Kamis, 25 April 24

Ganjar ‘Anakronistik’ Pranowo

Ganjar ‘Anakronistik’ Pranowo

Oleh: Zeng Wei Jian, Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Jawa Tengah provinsi ketiga terpadat. Jantungnya budaya Jawa. Bersemboyan: Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja. Ironis, di sana ada 4,4 juta orang masuk kategori super-miskin.

Ada 32 pahlawan nasional asal Jawa Tengah. Dari “Nyi Ageng Serang” sampai “Mangkunegara I”. Gubernurnya: Ganjar Pranowo. Gubernur Top. Namanya beredar di Facebook, Twitter, Instagram dan koran. Kadang kontroversial. Dia punya acara talkshow sendiri.

Ganjar dan Ahok punya follower sama. Orangnya itu-itu aja. Dia lagi, dia lagi. Modusnya ngga berubah: suka nge-bully.

Ganjar seorang ekstrovert. Suka ngomong. Blak-blak’an. Ekspresif. Baginya, politik adalah masalah pencitraan. Hobi tampil di depan kamera. Ckrak-ckrek. Sedikit humoris. Kontroversial. Dia memiliki “rambut profesor” dan hati-rocker. Penyuka musik, tapi ngga bisa nyanyi. Tone-deaf. Buta nada. Kaya Ahok, suara Ganjar masuk kategori fals.

Sekali pun Jawa Tengah dikenal sebagai daerah batik, Ganjar suka pake kaos oblong. Ganjar bikin gaduh setelah dia pake kaos bergrafiti “Asuuh Kuabeh“.

Marissa Haque memberi teguran via twitter. Publik merasa Ganjar insensitif. Ganjar menilai cara berpikir Marissa tidak cerdas. In other words, dalam bahasa rockers, Marissa Haque Go-Block.

Di Jawa Tengah, masih banyak rakyat miskin. Pencari kayu bakar, buruh tani, kuli panggul dan sebagainya. Ganjar malah sibuk meraih gelar “Gubernur Millenial”. Ganjar dadi absurd yo.

Selain absurd, Ganjar mesti dapet “anakronistik” as his middle name. Dia heboh bersosial-media di saat kemiskinan masih bercokol di angka 13% lebih. Bagi saya, itu irrasional. Entah, berapa banyak orang bisa beli android dan ngisi kuota dengan UMR 1,5 juta rupiah. Bahkan listrik masih sulit di beberapa dusun Jawa Tengah.

Sebagai Rocker wannabe, Ganjar sibuk googling mencari tau siapa “Via Vallen”. Dia ngga mau kalah dengan ABG yang sedang heboh lagu reggea-dangdut “Bojo Galak”.

Tapi alas, Ganjar ngga bersusah payah browsing cari tau solusi kemiskinan.

Padahal di daerah “Plesungan”, ada keluarga Tri Budiyanto tinggal di atas pohon. Saat Ganjar asyik-asyikan nonton konser “Dream Theater” (progresif heavy-metal band), di kolong Kali Cenang, sepasang suami-istri “Harsono” dan “Triyani” makan kadal dan minum perasan air tebu dari kebun tetangga selama dua bulan.

Mungkin ini salah satu alasan “Sudirman Said” paksakan diri nyagub. Dia ngga tega lihat keluarga “Pa Sokeh” dari Brebes yang sudah setahun makan nasi aking seharga 2.500 rupiah per kilo.

Jelas, Twitter Ganjar Pranowo tidak mampu menzooming wong kere.

THE END

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.