Kamis, 21 Oktober 21

Gerakan HMI Harus Didukung Lewat Medsos

Gerakan HMI Harus Didukung Lewat Medsos
* Hariqo Wibawa Satria tengah memberikan materi di acara LK II HMI Cabang Jogja.

Jogjakarta, Obsessionnews – Perkembangan pesat teknologi informasi telah memengaruhi pola gerakan organisasi mahasiswa. Berangkat dari hal itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang ‎Jogjakarta mengadakan Latihan Kader II Tingkat Nasional dengan tema “New Media Sebagai Alternatif Gerakan HMI” di Kaliurang, Jogjakarta, 8-14 Maret 2016.

Kegiatan ini dihadiri 58 peserta yang dari 27 daerah, antara lain Aceh, Medan, Padang, Pontianak, Bangkalan, Gowa Raya, Kudus, Meulaboh, Bandung, Palembang, Samarinda, dan Malang.

Ketua Umum HMI Cabang Jogjakarta, ‎Syarifuddin El-Azizy, mengatakan, gerakan mahasiswa tidak berubah tujuannya, hanya caranya saja harus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Caranya, memanfaatkan media sosial untuk mendukung ide-ide organisasi.

“Aksi-aksi gerakan mahasiswa di lapangan, harus didukung oleh penggunaan media sosial yang efektif, sebab jika tidak gerakan mahasiswa akan ditinggalkan, kita harus belajar membuat konten selain tulisan yang dengan mudah bisa dipahami masyarakat,” ujar Aziz di Kaliurang, Jumat  (11/3) malam

Azis menambahkan, dengan aktif di media sosial gerakan mahasiswa akan banyak mengatahui apa yang dibicarakan masyarakat. “Kita tak boleh asik dengan apa yang kita pikirkan saja, kita harus tahu apa yang dibicarakan orang di medsos,” tambah pria asal Grobogan ini.

Sementara itu Hariqo Wibawa Satria, salah satu narasumber di acara tersebut, menjelaskan penggunaan media alternatif untuk berjuang banyak contohnya, Bung Hatta bersama teman-temannya di Perhimpunan Indonesia punya majalah Indonesia Merdeka dan Daulat Rakyat. Beda dengan gerakan mahasiswa sekarang, banyak yang tidak punya majalah, buletin, apalagi website dan media sosial (medsos).

“Ada dua sebab kenapa website dan medsos tidak optimal digunakan oleh gerakan mahasiswa, pertama karena ketua atau pimpinan organisasi itu merasa ini tidak penting. Kedua, tidak ada bidang atau tim khusus yang dibentuk mengurus ini,” jelas Hariqo.

Para peserta LK II HMI
Peseta latihan kader II Tingkat Nasional dengan tema “New Media Sebagai Alternatif Gerakan HMI” di Kaliurang, Jogjakarta, 8-14 Maret 2016.

Alumnus Pondok Pesantren Gontor ini mengapreasiasi website hmi cabang malang www.malang.hmi.or.id sebagai salah satu contoh website yang baik. ‎Dalam pengamatan Hariqo, kesadaran mengelola media alternatif di gerakan mahasiswa terjadi pada tiga momentum yakni pencalonan, pelantikan dan laporan pertanggung jawaban.

“Banyak yang hingga akhir kepengurusan belum juga punya website dan medsos, padahal saatpencalonan dan pelantikan berjanji akan bikin,” ujar Hariqo disambut tawa peserta.

Direktur Eksekutif Komunikonten ini melihat pada pada umumnya gerakan mahasiswa mengatasnamakan masyarakat dalam menyuarakan pendapatnya, namun dengan media sosial, masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung. Bedanya, dalam mengeluarkan pendapat dan membuat pernyataan sikap, gerakan mahasiswa umumnya melalui tahapan diskusi dan rapat pengurus.

Terkait apa saja yang bisa dilakukan di media sosial, Hariqo menyarankan sebaiknya organisasi mahasiswa membuat pedoman penggunaan medsos untuk jadi acuan. Media sosial bisa digunakan oleh gerakan mahasiswa diantaranya untuk menyampaikan kegiatan organisasi, mengkritik atau memberi masukan kepada pemerintahan, membantu dan membela masyarakat, mempromosikan produk lokal, pariwisata, kuliner, budaya Indonesia, memperjuangkan kepentingan nasional, dan lain-lain. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.