Sabtu, 18 September 21

FKKPI : Jenis Perang Baru Lebih Bahaya daripada Agresi

FKKPI : Jenis Perang Baru Lebih Bahaya daripada Agresi
* Ponco Sutowo dalam diskusi panel kedua bertemakan Menggalang ketahanan nasional untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa di Jakarta Convention Center, Sabtu (6/5/2017). Foto : Popi

Jakarta, Obsessionnews.com – Salah satu sebab dari dalam runtuhnya bangsa dan negara adalah kegagalannya dalam mencapai tujuan pembentukan bangsa dan negara itu. Baik dalam bidang kesejahteraan maupun dalam bidang keamanan.

Sedangkan salah satu penyebab dari luar adalah adanya invasi, agresi, atau serangan militer dari sebuah atau juga koalisi negara negara lain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Putra Putri TNI-POLRI (FKKPI), Ponco Sutowo dalam diskusi panel kedua bertemakan Menggalang ketahanan nasional untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa di Jakarta Convention Center, Sabtu (6/5/2017).

“Sesungguhnya modern war, war by proxy, atau asymmetric warfare Ini jauh lebih berbahaya daripada invasi, agresi dan serangan militer konvensional,” kata Ponco.

Modern war, war by proxy, atau asymmetric warfare merupakan jenis perang baru saat ini. Dimana kekuatan angkatan perang beserta kekuatan cadangannya sama sekali tidak mampu untuk menghadapi serangan jenis baru ini.

Ponco yang juga Ketum Aliansi Kebangsaan ini memaparkan, dalam modern war ini negara aggressor tidak melancarkan invasi yang biasa disebut hard power. Tetapi akan melakukan serangan non militer yang lazim disebut sebagai soft power.

“Seluruhnya bertujuan untuk menundukkan negara yang diserangnya itu secara halus dan tidak terasa, sehingga secara lambat laun negara tersebut takluk dan kehilangan kemerdekaaannya,” ucapnya.

Beberapa contoh dari modern war, lanjutnya, adalah memberikan hutang yang sangat besar kepada suatu negara, sehingga negara tersebut tidak sanggup untuk membayarnya.

“Contoh lain, merusak generasi muda, aparatur pemerintah, politisi, pemimpin masyarakat, atau penegak hukum dengan memasukkan candu, narkoba atau zat adiktif lain dalam jumlah besar,” tegasnya.

Menurutnya, doktrin dan pertahanan Indonesia sudah outdated, ketinggalan zaman dan harus dibenahi. (Popi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.