Sabtu, 25 September 21

Freeport Berharap Kembali Diizinkan Ekspor Mineral

Freeport Berharap Kembali  Diizinkan Ekspor Mineral

Jakarta – PT Freeport Indonesia berharap izin ekspor mineral segera keluar pada Agustus ini menyusul tercapainya kesepakatan renegosiasi kontrak karya dengan pemerintah.

Menurut Presiden Direktur Freeport, Rozik B Sutjipto, akibat larangan ekspor yang diberlakukan sejak 12 Januari 2014, ekspor mineral perusahaan tersebut pada semester pertama langsung anjlok dibandingkan periode yang sama setahun lalu.

Hingga saat ini, lanjut Rozik, kinerja Freeport belum optimal, karena belum mendapatkan izin ekspor mineral dari pemerintah. Dia berharap, bulan ini izin ekspor segera keluar menyusul tercapainya kesepakatan renegosiasi kontrak karya dengan ditandatanganinya nota kesepahaman amendemen kontrak pertambangan pada akhir Juli.

“Kita harapkan izin keluar bulan ini, seiring kesepakatan renegosiasi kontrak karya yang ditandai dengan MoU amendemen kontrak pertambangan pada Juli lalu,” ujar Rozik di Jakarta, Senin (4/8), seperti dilansir Ipotnews.

Berdasarkan laporan Freeport MacMoran, produksi tembaga Freeport Indonesia hingga akhir Juni 2014 mencapai 262 juta pound atau turun sekitar 26,8 persen dibanding periode yang sama setahun lalu, sebesar 358 juta pound. Sedangkan produksi emas tercatat sebesar 350 ribu ounce atau naik dua persen dibandingkan semester pertama 2013 yang mencapai 343 ribu ounce.

Sedangkan penjualan hingga semester pertama 2014, tembaga mencapai 226 juta pound atau turun 36,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 356 juta pound. Sedangkan penjualan emas hingga semester pertama sebanyak 297 ribu ounce atau turun 13 persen dibanding 2013 yang mencapai 342 ribu ounce.

Akibat pelarangan ekspor sejak awal tahun, Freeport Indonesia menerapkan perubahan operasi untuk menyelaraskan produksi konsentrat dengan rencana operasi PT Smelting. Sehingga, tingkat penggilingan (milling) Freeport Indonesia rata-rata hanya 102.900 metrik ton bijih per hari pada kuartal kedua 2014 dan mencapai rerata 110.400 metrik ton bijih per hari hingga semester pertama 2104.

Hal ini berdampak pada terjadinya penangguhan produksi sekitar 150 juta pound tembaga dan 240 ribu ounce emas di kuartal kedua 2014, serta 275 juta pound tembaga dan 380 ribu ounce emas selama enam bulan pertama tahun ini.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.