Jumat, 25 September 20

Foto Pornografi FH Adalah Opini Jahat yang Menyesatkan

Foto Pornografi FH Adalah Opini Jahat yang Menyesatkan
* Firza Husen (FH) (Foto: liputan6.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Banyak pemberitaan yang beredar secara liar tentang kasus dugaan pidana dengan tersangka Firza Husen (FH). Menanggapi hal tersebut Kuasa Hukum FH yakni Azis Yanuar menyatakan sikap atas posisi kliennya itu.

Azis menegaskan, terkait foto-foto dan chat yang beredar di internet diduga mengandung unsur pornografi yang melibatkan nama dan foto atau gambar mirip FH itu tidak benar. Bahwa FH tidak pernah membuat, menyimpan dan menyebarkan foto atau Whats App (WA) chat yang berisi konten pornografi.

“Keterangan FH ini sudah dituangkan ketika pemeriksaan di Kepolisian atau dalam BAP yang merupakan dokumen hukum,” ujar Azis dalam keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Dengan demikian, lanjut Azis, apabila ada pihak-pihak yang masih tetap menyebarkan informasi bahwa FH yang membuat dan menyebarkan, maka informasi tersebut adalah informasi yang bersifat non yuridis formil dan opini jahat yang menyesatkan.

Dia menjelaskan, barang bukti hand phone (HP) dan WA chat yang digunakan sebagai alat bukti dalam pemeriksaan dan penyidikan tindak pidana dimaksud telah disita pada saat penangkapan terkait tindak pidana makar pada tanggal 2 Desember 2016.

Sehingga content pornografi yang beredar luas baik dalam bentuk chat maupun foto diduga terkait dan mirip FH  muncul setelah HP dan WA disita pihak kepolisian.

“Dan merupakan hasil “case building” dari pihak penyidik yang semula menyidik tindak pidana makar terhadap FH,” Azis menerangkan.

Menurutnya, foto yang beredar selama ini yang juga digunakan sebagai objek untuk diperiksa sebagai barang bukti menjerat FH dalam kasus dimaksud ini sudah merupakan hasil editing yang dibuktikan dengan ada beberapa icon di beberapa bagiannya.

“Oleh karenanya perkara ini jelas dibangun dengan menggunakan foto dan fake w.a chatting hasil proses editing,” jelas Azis.

Untuk itu, selaku kuasa hukum FH, Azis melihat bahwa kasus ini sarat dengan rekayasa dan bemaksud untuk menciptakan sensasi publik dengan tujuan utama untuk menghancurkan kredibilitas Habib Rizieq Sihab (HRS) dengan menyeret-nyeret kliennya agar terlihat seolah logis.

“Tujuan utama perkara ini menghancurkan kredibilitas HRS adalah untuk meruntuhkan kepercayaan umat terhadap HRS agar tidak lagi mampu memimpin untuk menyuarakan kritik umat terhadap jalannya roda penyelenggaraan negara,” katanya.

Sikap anti kritik dari penguasa inilah yang kemudian menjadikan aparat penegak hukum melakukan Abuse of Power untuk membungkam pihak yang kritis melalui rekayasa hukum dan menjadikan hukum sebagai alat represi.

Menurut Azis kuat dugaan terhadap adanya politik balas dendam oleh para penguasa modal yang selama ini memback up berbagai kemaksiatan dan kerusakan serta kelompok yang berambisi menguasai Indonesia melalui kekuatan modalnya dengan cara mengadu domba berbagai elemen bangsa.

Kelompok penjajah pemecah belah bangsa dengan mengembangkan issue intoleran dan radikalisme ini menggunakan tangan oknum aparat negara yang berhasil dibeli dengan menjadikan umat islam dan ulama sebagai target kriminalisasi.

“Sebagaimana yang dulu pernah dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap para pejuang yang melawan penjajahan Belanda,” ungkapnya.

Ironi hukum yang paling buruk dalam UU pornografi adalah dengan menjadikan korban tindakan penyebaran pornografi sebagai tersangka. “Apalagi mengkriminalisasi seseorang dengan content porno hasil editing atau rekayasa dari orang yang tidak bertanggung jawab,” ucap Azis.

Untuk itu, Azis meminta kepada aparat penegak hukum  harus bertindak adil dan menjalankan asas Equality Before The law, bersikap profesional, modern dan terpercaya. (Poy)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.