Jumat, 25 September 20

Generasi Milenial Tak Perlu Takut Jadi Petani, Peternak, dan Nelayan

Generasi Milenial Tak Perlu Takut Jadi Petani, Peternak, dan Nelayan
* Ilustrasi petani muda generasi mileneal.

Jakarta, Obsessionnews.com – World Resources Institute (WRI), Bank Dunia, dan UNDP telah mengingatkan ancaman krisis pangan dan bahaya kelaparan akan terjadi dalam tiga dekade mendatang. Perselisihan akibat perebutan akses sumber pangan diperkirakan memanas dan menyulut terjadinya perang di banyak tempat.

Konflik regional ini diduga kuat akan sulit terhindar dan memicu terjadinya banyak kematian. Sementara krisis air bersih, pemanasan global, dan iklim yang makin tak bersahabat ikut memperburuk keadaan.

Kekhawatiran itu mendorong sejumlah anak muda milenial mengambil inisiatif mengampanyekan pentingnya kemandirian dan ketahanan pangan melalui forum Pendaringan. Mereka mendesak agar semua pihak secara serius merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi krisis pangan, yang disebut para ahli, akan sangat sulit terhindar.

Aida Syamsuhadi yang menginisiasi terbentuknya Pendaringan menyebut negara-negara yang memenuhi kebutuhan pangannya melalui kebijakan import akan menjadi yang pertama-tama terkena dampak krisis pangan. Bahkan 10 tahun lebih awal dari negara-negara lainnya.

Menurutnya, keteledoran yang dipicu oleh kebijakan import yang serampangan bukan hanya menciptakan ketergantungan. Lebih buruk dari itu, import yang tak terkendali dicemaskan mengganggu kedaulatan dan ketahanan pangan untuk jangka waktu yang lebih panjang.

”Kita semua tentu ingin Indonesia secara fundamental kokoh. Sudah saatnya kita mengarahkan fokus perhatian pada penguatan sendi-sendi ketahanan pangan. Profesi petani, peternak, dan nelayan diakui amat penting, tapi ketiga profesi ini relatif belum cukup banyak merasakan kebijakan yang berpihak,” ujar Aida di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Sementara itu Nur Agis Aulia, seorang peternak muda yang ikut bergabung di Pendaringan, telah menggagas penyelenggaraan Kuliah Whatsapp (KulWA) yang ditujukan bagi para petani, peternak, dan nelayan. KulWA, harap Agis, tak hanya sekadar menjadi arena diseminasi pengetahuan atau tukar informasi dari mereka yang telah berhasil menorehkan banyak prestasi di sektor pangan.

Lebih dari itu, Ia menyebut, di forum ini pula petani, peternak, dan nelayan dapat berkonsolidasi dan mengorganisasi diri untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak. ”Pendaringan akan kami dorong sebagai tempat untuk mengadvokasi berbagai isu yang dianggap melemahkan kehidupan petani, peternak, dan nelayan di Indonesia,” jelasnya.

“Kami juga menyadari, di masa depan para petani, peternak, dan nelayan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Digitalisasi produk pertanian, misalnya, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan. Sekaligus juga upaya kami untuk memudahkan konsumen terhubung langsung dengan petani, peternak, dan nelayan,” tambahya.

Agis menerangkan, KulWA Pendaringan saat ini diikuti tak kurang dari 1500 peserta dari kalangan petani, peternak, nelayan, mahasiswa, dan umum yang tertarik dengan dunia pangan. Di luar peserta yang berasal dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, beberapa di antaranya juga berasal dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Korea, hingga beberapa negara di Timur Tengah.

Di kesempatan Kuliah WA Agis juga menyampaikan ajakan pada generasi milenial untuk menjalani profesi sebagai petani, peternak, dan nelayan. Melalui media sosial ia tengah mensosialisasikan tagar #2019JadiPetaniPeternakNelayan. Bukan tanpa alasan ia menyerukan ajakan tersebut. Sebab pertanian, peternakan, dan sektor perikanan sudah menjadi bahan pokok.

”Selama kita masih belum mampu mengonsumsi plastik, mengunyah batu, atau menelan besi, maka selama itu pula profesi petani, peternak, dan nelayan akan selalu dibutuhkan. Saya ingin memberikan manfaat bagi sesama, karena itu saya mengajak kita semua jadi petani, peternak, dan nelayan,” tandasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.