Rabu, 27 Oktober 21

Gelar Pahlawan Nasional untuk Lafran Pane

Gelar Pahlawan Nasional untuk Lafran Pane
* Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lafran Pane.

Oleh: MHR. Shikka Songge,  Ketua Istana Watch

 

Penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Pak Lafran Pane, Penggagas dan Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 5 Februari 1947, bukan untuk dibanggakan melainkan untuk disykuri. Bhw Pak Lafran adalah manusia biasa yang berfikiran besar, dan penggagas masa depan. Setiap karya besar, visioner dan mensejarah adalah hanya dimiliki oleh segelintir orang yang terdidik dan berkesadaran tinggi melampau zamannta. Pak Lafran Pane satu diantara segelintir anak bangsa yang sezamannya, ia termasuk pemilik kategori diatas. Pak Lafran yang mengurai dan melukiskan HMI di atas kanfas sejarah gemilang bagi perjalanan peradaban negeri ini.

Pak Lafran memiliki ide besar, brelian, dan sangat kuat mempengaruhi arah perubahan Indonesia. Setiap ide besar, kuat dan berpengaruh itu, digambarkan oleh al Quran seperti Pohon yang tumbuah kuat, akarnya menghujam ke dalam bumi, batangnya tegap dan kokoh, memiliki dahan ranting yang lentur, berdauan, berbunga dan berbuah lebat enak dimakan atas izin Allah (Quran surat ibrahim 34). Bila Pak Lafran tidak memiliki cita cita yang benar, baik dan kuat, tentu HMI tidak sebesar ini dan mungkin bisa jadi sdh bubar dan berantakan. Saya kira Pak Lafran pada saat mendirikan HMI tentu tidak pernah memikirkan bahwa kelak dia harus mendapat gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintahan Republik Indonesia. Tapi inilah ikhtiar peradaban Pak Lafran, dg mendirikan HMI dan HMI begemuruh dan membumi di sepanjang bumi para luhur di nusantara, sejarahpun mentaqdirkan Pak Lafran memperoleh anugerah Gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintahan RI.

Sepengelihatan dan sepengatahuan saya, Pak Lafran, sosok yang amat berintegritas. Antara niat, fikiran, peryataan dan tindakan sesuatu yang amat menyatu dlm pribadi Pak Lafran. Kesederhaannya adalah realitas keseharian Pak Lafran. Bila beliau hendak ke Kampus untuk menemui mahasiswa atau mengajar beliau cukup naik sepeda ontel, atau naik angkutan kampus. Di rumah jabatan Pak Lafran (kompleks IKIP Karang Malang Yogyakarta) tidak ada kursi sofa, yang ada hanya kursi rotan yang sdh tua. Bahkan pada saat ia menerima gaji sebagai anggota DPA di akhir masa jabatan Presiden Soeharto, Pak Lafran bingung menerima gaji yang melampaui batas kebutuhannya. Pak Lagran sosok langka, kesederhanaan itu telah menginstitusi menjadi cara pandang dan etitude atau prilaku hidup.

Satu hal penting yang perlu dicatat dari integritas Pak Lafran, ia tidak mempengaruhi setiap kebijakan organisasi HMI meskipun ia pemerkarsa dan pendiri organisasi yang didirikan 2 thn setelah Indonesia merdeka ini. Saat kongres HMI di asrama haji Pondok Gede Jakarta, 1990, kebetulan saya ikut menemani Pak Lafran saat menunaikan shalat jumat dan yang berkhotbah hari itu MS. Kaban juga salah satu kendidat terkuat selain Ferry Mursyidan dan M. Yahya Zaini. Usai kami shalat sambil jalan balik Pak Lafran berkomentar “Merugilah Bila Kongres ini Tidak Memilih MS Kaban”. Boleh jadi Pak Lafran tertarik mengakui kefasehan dan kehebatan MS Kaban ketika berkhotbah pada jumat tadi. Apalagi kongres ini diharapkan menjadi jalan rekonsiliasi antara HMI Dipo dan HMI MPO. Tapi memang Pak Lafran tidak ingin mempengaruhi kejernian kongres dan independencia HMI sehingga pada akhirnya kongres secara mayoritas memenangkan Ferry Mursyidan Baldan sebagai Formature Ketua Umum untuk periode 1990 – 1992.

