Kamis, 28 Januari 21

GCI Desak MA India Batalkan UU Diskriminatif atas Muslim!

GCI Desak MA India Batalkan UU Diskriminatif atas Muslim!
* Protes RUU Kewarganegaraan India yang singkirkan Muslim. (thehindubusinessline)

Anggota Dewan Garda Konstitusi Iran atau Guardian Council Iran (CGI) melayangkan surat kepada mahkamah Agung India untuk meminta agar ketentuan hukum yang diatur dalam konstitusi India diberlakukan untuk memungkinkan pencabutan hukum diskriminatif terhadap umat Islam.

Menurut laporan IRNA, Hadi Tahan Nazif, anggota ahli hukum Dewan Garda Konstitusi Iran dalam surat yang dikirimkan kepada Sharad Arvind Bobde, Ketua Mahkamah Agung India menulis, “Beberapa berita dan gambar yang dikirim dari India ke komunitas internasional saat ini adalah gambar kekerasan dan pencabutan hak asasi manusia seperti hak untuk hidup.”

Tahan Naziv menekankan bahwa pemerintah India tidak diragukan lagi akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah perang agama seraya menjelaskan, “Citra yang ada dalam pikiran rakyat India tidak lain adalah kedamaian dan kehidupan damai para pengikut berbagai agama dan kelompok.”

Anggota Dewan Garda Konstitusi Iran mencatat dalam surat itu, undang-undang reformasi kewarganegaraan yang diadopsi pada Desember 2019 tampaknya memuat pasal-pasal diskriminatif terhadap umat Islam, termasuk bertentangan dengan hak atas persamaan dan kewarganegaraan, yang sejalan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan berbagai instrumen hak asasi manusia, termasuk butir 1, 2 dan 15 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, butir 2 dan 26 Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik, serta Pasal 14 dan 15 Konstitusi India yang secara tegas menegaskan hak warga negara atas kesetaraan.

Di bawah Undang-Undang Reformasi Kewarganegaraan India, pencari suaka dari Bangladesh, Afghanistan, dan Pakistan di India yang memasuki negara itu tanpa dokumen yang sah sebelum 2015 dapat memperoleh kewarganegaraan India, tetapi hukum tersebut tidak berlaku untuk Muslim.

Sementara itu, umat Hindu ekstremis menyerang umat Islam, menghancurkan masjid-masjid di timur laut New Delhi dan menargetkan lingkungan Muslim dengan bom bensin.

Kerusuhan Delhi memaksa ribuan umat Muslim meninggalkan rumahnya masing-masing. Kerusan yang terjadi pada Senin (24/2) itu membuat mereka takut untuk kembali ke rumah.

Seperti dikutip CBS NEWS, Imran Khan, seorang buruh berusia 30 tahun, menceritakan bagaimana sekelompok massa di Timur Laut Delhi menyerangnya tanpa ampun. Ia meceritakan kejadian yang menimpa dirinya itu terjadi pada 24 Februari ketika pulang dari tempat pekerjannya.

Imran Khan menceritakan, saat itu yang pertama kali gerombolan massa itu lakukan adalah meminta identitas dirinya. “Tujuannya untuk mencari tahu apakah saya beragama Hindu atau Muslim,” katanya.

Ketika Imran Khan mengatakan namanya, yang umum di antara muslim asia selatan, gerombolan massa itu mulai memukulilnya dengan tongkat dan batang besi.

Imran menceritakan, ia sempat mencoba mengajak mereka bicara. Akan tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan mereka malah mengejeknya lalu gerombolan itu merampas barang yang dibawa Imran. “Sementara beberapa dari mereka memakan buah yang saya bawa pulang untuk anak-anak,” katanya.

Imranmengatakan, gerombolan itu memukulinya tanpa ampun. Sehingga membuatnya kehilangan kesadaran. Katanya, ketika dia sadar, dia mendapati dirinya di selokan drainase dengan tali diikat di leher.

“Barangkali mereka mengira saya sudah mati setelah mereka menenggelamkan saya ke saluran pembuangan,” katanya.

Saat ini Imrah ditampung di sebuah kamp bantuan kemanusiaan di daerah Mustafabad di Delhi. Saat ditemui wartawan kepala Imran masih dibalut perban dengan 32 jahitan untuk menutupi lukanya. “Hanya tuhan yang menyelamatkanku.”

Pasca bentrokan, kini Imran bergabung di antara ribuan orang tinggal di kamp-kamp bantuan darurat. Kamp ini didirikan untuk mereka yang selamat dari kerusuham sektarian bulan lalu di ibukota India.

Kekerasan ini setidaknya menewaskan 53 orang dan lebih dari 200 orang terluka. Kekerasan yang dialami warga Muslim kamarin itu terjadi pada tanggal 24 Februari setelah malam ada kunjungan presiden Donald Trump ke India, ketika para pendukung undang-undang kewarganegaraan baru yang kontroversial, dilihat banyak kalangan sebagai diskriminasi terhadap populasi Muslim minoritas di negara itu, yang ditentang oleh masyarakat.

Bentrokan terjadi setelah sedikitnya seorang politisi Hindu memperingatkan polisi India dalam pidato publik bahwa jika mereka tidak menghentikan protes terhadap undang-undang yang baru itu, ia dan yang lain-lain akan melakukan kekerasan terhadap Muslim.

Gerombolan orang yang bersenjatakan tongkat besi, tongkat, bom molotov dan senapan buatan sendiri menyerbu beberapa perkampungan, membunuh orang-orang, mendirikan rumah, toko, dan mobil. Dua minggu kemudian, lebih dari 5.000 Muslim menemukan diri mereka tinggal di setidaknya tiga kamp darurat.

Kumpulan tenda tersebut penuh sesak dan kurang fasilitas dasar untuk sanitasi dan kebersihan. Situasi itu sungguh berbahaya di tengan wabah coronavirus global.

Lebih dari 1.500 orang, kebanyakan berasal dari daerah Shiv Vihar di Delhi yang menyaksikan aksi kekerasan terburuk kini tinggal di kamp Mustafabad. (ParsToday/Rep)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.