Minggu, 25 Oktober 20

Glenn Fredly dan Kematian

Glenn Fredly dan Kematian
* Glenn Fredly. (reqnews)

Oleh: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Keagamaan

Artis yang pernah menyakiti Habib Rizieq Shihab telah meninggal. Simpang siur penyakitnya ada yang bilang meningitis, tuberculosis, HIV, hingga covid 19. BNPB Ikut mempertanyakan pula. Apapun itu, nyatanya ia sudah berpindah alam lain. Semua yang dilakukan mesti dipertanggungjawabkan.

Kematian selalu menjadi pengingat meski tetap saja manusia banyak yang tidak mau ingat. Berenang di samudra yang dalam. Bermain main dan bersenang senang seakan tak bertepi. Kesadaran dan kewaspadaan dalam beribadah dan beramal itu semestinya dinilai penting. Toh jika sudah menghadapi kematian “mau lari kemana ?” tak ada arti kekayaan, tak bermakna kekuasaan, dan hilang popularitas atau tepukan tangan.

Di alam sana diputar semua pekerjaan dahulu baik atau buruk. Membuat bahagia atas kebaikan dan penyesalan atas keburukan. Ternyata jangankan di alam kematian, ceritra saat hidup kita pun kadang diputar ulang. Glenn Fredly saja ada yang berceritra tentang manisnya persahabatan atau bernyanyi bersama. Ada pula yang memutar kenyinyirannya pada tokoh agama.

Semua ceritra lalu itu tak mungkin dikoreksi oleh si meninggal. Ketika kematian Wakil Jaksa Agung akibat kecelakaan di jalan tol beberapa waktu lalu juga dikomentari. Yang positif soal tugasnya sedang mengusut korupsi Jiwasraya. Negatifnya seperti ungkapan advokat dan mantan anggota DPR Joko Edhi tentang perilaku korup suapnya saat menjabat Kajati Jawa Timur.

Begitu ceritra anak manusia yang telah meninggalkan dunia. Bisa dipuji atau dimaki. Karenanya kita semestinya memohon pada Allah agar di samping akhir hayat dalam keadaan yang baik, juga pekerjaan selama di dunia menjadi buah tutur kebaikan. Membuat tapak atau bekas yang memberi mashlahat.

Soal Glenn bukan masalah besar apalagi ia bukan muslim yang tentu di luar area keimanan muslim. Biarlah agama dan umatnya saja yang berbicara. Bagi kita hanya perlu mengingatkan bahwa kematian itu mesti diwaspadai. Kezaliman perilaku keseharian adalah kesia-siaan, bahkan penyesalan.

Mumpung masih diberi usia, kita tanam apa yang bisa ditanam. Soal memetik biar nanti saja. Yang jelas tanaman baik tidak akan diabaikan Allah. Jika diberi hasil di dunia sepatutnya untuk disyukuri.

Mari ingat kematian. Itu kehidupan masa depan yang panjang. Tanah dua meter dapat berbicara tentang ribuan kilometer ke belakang dan ke depan.

Bandung, 11 April 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.