Sabtu, 28 Mei 22

Gila! Capres Perancis Ini Janji Larang Hijab Jika Menang Pemilu

Gila! Capres Perancis Ini Janji Larang Hijab Jika Menang Pemilu
* Capres Perancis, Marine Le Pen. (AFP/CNN)

Edan! Salah satu calon presiden (capres) kuat Perancis berhaluan ekstrem kanan, Marine Le Pen, berjanji akan menerapkan larangan penggunaan hijab jika memenangkan putaran kedua pemilihan umum (pemilu) pada 24 April 2022.

Perempuan 53 tahun itu memandang kerudung sebagai “seragam kelompok Islam radikal”. Ia pun berencana menjatuhkan denda bagi warga Perancis yang memakai hijab di tempat publik.

Salah satu sekutu dekat Le Pen, Wali Kota Perpignan, Louis Aliot, menuturkan eks pasangannya itu akan “sedikit demi sedikit” menerapkan aturan melarang penggunaan hijab jika mengalahkan petahana, Presiden Emmanuel Macron, dalam putaran kedua pemilu.

Mengutip ucapan Le Pen kepadanya, Aliot memaparkan larangan hijab adalah salah satu dari beberapa alat politik untuk melawan “Islamisme” di Perancis.

“Namun, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap,” kata Aliot dalam sebuah wawancara dengan Radio France Inter pada awal pekan ini seperti dikutip Reuters.

Larangan hihab harus menargetkan layanan publik dulu pertama-tama sebelum diperluas sedikit demi sedikit, kata Aliot.

“Akan ada perdebatan di parlemen dan kemudian keputusan serta pilihan akan dibuat,” tambahnya.

Le Pen, Politikus dari partai Rassemblement National (National Rally), juga sebelumnya menilai jilbab tidak dapat dilihat sebagai tanda keyakinan seseorang terhadap agama.

Ia menilai penggunaan hijab harus dilarang dari kegiatan publik dan tempat umum Prancis.

“Orang-orang (yang berhijab) akan dikenakan denda sama seperti tindakan ilegal tidak memakai sabuk pengaman saat berkendara. Menurut saya, kepolisian bisa menegakkan aturan ini,” kata Le Pen seperti dikutip TRT World.

Le Pen selama ini dikenal sebagai politikus yang anti-Muslim dan anti-imigran Prancis.

Le Pen kembali bertarung head to head dengan Macron dalam putaran kedua pemilu 24 April nanti.

Pada 2017, pemilu juga didominasi persaingan Le Pen dan Macron yang dinilai sebagai perlombaan antara kaum sayap kanan vs sayap kiri Prancis. Namun, Macron akhirnya keluar sebagai pemenang.

Tahun ini, jajak pendapat terbaru juga masih menunjukkan Macron yang berpeluang lebih besar memenangkan pemilu.

Jajak pendapat Ipsos untuk France Info dan surat kabar Le Parisien yang diterbitkan pada awal pekan ini menunjukkan Macron masih unggul suara dengan 56 persen, naik 0,5 persen dari hari sebelumnya dan 3 persen dari total suara di putaran pertama pemilu.

Akibat suara yang tertinggal, Le Pen pun berupaya memperbaiki citranya dengan tak terlalu menggaungkan sentimen anti-Muslimnya selama kampanye.

Ia bahkan berulang kali menegaskan tak berniat menyerang kelompok tertentu.

“Orang-orang yang ada di wilayah kami, yang menghormati hukum kami, yang menghormati nilai-nilai kami, yang terkadang bekerja di Prancis, tak perlu takut dengan kebijakan yang ingin saya terapkan ini,” kata Le Pen kepada radio France Bleue.

Sementara itu, banyak pengacara, advokat, hingga aktivis menentang rencana pelarangan hijab Le Pen ini yang dinilai melanggar konstitusi Prancis.

Prancis memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa dengan 9 persen dari total penduduk atau sekitar 5,7 juta jiwa. (CNNIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.