Rabu, 8 April 20

Gibran dan Isu Dinasti

Gibran dan Isu Dinasti
* Sansulung Darsum. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Sansulung Darsum, Relawan Gibran Fansclub Indonesia (Gifansia)

Ketika tersiar niat seorang ayah muda bernama Gibran Rakabuming untuk mengikuti perhelatan demokrasi Solo-1, seketika itu pula muncul isu dinasti. Saya mau langsung to the point menguak barang seksi dalam atensi publik ini.

Dinasti adalah rentetan penguasa dari satu garis keluarga yang dijabat melalui pewarisan atau penunjukan dalam sistem feodal atau monarki. Masih ada definisi-definisi lain, tapi tak jauh-jauh dari definisi yang saya tulis itu.

Gibran Rakabuming (kanan). (Foto: dok. Sansulung Darsum)

Ayo kita bongkar!

Pertama, Gibran adalah putra Jokowi, Presiden Republik Indonesia dan mantan Wali Kota Solo. Hanya orang linglung yang sanggup menyangkal fakta gamblang terang benderang ini. Ini benar-benar barang seksi, kan? Semua mata akan menoleh ke isu ini.

Kedua, Jokowi tidak pernah menunjuk anak-anaknya untuk menempati posisi apa pun di kementerian ataupun lembaga-lembaga lain di lingkungan pemerintahan. Ini juga sebuah fakta gamblang terang benderang. Hanya orang bingung yang sanggup menyangkalnya.

Fakta ketiga, Gibran melaksanakan syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum. Dengan rendah hati dia sendiri bersilaturahim dan bertanya kepada pihak-pihak terkait. Bukan minta orangtuanya menggendongnya ke mana-mana dan ujug-ujug mencalonkan dia, seperti pak mantan pakar prihatin.

Maka beberapa partai lain mulai meliriknya. Akhirnya pimpinan PDI Perjuangan pun buru-buru menggandengnya untuk melihat-lihat kantor DPP.

“Ternyata partai ini tidak jadul-jadul amat,” simpul Gibran sehingga dia memutuskan untuk mencalonkan diri melalui PDI-P.

Nah, dengan fakta-fakta begitu, kok digosipkan dengan isu dinasti. Itu salah! Yang benar adalah dinanti. Gibran dinanti-nantikan oleh sekelompok anak muda Solo untuk tampil membangun kota Solo dengan sentuhan kepemimpinan anak muda.

Adalah Antonius Yoga Prabowo, pegiat Forum Muda Visioner dan legislator dari Partai Solidaritas Indonesia, yang terlihat aktif mengusung Gibran beberapa bulan ini bersama beberapa temannya di Solo. Sebut saja Ginanjar Rahmawan Sunarto, pemimpin muda di sebuah perguruan terkemuka di Solo. Dia segera membentuk organ relawan Koncone Gibran. Selain itu sudah ada Kancane Gibran Gess (Kagege) yang merupakan wadah bersama dari sekitar 20 organ relawan.

“Sebagai wakil anak muda, kami menaruh harapan besar, semoga Mas Gibran diberi amanah oleh Allah sebagai pemimpin percepatan pembangunan di Solo. Kami ingin Mas Gibran menjembatani anak-anak Solo untuk berkreasi di level nasional. Kami ingin UMKM Solo bisa tampil di etalase nasional. Kami ingin pendidikan di Solo maju seperti nasional,” cetus Ginanjar yang bersama Tim Koncone Gibran mengadakan doa bersama bagi Gibran pada Rabu, 11 Desember 2019.

Bukan dinasti, Gibran dinanti! Tapi, apa masalahnya?

Masalahnya adalah sebagian Jokower merasa harus menjaga image Jokowi. Pada musim kampanye pilpres lalu, mereka terlanjur mengatakan bahwa tidak ada anak Jokowi yang ikut berpolitik. Kalau sekarang realitanya begini, mereka galau karena seolah menjilat ludah mereka sendiri. Apalagi netizen, duh, apa kata lawan? Rasanya tengsin menghadapi ejekan lawan lama, hehehe.

Ya, itu saja sih masalahnya. Harus berpikir ekstra keras untuk menjawab serangan di media sosial.

Gibran sendiri mengakui bahwa dulu dia memang antipolitik, males urusan politik. Dulu dia beranggapan bahwa menjadi pengusaha itu bisa memberikan kontribusi ke masyarakat tanpa harus terjun ke politik. Ternyata tidak begitu.

Kenyataannya ada panggilan untuk melayani warga dan kota Solo secara lebih efektif.

“Kalau begini terus (menjadi pengusaha), orang yang bisa saya bantu, saya rangkul, ya cuma gini-gini aja. Sebagai pengusaha saya punya CSR les Bahasa Inggris gratis, muridnya sudah ribuan, ya cuma ribuan ribuan saja yang bisa dibantu. Kalau masuk politik, kalau di Solo ya (bisa bantu) 600 ribu orang,” katanya.

Tapi, kenapa musti sekarang? Tunggulah nanti setelah Jokowi tidak lagi menjadi presiden. Tentang hal ini, Gibran menjawab singkat, “Kelamaan.”

Ya, memang tidak semestinya kita mengorbankan potensi seorang anak muda hanya untuk menjaga citra ayahnya. Gibran sudah membulatkan tekad untuk menjawab penantian anak-anak muda. Tanpa difasilitasi oleh Jokowi. Tidak ada utusan Jokowi untuk membantunya. Apanya yang dinasti?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.