Sabtu, 4 Desember 21

Gertak Indonesia, PM Cina Kampret dan Sontoloyo

Gertak Indonesia, PM Cina Kampret dan Sontoloyo
* Perdana Menteri (PM) RRC Li Keqiang.

Jakarta, Obsessionnews.com – Demonstrasi bela Islam di Jakarta pada Jumat (4/11/2016) yang diikuti lebih dari sejuta orang merupakan unjuk rasa terbesar dalam sejarah Indonesia. Aksi tersebut menuntut aparat penegak hukum menangkap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang diduga menghina agama Islam.

Demo bela Islam di depan Istana Presiden menuntut Ahok ditangkap karena diduga menghina Islam dan Al-Quran, Jumat (4/11/2016).
Demo bela Islam di depan Istana Presiden menuntut Ahok ditangkap karena diduga menghina Islam dan Al-Quran, Jumat (4/11/2016).

Ahok yang beretnis Cina dan beragama Kristen Protestan tidak menyadari betapa sensitifnya mencampuri urusan agama lain. Ahok membuat umat Islam marah ketika ia menyinggung soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa, 27 September 2016. Ketika itu calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 itu antara lain menyatakan, “… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pernyataan sikapnya yang diteken Ketua Umum Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas pada Selasa (11/10), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Sehari sebelumnya Ahok meminta maaf kepada umat Islam. “Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa,” kata Ahok di Balai Kota DKI, Senin (10/10).

Kendati telah meminta maaf, umat Islam tetap menuntut Ahok harus diproses secara hukum. Apakah Ahok bersalah atau tidak, biar nanti pengadilan yang memutuskan.

Reaksi Cina

Demo 4 November di Jakarta yang berakhir kerusuhan mendapat perhatian dari Republik Rakyat Cina (RRC). Perdana Menteri (PM) RRC Li Keqiang bereaksi keras terhadap suhu politik yang memanas yang dikabarkan kenyamanan warga keturunan Cina yang ada di Indonesia.

Beberapa hari lalu Li Keqiang menggelar konferensi pers bersama para pejabat negara lainnya di kantor Perdana Menteri China, yang diliput stasiun televisi internasional. Dalam konferensi pers tersebut Li menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang terjadi di Indonesia. Ia juga menyayangkan etnis Cina kembali menjadi incaran adu domba oleh beberapa politikus Indonesia demi mengambil kekuasaan secara tidak sehat.

Li berharap pemerintah Indonesia bisa mengambil keputusan tegas dan bijak dengan apa yang terjadi saat ini. Dia sangat tidak menginginkan peristiwa kelam ditahun 1998 yang menjadikan etnis Cina sebagai korban terulang lagi di Indonesia. Karena, menurutnya, kejadian itu harusnya tidak boleh terjadi lagi di negara yang sudah memiliki banyak kemajuan dan perkembangan sedemikian rupa.

“Kami sebagai negara sesama Asia turut perihatin melihat ini. Saya berharap yang terbaik untuk Bapak Presiden Joko Widodo dapat segera menenangkan suasana dan menyelesaikan masalah ini dengan bijak dan mencegah aksi-aksi yang dapat memecah bela negaranya,” tuturnya.

Li menegaskan pemerintahan Cina tidak menghendaki peristiwa 1998 terulang lagi. Saat itu, katanya, banyak warga keturunan Cina diperlakukan secara kejam dan dibunuh.

Dan acara konferensi pers itu juga dimanfaatkan Li untuk menggertak Indonesia. Li memperingatkan jika pemerintah Indonesia gagal melindungi warga keturunan Cina, maka pemerintah Cina akan mencoba menaikkan banding ke Persatuan Bangsa-Bangsa untuk  mengirimkan pasukan pengamanan Cina ke Indonesia, demi memindahkan keturunan Cina di Indonesia.

Li juga mengancam akan memutuskan hubungan bisnis, perdagangan, dan bilateral dengan Indonesia.

Pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit.
Pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit.

Menanggapi gertakan PM RRC yang kampret dan sontoloyo itu, pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit, mengatakan kita harus pahami ini dalam kerangka persaingan geopolitik antara RRC versus Amerika Serikat (AS).

“Kalau Ahok terjungkal, RRC kehilangan agen lokalnya di Indonesia. Makanya soal peringatan PM Cina itu jangan diartikan sebagai peringatan serius. Pesan sesungguhnya yang mau dia kirim adalah bahwa menurunkan Ahok identik dengan rasisme. Padahal sama sekali bukan,” kata Hendrajit ketika dihubungi Obsessionnews.com, Selasa (8/11/2016). (@arif_rhakim)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.