden Jokowi di Istana Negara. Kedatangan SBY ke Istana Negara inilah yang membuat Golkar harus memeras otak, serta mesti harus berubah haluan dari sebelumnya menolak Perppu menjadi pendukung Perppu.

Dan hebatnya SBY kepada pers setelah pertemuannya dengan Jokowi mengatakan, bahwa dia dan partai yang dipimpinnya tetap berdiri di tengah, tidak ngeblok mana pun. Ini artinya bahwa PD pintar sekali memanfaatkan situasi, dan  jeli menempatkan posisi agar dapat mengontrol dua kekuatan besar itu. Pertanyaannya siapakah yang pintar dan siapakah yang paling diuntungkan? Dan pendiktean semacam itu diyakini akan  terus berlanjut bila kedua partai besar itu tidak segera menyadari kekeliruannya.

Kondisi ini tentu berbeda dengan pepatah yang mengatakan  dua gajah bertarung pelanduk mati di tengah. Untuk keadaan ini lebih tepat jika disetarakan dengan istilah jika dua kekuatan besar bersiteru, maka orang ketigalah yang akan mengambil keuntungan. Karena itu, jika tidak ingin didikte pihak lain, maka baik Golkar ataupun PDIP bersatulah, jangan teruskan perbedaan pandangan yang sebenarnya tidak prinsip benar. Bubarkan koaliisi-koalisian, karena jelas sikap ini bertentangan dengan sila azas musyawarah untuk mufakat.

Jika keduanya mampu meredam ambisi-ambisi, dan kepuasan-kepuasan pribadi, pastilah PD atau siapapun tidak akan mampu menjadi semacang King Makers.  Dan tentu saja  yang lebih mengherankan adalah Golkar. Partai ini adalah partai besar, yang sarat dengan pengalaman, banyak sekali orang pintar. Mengapa kali ini mesti kalah pintar dibanding  PD ada apa? (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts