Sabtu, 24 Oktober 20

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat

Gerakan Islam dan Perang Generasi Keempat

Oleh: Nandang Burhanudin – Jakarta

Prof DR Roger Graudi, seorang filsuf Marxis Perancis yang telah menjadi Muslim menegaskan soal fenomena perang generasi keempat.

Menurutnya, perang Zero Capital alias Nol Modal akan digerakkan Barat untuk menghancurkan Islam dan umat Islam.

Cirinya: umat Islam saling terlibat konflik, lalu belanja persenjataan, lalu saling bunuh. Kemudian meminta Barat untuk menghentikan perang. Barat jelas menolak.

Perang nol modal, Barat sama sekali tidak mengalami kerugian. Malah mereka mendapatkan keuntungan berlipat dari bisnis senjata. Setelah itu mereka pula yang menikmati hasil.

Tengok perang di Syiria. Koalisi yang dipimpin Saudi kalah. Demikian halnya perang Saudi di Yaman. Saudi pun menyerah. Saudi makin malu dengan gagalnya mengembargo Qatar.

Saya menyebutnya, perang kesia-siaan. Ujungnya, Trump meraup ratusan milyar dollar dari bisnis persenjataan yang digunakan untuk membunuhi sesama bangsa sendiri.

Di kancah perpolitikan tanah air, nampaknya operasi generasi keempat ini masih canggih. Tengoklah cara mereka menghancurkan parpol berbasis massa Islam di Indonesia misalnya.

PPP, PKB, PAN, juga PKS. Mereka masuk menyusupkan agennya yang kemudian aktif menciptakan perpecahan. Sasaran ribut. Lalu meminta pengadilan menyelesaikan.

Kisruh di Golkar, PPP adalah contoh hangat. Ujungnya mudah ditebak. Kekuatan parpol tersebut goyah. KMP bubar. Lalu satu sama lain saling berlomba menjadi penjilat.

Galak terhadap internal umat. Husnuzhan pada eksternal adalah bukti kesuksesan perang generasi keempat. Teluk minus Qatar sangat galak pada HAMAS, tapi adem pada Israel.

Rerata perang generasi keempat sukses memunculkan rezim-rezim diktator, yang tak boleh disentuh kritik atau evaluasi. Baginya negara dan organisasi adalah warisan darah biru. Orang lain hanya penumpang.

Kesuksesan itu disebabkan terciptanya suasana risk averse, takut mengambil resiko. Nyaman berada di Comfort Zone. Semua berada di posisi safety player. Terlena pujian, lupa persiapan.

Alasannya apalagi kalau bukan hubbud dunya wakarahiyatul maut. AsSisi dan Jokowi nyaris tanpa perlawanan. Tapi Emir Tamim dan Tn. Erdogan memilih bangkit melawan.

Melawan atau tidak, ujung-ujungnya dihabisi. Percayalah, mereka tidak akan pernah membiarkan gerakan Islam membesar. Kisaran 2-7 % toleransi yang mereka berikan.

Jadi bagi gerakan Islam, sepatutnya menyiapkan diri; kenali musuhmu sebelum mengebiri saudaramu. Jika tak kenal musuh, siap-siap saja dipermainkan musuh. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.