Hemat saya, gelar Pahlawan itu layak dan lumrah bila Negara yang memberikan pada seorang putra bangsa yang telah berkhidmat untuk ibu pertiwi. Dan HMI yang diprakarsai Pak Lafran sejak berdirinya hingga saat ini telah berkiprah, berdedikasi, berkhidmat untuk negeri yang besar ini dg beragam keahlian, profesi, jabatan di semua level di tanah air tercinta ini. Semua itu tercatat oleh tintas emas dlm sejarah HMI, bhw anak anak bangsa dari seluruh penjuruh tanah air, dicetak dan godok melalui mesin perkaderan HMI. Mesin itu bekerja secara terorganisir dan terstruktur yang sanggup melahirkan potret anak anak bangsa yang memiliki platform ke Islaman dan Indonesiaan yang integralistis. Nilai keislam dan keindonesiaan itu terinstitusi menjadi platform atau cara pandang setiap anggota HMI. Keislaman dan keindinesian menjadi identitas kedirian setiap generasi autput perkaderan HMI. Olehnya pantaslah bila kenudian Prof. Dr. Deliar Nur salah seorang mantan Ketua Umum PB HMI mendeklarasikan dirinya sebagai Kader Ummat dan Kader Bangsa. Artinya dimensi spiritual maupun konseptual keummat dan kebangsaan itu menginternalisasi pada setiap kesadaran fikir dan gerak mahluk yg bernama kader HMI.

Peran HMI yang terpenting mewijudkan Lima kualitas insan cita. Insan acedemis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernafskan islam, insan yang bertanggung jawab atas terbentuk masyarakat adil makmur yang diridlohi Alla swt. Dengan begitu setiap kader HMI sanggup menjahit jaringan Kesatuan NKRI dg mendasari konsepsi ideologis Islam dan ke Indonesiaan yang tumbuh subur di seluruh pelosok negeri ini. Di mana bumi tempat anak anak HMI menanamkan kaki untuk berkhidmat. Dimana tempat kader HMI berkhidmat disitu tertanam dan tumbuh spirit Ke Islam dan ke Indonesiaan. Sehingga eksistensi HMI Bagai Pohon bersenyawa dg tanah dimanapun ia tumbuh.

Saya kira orang orang bijak di negeri ini tentu mengerti betul cetak biru dan pergumulan internalisasi HMI seperti keberadaan HMI saat ini, bagai pohon tumbuh subur menjadi pelindung lingkungan strategis dan kebudayaan sosial di Indonesia. Apalagi HMI terlahir beririsan dg rasa kekecewaan tokoh tokoh islam di BPUPKI atas hilangnya 7 kata dlm piagam Jakarta. Sebagai activis di zaman revolusi Pak Lafran tentu merasakan denyut kekecewaan para tokoh tentang nasib umat islan dan bangsa ini di masa depan. Itulah kaitan ideologis, benang mereh pendirian HMI dg para tokoh pejuang kemerdekaan. Identitas Keislaman dan Keindonesiaan kader HMI merupakan mendat ideologis dan kontiniutas perjuangan para tokoh islam agar HMI selalu menjadi faktor perekat dan mengintegrasikan antara ajaran agama islam dan Negaran RI.

Perlu penegasan agar tidak terjadi kesalafahaman konteks, bhw penganugerahan seorang Putra Bangsa menjadi Pahlawan Nasional termasuk Pak Lafran Pane ini bukan kewenangan Presiden Joko Widodo tetapi kewenangan negara sesuai mekanisme perundang undangan yang berlaku. Melalui usulan dan kajian sehingga Tokoh Lafran Pane layak dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Apalagi Kahmi telah menggelar 27 kali kajian acedemis di 27 Universitas di Indonesia, para rektor meangapresiasi dan mengakui keunggulan Pak Lafran melau kiprah HMI. Dan proses ini sdh lama dipersiapkan. Jadi bukan sertamerta menjadi kehendak politik Joko Widodo.

Dan hal penting yang harus digarisbawahi bhw penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Pada Pemarkarsa dan Pendiri HMI Prof. Drs. Lfran Pane, bukanlah merupakan hadiah politik Presiden Joko Widodo untuk HMI. Tetapi memang pantas Gelar Pahlawan itu diberikan Pada Pak Lafran karena Peran besar yang telah ditorehkan HMI untuk negeri ini.

Tugas HMI kedepan tidak hanya mencetak pahlawan pahlawan perubahan yang terus mengawal relasi islam dan Indonesia, tetapi harus sunggup membendung arus migrasi liberalisme politik dan kapitalisme ekonomi yang berwatak ekpansif itu. Dan terus berikhtiar untuk menjadikan perkaderan sebagai instrumen untuk melahirkan Pemimpin Bangsa dan Negara di Masa Depan. (***)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.