Rabu, 27 Oktober 21

Garam Impor Banjiri Pasar, Susi: Sekalian Saja Petani Tidak Usah Bekerja

Garam Impor Banjiri Pasar, Susi: Sekalian Saja Petani Tidak Usah Bekerja

Jakarta, Obsessionnews – Pemerintah sebenarnya sudah mengalokasikan dana hampir Rp600 miliar yang diperuntukkan bagi penambahan lokasi produksi, pembelian teknologi serta penyerapan garam rakyat. Namun pada kenyataannya, jumlah impor garam tidak juga menyusut.

Pada 2014, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, jumlah impor garam mencapai 2,2 juta ton dan tahun ini sudah 405 ribu ton.

Anggaran sebanyak Rp 600 milyar tersebut, Rp 280 milyar untuk meningkatkan produksi petani dan pemberdayaan petani. Sementara Rp 300 milyar lainnya, merupakan suntikan modal dari Kementerian BUMN untuk penambahan lokasi produksi, pembelian teknologi, serta penyerapan produksi petani.

Susi menyebutkan, guna menjaga harga garam produksi petani, pihaknya sudah menggelar rapat dengan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan importir garam termasuk asosiasi garam. Rapat tersebut, menghabiskan waktu sekitar enam jam. Namun sayang, tidak ada solusi terbaik yang dihasilkan.

Susi menilai, meski pihaknya berupaya membuka jalan demi swasembada garam, tapi ternyata importir enggan bersikap serupa.

“Kami ingin membuka jalan untuk swasembada garam tapi ternyata importir enggan memberi goodwillnya,” jelas Susi di kantornya di Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut para importir seperti dituturkan Susi, kualitas dari produksi petani belum sesuai kebutuhan industri. Tapi pada kenyataannya, garam untuk kebutuhan konsumsi juga diimpor dari Australia dan India.

“Saya merasa keinginan negara tidak dihargai oleh para stakeholder. Yang repot saat musim panen petani lokal, impor juga masuk. Ditambah garam impor juga beredar di pasar,” kata Susi.

Keuntungan impor garam memang luar biasa. Makanya, para importir seperti ketagihan dan terus melakukannya hingga tidak menghiraukan produksi dalam negeri.

“Betul garam Australia itu sangat murah karena itu garam turunan. Makanya sangat murah. Juga ongkos angkutnya lebih murah ketimbang dari Sampang (Madura). Ini persoalan karena tol laut kita belum juga selesai. Kalau tetap banjir, suruh saja petani berhenti bekerja. Rp 600 milyar kita bagi-bagikan saja dari pada tidak berguna. Tapi kan tidak bisa begitu,” jelas Susi.(Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.