Kamis, 23 September 21

Ganggu Olimpiade Tokyo, Berjuta Tiram Harus Dibuang Meski Dimakan Enak

Ganggu Olimpiade Tokyo, Berjuta Tiram Harus Dibuang Meski Dimakan Enak
* Arena ini digunakan balap dayung dan kano selama Olimpiade.Tokyo. (Foto : Getty/BBC)

Berton-ton atau jutaan tiram (sejenis kerang) sebagai makanan enak dan sangat populer di Jepang terpaksa dibuang, karena mengganggu arena Olimpiade Tokyo. Mengapa tiram membahayakan arena Olimpiade Tokyo? Ternyata, berton-ton tiram menempel di alat apung dan menyeret alat itu ke bawah laut.

 

Peralatan dalam jumlah besar untuk angkut dan buang tiram. (Foto : BBC)

 

Di Tokyo, para pejabat Jepang sedang harap-harap cemas saat menyoroti salah satu arena utama Olimpiade. Mereka khawatir masalah yang telah lama mereka hadapi akan muncul lagi.

Tak tanggung-tanggung, dana darurat sebesar lebih dari US$1 miliar (Rp14,5 miliar) sudah terkuras demi menuntaskan masalah besar berwujud tiram.

Masalahnya berada di bawah perairan Sea Forest Waterway di Teluk Tokyo.

 

Tiram sangat populer di Jepang.(Foto : Getty)

Kawasan ini akan menjadi arena cabang olahraga kano dan dayung. Berdasarkan peraturan internasional, alat apung harus dipasang untuk mencegah gelombang yang mengganggu para atlet.

Namun secara misterius, alat apung itu tenggelam, dan dua pertiga di antaranya tak tampak lagi dari permukaan.

Pemerintah kota Tokyo yang bingung segera melakukan penyelidikan dan menemukan akar masalahnya – tiram, dalam jumlah yang sangat banyak. Berton-ton tiram menempel di alat apung dan menyeret alat itu ke bawah laut.

Masalah akibat masakan enak yang terpaksa dibuang
Menyelesaikan masalah ini merupakan tugas besar. Peralatan sepanjang 5,6 kilometer harus diangkut dan diperbaiki, atau dibersihkan di tempat oleh para penyelam.

Secara total, sebanyak 14 ton tiram yang harus dibuang. Tiram ini bukan sembarang tiram. Warga setempat menyebutnya magaki, menu yang sangat populer selama musim dingin di Jepang.

Namun, makanan enak dari panen tambahan ini sayangnya terpaksa dibuang.

“Kami tak mempertimbangkan untuk mengonsumsi tiram-tiram ini,” kata salah seorang anggota tim kepada surat kabar Asahi.

“Langkah itu memerlukan pemeriksaan keamanan,” tambahnya.

Sayang sebenarnya karena tiram-tiram itu dapat terjual sekitar puluhan ribu dolar.

Cerita lama Tokyo
Tokyo bermula dari satu desa nelayan kecil dan makanan laut adalah hal yang sangat lumrah.

Namun Tokyo tak lagi menjadi produsen utama makanan laut sejak banyaknya industrialisasi di kota itu dan semakin padatnya penduduk di abad ke-20.

Namun dengan banyaknya perubahan di kawasan pinggir laut dalam beberapa tahun terakhir – sejumlah besar tanah direklamasi dari laut, fasilitas industri dan pelabuhan dibangun dan kemudian dinonaktifkan. Pihak berwenang tampaknya tidak mengantisipasi bahwa tiram akan kembali dalam jumlah yang begitu besar.

Itulah masalah yang dihadapi di Sea Forest Waterway – kawasan yang dianggap sebagai simbol bahari masa lalu Tokyo – dan satu-satunya kawasan dayung di negara itu yang memenuhi standar internasional.

Dengan anggaran sebesar US$1.5 juta (hampir Rp 22 miliar) setahun untuk pemeliharaan begitu Olimpiade selesai, pemerintah Jepang tampaknya perlu mencari penyelesaian jangka panjang guna menangani masalah tiram yang menguras anggaran ini. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.