Jumat, 7 Oktober 22

Gerindra dan Bayang-bayang ARB

Gerindra dan Bayang-bayang ARB

Gerindra dan Bayang-bayang ARB

Banyak orang terkesima atas prestasi Gerindra di Pemilu Legislatif (Pileg) yang lalu. Karena partai yang didirikan Prabowo Subianto ini berhasil meraih peringkat tiga. Unggul dibanding partai Penguasa, Partai Demokrat, PAN ,PKS, PPP, maupun PKB dan lainnya. Gerindra hanya kalah oleh PDIP dan Partai Golkar yang menduduki peringkat pertama dan kedua. Prestasi ini diakui atau tidak berkat performa Prabowo yang dinilai memiliki charisma sebagai seorang pemimpin,

Lantas apa hubungannya dengan Aburizal Bakrie (ARB)? Hubungan hirarki kepartaian sama sekali tidak ada. Kalau pun ada itu hubungan sejarah yang masih perlu diperdebatkan—sama-sama keturunan Golkar—Namun sejak Pemilu Presiden (Pilpres) lalu, tiba-tiba hubungan itu terjadi. Ini karena ARB kemudian mendukung pencapresan Prabowo, setelah dia gagal mendekati Jokowi yang kemudian terpilih jadi Presiden Republik Indonesia (RI) ke tujuh.

Hubungan tersebut semakin rapat setelah terbentuk Koalisi Merah Putih (KMP) yang anggotanya terdiri dari Gerindra, PAN, PKS, Partai Demokrat dan Partai Golkar. Semula PPP bergabung, tetapi setelah Suryaharma Ali lengser dari jabatan Ketua Umum. Partai tersebut kemudian berpaling ke Koalisi Indonesia Hebat (KIH).KMPdibentuk dengan tujuan menjadi penyeimbang pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK).

Dalam KMP ARB disebut-sebut semacam Ketua Presidium. Sejak itulah Gerindra diakui atau tidak seperti dibayang-bayangi ARB. Seolah olah semua kebijakan Gerindra harus sepengetahuan dan seijin ARB. Padahal seperti kita ungkapkan di atas bahwa hubungan hirarki kepartaian antara ARB dan Gerindra tidak ada. Namun kenyataannya kebijakan partai bahkan haluan partai sepertinya disetir ARB.

Dan ini sedikit terkuak dalam rekaman pengarahan seseorang yang suaranya mirip Nurdin Halid kepada para Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di Munas Partai Golkar ke IX di Bali.Jika faktanya benar begitu sungguh celaka Gerindra, karena partai yang cukup mendapat simpati dari masyrakat ini terpaksa harus menari di alunan gendang orang lain. Dan jika ini tidak segera disadari Prabowo maka jangan harap Gerindra dapat Berjaya di Pemilu 2019.Mengapa?

Satu hal yang perlu disadari bahwa dalam dunia politik tidak ada lawan abadi maupun teman sejati, yang ada hanyalah teman karena kepentingan yang sama. Ingat dulu Prabowo sempat bergandengan dengan Megawati, faktanya sekarang bersebrangan. Dulu bersama PDIP, Gerindra dan Hanura menjadi partai penyeimbang Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sekarang Gerindra malah berkoalisi dengan Partai Demokrat.

Sekarang ARB bergabung dengan Prabowo (Gerindra), tetapi belum tentu di Pemilu 2019 Partai Golkar dan Gerindra bisa maju bersama-sama. Koalisi boleh saja dibangun—permanent sekalipun—- tetapi siapa dapat menjamin bahwa itu akan abadi. Sebab hukum alam lah nantinya yang akan bicara, siapa kuat dialah yang akan menang. Misalnya, jiika Partai Golkar jadi pemenang Pemilu 2019 siapa dapat menjamin bakal mencalonkan Prabowo.

Perjanjian boleh saja dibuat, boleh kita tandatangani tetapi peluang untuk menghindari tanggungjawab atau konsekwensi dari masalah  tersebut sangatlah terbuka dan contohnya sangat banyak dan kejadiannya selalu terulang di dunia perpolitikan kita. Karena itu Gerindra mesti berpikir ulang agar tidak selalu barada di bawah bayang-bayang ARB. Gerindra harus mampu berjoget di musiknya sendiri. Tho, faktanya tanpa campurtangan ARB, Gerindra bisa mencapai prestasi yang membanggakan.

Dalam hal ini bukan berarti Gerindra harus keluar dari KMP, menjadi partai penyeimbang pemerintah kita anggap sangat perlu, biar pemerintah tidak melenceng terlalu jauh. Namun untuk menghindar dari baying-bayang ARB sangat perlu dikaji dan dipikirkan. Sebab semua partai pada intinya akan menjadi pesaing, “ musuh” dalam Pemilu nanti. Karena percaya diri dan menari di gendangnya sendiri sangatlah perlu. Silahkan dipikirkan! (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts