Minggu, 5 Februari 23

Gawat, Utang Luar Negeri US$316 Miliar!

Gawat, Utang Luar Negeri US$316 Miliar!

Jakarta, Obsessionnews – Tekad pemerintah untuk mengurangi utang luar negeri, tidak terbukti sama sekali. Bukannya berkurang, malah nambah. Sampai akhir triwulan I-2016 utang luar negeri US$316,0 miliar atau Rp4.202 triliun. Malah naik 5,7% secara tahunan (yoy).

“Namun ULN Indonesia relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan ULN pada akhir triwulan IV-2015,” demikian dikutip dari laman Bank Indonesia (BI), Rabu (18/5/2016).

Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka panjang tercatat meningkat, sementara ULN jangka pendek menurun.

Berdasarkan kelompok peminjam, ULN sektor publik tercatat meningkat, sementara ULN sektor swasta menurun.

Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan I-2016 tercatat sebesar 36,5%, sedikit meningkat dari 36,0% pada akhir triwulan IV-2015.

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang.

baca juga:

Ini Catatan Utang Luar Negeri RI

Utang Luar Negeri Turun

BI: Hutang LN Sudah ‘Lampu Merah’

ULN berjangka panjang pada akhir triwulan I-2016 mencapai US$277,9 miliar atau 87,9% dari total ULN atau Naik 7,9% (yoy), namun lebih lambat dari pertumbuhan triwulan IV-2015 yang sebesar 9,2% (yoy).

Di sisi lain, ULN berjangka pendek pada akhir triwulan I- 2016 tercatat sebesar US$38,1 miliar atau turun 8,4% (yoy), namun lebih lambat dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan triwulan IV 2015 yang sebesar 13,7% (yoy).

Dengan perkembangan tersebut, kemampuan cadangan devisa untuk menutupi kewajiban jangka pendek membaik, tercermin pada rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa yang turun dari 36,7% pada triwulan IV-2015 menjadi 35,5% pada triwulan I-2016.

Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN sektor swasta.

Pada akhir triwulan I-2016, posisi ULN sektor publik sebesar US$151,3 miliar atau 47,9% dari total ULN, sementara ULN sektor swasta mencapai USD164,7 miliar atau 52,1% dari total ULN.

ULN sektor publik meningkat menjadi 14,0% (yoy) pada triwulan I-2016 dari triwulan sebelumnya mencapai 10,0% (yoy), sementara ULN sektor swasta turun 1,0% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 2,3% (yoy).

Pada sektor swasta, posisi ULN pada akhir triwulan I-2016 terutama terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,1%.

Bila dibandingkan dengan triwulan IV-2015, pertumbuhan tahunan ULN sektor keuangan dan pertambangan tercatat melambat, sementara pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas & air bersih mengalami peningkatan.

Bank Indonesia memandang, perkembangan ULN pada triwulan I 2016 masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi,” pungkas bank sentral. @reza_indrayana

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.