Kamis, 12 Desember 19

Fenomena Anak-anak Biologis Bung Karno

Fenomena Anak-anak Biologis Bung Karno
* Bung Karno bersama istri dan anak-anaknya.

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

 

Fenomena anak-anak biologis Bung Karno, termasuk kontroversi Sukmawati, sebenarnya juga nggak ubahnya seperti fenomena anak-anak biologis tokoh nasional lainnya. Hanya saja ada yang ekstrem kayak Sukma, ada yang biasa biasa saja. Namun sebenarnya tidak kalah memprihatinkan. Hanya saja dalam konteks yang berbeda.

 

Fenomena anak-anak biologis Bung Karno, termasuk kontroversi Sukmawati, sebenarnya juga nggak ubahnya seperti fenomena anak-anak biologis tokoh nasional lainnya

Apa fenomena yang saya maksud di sini? Para putra-putri biologis ini memang begitu bangga pada orangtuanya, tapi nggak menghayati seluk-beluk impian, cita-cita, obsesi, dan panggilan jiwa bapak atau ibunya, sewaktu berjuang dulu. Sehingga sebagai ahli waris, para putra dan putri biologis ini cuma menghargai hal-hal fisik peninggalan orangtuanya. Seperti rumah, jabatan yang disandangnya, popularitas orangtuanya, dan sebagainya.

Giliran menyangkut hal-hal non fisik atau rohani dari peninggalan orang tuanya seperti buku-buku, barang-barang bersejarah yang melekat pada diri orang tuanya kala dalam masa perjuangan, mereka sepertinya setengah hati. Orang Jawa bilang, nggak open. Nggak pedulian.

Maka tak jarang dalam kesejarahannya, prakarsa untuk mendirikan perpustakaan atau museum dalam rangka mengenang reputasi dan jasa-jasa orang tuanya, lebih banyak diprakarsai oleh para murid atau kader-kader binaannya, ketimbang putra-putri biologisnya. Yang mana para putra putri biologisnya itu selalu tolok ukurnya adalah kemampuan finansialnya. Begitu kemampuan finansialnya dirasa memberatkan, mereka mundur teratur. Bahkan dalam beberapa kasus, dengan sengaja menutup perpustakaan atau museumnya. Dengan alasan nggak ada dana atau duitnya.

Putra-putri biologis itu sama sekali tidak tergerak atau terpanggil untuk memprakarsai semacam fund raising untuk menggalang dana abadi agar museum dan perpustakaan orang tuanya bisa tetap bertahan, tak lekang oleh zaman.

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.