Sabtu, 25 September 21

Genghis Khan dan Burung Rajawali

Genghis Khan dan Burung Rajawali

Oleh: Ary Ginanjar Agustian, Motivator dan pendiri ESQ Leadership Center

Tahukah Anda sosok Genghis Khan? Seorang penguasa Mongolia yang ditakuti dan disegani. Di bawah kepemimpinannya, Khan berhasil membuat Kekaisaran Mongolia menjadi kerajaan terbesar di dunia. Khan terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam.

Di balik sikap bengis dan kejamnya seorang Genghis Khan, ia adalah sosok pemimpin yang sangat mempunyai rasa toleransi yang tinggi. Pada masa kekuasaannya, ia memberlakukan kode etik yang diberi nama “Yassa”. Isinya melarang hal-hal yang dianggap tabu seperti berzina, mencuri dan berbohong. Tidak seperti kerajaan lain. Khan adalah seorang pemimpin yang dapat mentoleransi perbedaan. Khan memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk menganut agama mereka sendiri dan menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing.

***

Pada suatu hari, usai mengikuti pertempuran yang hebat, Genghis Khan beristirahat sejenak melepas lelah di tepi air terjun kecil ditemani burung rajawali yang selalu mengikutinya. Sengaja ia mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari serdadunya agar ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa diganggu. Beberapa saat kemudian ia mulai merasa haus dan segera membawa wadah yang terbuat dari tanah liat untuk menampung air dari air terjun dekat tempatnya berteduh. Ketika ia hendak menampung air dengan mangkuknya itu tiba-tiba saja burung rajawali peliharaannya itu menyambar mangkuk tersebut hingga jatuh. Kaget ia dibuatnya, karen hal ini tak pernah dilakukan sebelumnya oleh rajawalinya yang setia.

“Sepertinya burung itu hanya mengajak bercanda di saat aku sedang lelah,” pikirnya dalam hati seraya kembali mengambil mangkuk yang terjatuh itu dan mencoba kembali menampung air dengannya.

Kemudian, untuk kedua kalinya sang burung rajawali peliharaannya menjatuhkan mangkuk yang dipegang sang panglima perang tersebut. Kali ini sang rajawali menghentaknya dengan sangat keras sehingga mangkuk tersebut terpental cukup jauh. Khan menjadi jengkel. Kalau sekali mungkin ini bisa dianggap bercanda, namun untuk yang kedua kalinya maka ini seperti pelecehan baginya. Dengan murka dirinya mengancam akan menyembelih burung rajawalinya jika hal itu dilakukannya lagi.

Lalu Khan memungut kembali mangkuk yang terbuat dari tanah liat itu untuk kembali mencoba menampung air dengannya. Baru saja ditengadahkan mangkuknya di bawah kucuran air terjun, sang rajawali tanpa terduga kembali menyambar mangkuknya dengan sangat keras hingga terpental jauh dan terpecah. Tak lagi menahan kesabarannya, diayunkan pedang perangnya ke arah burung rajawalinya hingga putuslah leher sang rajawali dan terlepaslah jiwa dari raganya.

Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Khan mencoba menaiki ujung tebing yang merupakan tempat sumber mata air itu berada untuk meminumnya dan sekaligus melihat-lihat keadaan sekitar.

Begitu ia sampai di atas, betapa kagetnya ia melihat ada bangkai binatang yang membusuk tergenang tepat di sumber mata air tersebut. Seketika ia menyadari bahwa sang rajawali sejak tadi sebenarnya hendak memberitahukan kepadanya bahwa air yang ingin diminumnya sudahlah tercemar bangkai yang membusuk dan bukan tak mungkin akan bisa membunuhnya.

Dengan sedih ia menatap ke arah mayat burung rajawali yang baru saja ditebasnya. Betapa sedih dan menyesalnya ia atas perbuatannya. Dihampirinya jasad sang rajawali, dilepasnya baju perang yang dipakainya untuk digunakan membungkus jasad sang rajawali dan kemudia dimakamkan dengan terhormat menggunakan upacara kemiliteran.

Sebagai panglima perang, Genghis Khan begitu hebat nan perkasa mengalahkan musuh-musuhnya, namanya tersohor di seluruh dunia. Bahkan hingga kini sejarah kehebatannya dan lekang dimakan usia.

Namun kehebatannya menaklukkan dan menguasai orang lain bukanlah jaminan baginya untuk dapat mengalahkan dan menguasai dirinya. Ia menyadari bahwa sangatlah penting baginya dan seluruh pasukannya untuk dapat menguasai dirinya sebelum menguasai orang lain.

***

Apa hikmah yang dapat kita simpulkan darin kisah Genghis Khan di atas? Ya…Hikmahnya adalah bagaimana cara kita untuk mengontrol diri dari berbagai emosi. Memang, fitrah manusia sejak lahir adalah bisa merasakan berbagai macam emosi seperti sedih, senang, marah takut, kecewa dan berbagai macam emosi lainnya. Munculnya emosi adalah sesuatu hal yang wajar.

Namun, emosi menjadi sangat tidak wajar ketika emosi sudah mengendalikan diri kita. Pada akhirnya, bukan kita yang mengendalikan emosi, namun emosilah yang akan menguasi diri kita. Banyaknya orang dengan emosi dan perilaku tidak baik, karena tidak seimbangnya IQ, EQ dan SQ. Sosok besar seperti Genghis Khan mempunyai Intellegence Qoutient (IQ) yang sangat tinggi, namun perangainya yang kurang baik disebabkan karena ia tidak memiliki kecerdasan Emotional Qoutient (EQ) dan Spiritual Qoutient (SQ).

IQ saja tidak cukup Anda miliki sebagai bekal hidup. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.