Jumat, 26 April 19

Golkar Ditantang Juara Pilkada, Pileg dan Pilpres

Golkar Ditantang Juara Pilkada, Pileg dan Pilpres
* Aburizal Bakrie (ARB) masih memegang kendali kepemimpinan Golkar.

Jakarta, Obsessionnews – Aburizal Bakrie telah melepas jabatan Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali Nusa Dua Convention Center, 14-17 Mei 2016. Ia digantikan oleh Setya Novanto. Namun, ARB masih memiliki pengaruh besar di partai berlambang pohon beringin ini, karena ia ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pembina.

Setya Novanto.
Setya Novanto.

Gokar pendukung utama pemerintahan Orde Baru (Orba) pimpinan Presiden Soeharto. Dalam struktur Golkar Soharto duduk sebagai Ketua Dewan Pembina yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Sedangkan ketum Golkar saat itu hanya sebagai boneka.

Soeharto yang berkuasa secara de facto tahun 1966 tak dapat mempertahankan kekuasaannya akibat gelombang unjuk rasa mahasiswa yang menuntut reformasi. Soeharto terjungkal dari kursi kekuasaannya pada 21 Mei 1998, dan berakhirlah Orba yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Wakil Presiden BJ Habibie naik kelas menjadi Presiden dan membentuk Kabinet Reformasi. Habibie melakukan reformasi di berbagai bidang, termasuk politik. Di bidang politik Habibie mengizinkan berdirinya partai-partai baru.

Sementara itu Golkar yang menjadi sasaran hujatan berbagai elemen masyarakat melakukan pembenahan. Dua bulan setelah tumbangnya Soeharto, Golkar  menggelar Munaslub di Jakarta, Juli 1998, untuk menggantikan Harmoko. Dalam Munaslub itu Menteri Sekrretaris Negara Akbar Tandjung yang didukung oleh pemerintah berhasil mengalahkan mantan KSAD Jenderal Edi Sudradjat.

Golkar di bawah kepemimpinan Akbar menghapus jabatan Dewan Pembina. Selain itu ia juga tak memasukkan nama anak-anak Soeharto dalam kepengurusan Golkar. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan inilah Golkar baru yang sudah tidak kaitannya lagi dengan Soeharto dan keluarganya.

Kini jabatan Dewan Pembina dihidupkan lagi di Munaslub Bali. Ini menunjukkan betapa piawainya ARB yang tetap berambisi menebarkan pengaruh di partai beringin. Ia sukses menempatkan orang kepercayaannya, Setya Novanto, duduk di kursi ketum.

Pengamat politik Denny JA mengatakan tantangan yang dihadapi duet Novanto-ARB adalah memenangkan Golkar pada perhelatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), dan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

NEXT, Tantangan sulit (Mission Imposible) Setya Novanto dan ARB: Golkar juara di Pilkada, Pileg, dan Pilpres 2019,” kicau Denny di akun Twitternya, @DennyJA_WORLD, Selasa (17/5).

ARB tak mampu membawa Golkar meraih kejayaan di Pileg 2014. Saat itu Golkar harus puas di peringkat kedua pemenang Pileg setelah PDI-P.  Dewi fortuna kembali enggan menghinggap di pohon beringin pada Pilpres 2014. Golkar tak mampu mengusung kadernya sendiri maju sebagai capres atau cawapres, karena suaranya tak mencukupi. ARB yang digadang-gadang menjadi capres terpaksa gigit jari. Upaya ARB ingin berduet dengan Joko Widodo (Jokowi) ditolak mentah-mentah oleh Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Gagal mendapat dukungan dari partai banteng, ARB lantas membawa gerbong Golkar bergabung dengan Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Lagi-lagi Golkar bernasib apes! Dukungannya terhadap Prabowo Subianto-Hatta Rajasa kurang signifikan. Terbukti yang keluar sebagai pemenang Pilpres adalah Jokowi-Jusuf Kalla (JK) yang diusung Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

Pasca Pilpres 2014, kursi ARB digoyang oleh tokoh-tokoh penyelamat Golkar yang antara lain dimotori Agung Laksono. ARB terpilih kembali sebagai ketum untuk periode kedua, 2014-2019 dalam Munas di Nusa dua, Bali, 30 November – 3 Desember 2014. Namun, Munas Bali itu tak diakui oleh kubu Agung. Kubu Agung kemudian mengadakan Munas tandingan di Ancol, Jakarta, 6-8 Desember 2014, dan Agung terpilih sebagai ketum.

Sial bagi ARB. Kepengurusan Golkar hasil Munas Bali tak diakui oleh pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Sebaliknya Kemenkumham mengesahkan hasil Munas Ancol. Kasus ini kemudian bergulir ke meja hijau.

Dualisme kepemimpinan di tubuh Golkar berdampak negatif pada Pilkada serentak 9 Desember 2015. Di Pilkada itu Golkar babak belur. Banyak kader Golkar yang gagal menjadi bupati, wali kota, dan gubernur.

Untuk  mengatasi konflik yang lebih dari setahun itu kubu ARB dan kubu Agung bersepakat menggelar Munaslub untuk memilih ketum periode 2014-2019. Dalam Munas di Bali 2016 jabatan Ketum Golkar diperebutkan delapan orang, yakni Setya Novanto, Ade omarudin (Akom), Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Airlangga Hartanto, Syahrul Yasin Limpo, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso.

Bakal calon ketua umum (bacaketum) harus memenuhi syarat mendapat dukungan 30% suara untuk lolos ke putaran kedua. Jika di putaran pertama hanya satu bacaketum yang mendapat dukungan 30% suara, maka dia yang terpilih menjadi ketum. Hanya dua orang yang mampu memperoleh dukungan lebih dari 30% suara, yakni Novanto dan Akom. Novanto memperoleh 227 suara dari total 554 suara, sedangkan Akom mendapat 173 suara. Sementara itu dukungan untuk enam bacaketum lainnya jauh di bawah 30%.

Dan terjadi kejutan. Akom melempar handuk alias menyerah, dan memberi jalan bagi Novanto menjadi ketum Golkar.(arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid

Ormas Tommy Soeharto Kecewa Akom Tidak Bertarung Sampai Akhir

Jadi Ketum Golkar, Novanto Tinggalkan Jabatan Ketua Fraksi

Akom Lempar Handuk, Novanto Ketum Golkar

Terpilihnya Setnov Jadi Langkah Mundur Golkar

Alasan Akom Dukung Novanto di Menit Akhir

Akom Serahkan Dukungan ke Novanto

Novanto dan Akom Lolos ke Putaran Kedua Pemilihan Ketum Golkar

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.