Senin, 9 Desember 19

Fakta-fakta Menarik Suku Badui yang Jarang Diketahui Orang

Fakta-fakta Menarik Suku Badui yang Jarang Diketahui Orang
* Sukui Badui Dalam. (Foto: Tukangjalan)

Jakarta, Obsessionnews.com – Banyaknya suku dan budaya di Indonesia menjadi kekayaan yang ternilai harganya bagi bangsa ini yang patut disyukuri dan dijaga. Menurut sensus BPS tahun 2010, terdapat sekitar 1.340 suku bangsa di tanah air kita ini. Suku Jawa menjadi suku terbesar di Indonesia kemudian Suku Sunda, Mandura, dan Minang.

Di pulau Jawa sendiri terdapat beberapa suku, selain suku Jawa dan Sunda, ada juga Suku Badui. Meski dibilang punya banyak kesamaan dalam hal bahasa dengan Suku Sunda. Namun Badui tergolong suku sendiri. Mereke hidup di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Orang Badui berpegang teguh pada cara hidup tertutup, mereka terlepas dari godaan dunia modern. Namun, justru inilah yang menjadi daya tarik suku Badui bagi pengunjung atau turis. Penasaran seperti apa orang Badui dengan kesehariannya?

Simak di bawah ini fakta-fakta unik tentang Suki Badui.

1. Taat pada aturan yang ditetapkan Pu’un (Kepala Suku)

Suku Badui menyebut diri mereka sebagai Urang Kenekes. Urang berarti orang dalam bahasa Sunda, Kenekes adalah wilayah suci mereka yang terletak di Gunung Kendeng daerah Banten selatan Jawa. Secara etnis, Badui milik kelompok etnis Sunda. Sifat rasial, fisik, dan bahasa mereka sangat mirip dengan orang Sunda lain. Perbedaannya terletak pada cara hidup. Mereka selalu mematuhi semua kebiasaan dan aturan yang yang ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Suku). Kepatuhan ini bersifat mutlak untuk kehidupan bersama.

Ed Davies dalam Reuters tahun 2008 menyebutkan, meskipun mereka dekat dengan ibu kota Indonesia, orang Badui sekaligus juga tinggal di dunia yang seolah jauh karena mereka hidup dalam pengasingan yang hampir total. Hal ini disimpulkan setelah mengamati kebiasaan di suku Badui yang melarang menggunakan sabun, mengendarai kendaraan, bahkan mengenakan sepatu. Beberapa antropolog berpendapat bahwa mereka adalah keturunan imam dari kerajaan Hindu Jawa Barat Padjajaran dan berlindung di bukit-bukit batu kapur tempat mereka sekarang tinggal, setelah menolak masuk Islam pada abad ke-16.

2. Tidak bisa dimasuki paham agama atau kepercayaan lain

Sampai kapan Badui hidup dalam pengasingan belum dapat dipastikan, namun adanya suku ini sebenarnya berawal dari peleburan agama Hindu & Budha. Brigitte Cavanagh menulis dalamCultural Survival Quarterly pada 1983, orang Badui hidup dalam interaksi dengan dunia luar yang begitu dikontrol. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan tradisi kelompok mereka dan untuk melawan Islamisasi.

Kemampuan Badui untuk mempertahankan citra misterius mereka dengan membatasi komunikasi dengan dunia luar menjadi kekuatan. Mereka enggan berhubungan dengan orang asing dan tertutup tentang sifat tradisi mereka. Mereka dikenal di Jawa karena memiliki kekuatan gaib dan mereka memperkuat reputasi ini.

Masih sedikit yang mengetahui latar belakang budaya mereka, kecuali agama yang mencerminkan unsur Hindu dan Budha. Kisah perlawanan terhadap Islam diceritakan dalam berbagai legenda lokal, yang menempatkan asal Badui pada abad ke-16, saat Padjajaran di Kerajaan Sunda jatuh ke tangan penakluk Muslim.

3. Badui dalam dan Badui luar

Masyarakat sosial Badui terdiri dari Badui Luar dan Badui Dalam. Keduanya punya kesamaan dan perbedaan dalam menjalankan aturan adat.Badui Dalam adalah kelompok yang masih memegang teguh adat dan menjalankan segala aturan dengan baik.

Sedangkan untuk Badui Luar, sedikit banyak telah terpengaruh oleh budaya luar. Penggunaan barang elektronik dan bahan-bahan kimia kemasan yang dilarang di Badui Dalam, mendapat izin dari ketua adat yang disebut Jaro pada Badui Luar.

Kemudian, Badui Luar juga menerima kunjungan tamu baik itu penduduk Indonesia maupun mancanegara. Mereka cukup terbuka, hal ini tampak dari bagaimana mereka menyambut tamu untuk masuk bahkan menginap di tempatnya. Salah satu ciri khas yang melekat kuat adalah dominasi warna gelap pada Badui Luar, sebaliknya Badui Dalam lebih sering memakai baju warna putih.

Kesamaan keduanya dapat dilihat dari cara mereka bertahan hidup. Baik Suku Badui Luar maupun Dalam sama-sama punya pekerjaan sebagai petani. Inilah yang membuat hasil alam berlimpah, sehingga dapat dinikmati sehari-hari.

4. Tata cara pernikahan, politik, dan hukum masyarakat Badui

Dalam prosesi pernikahan, pasangan Badui dikenal menikah dengan cara perjodohan. Orangtua laki-laki akan menjalin hubungan dengan orangtua wanita dan memperkenalkan anak mereka masing-masing. Setelah sepakat, mereka melakukan tiga langkah penyiangan untuk menyelesaikan.

Langkah pertama, orangtua pria akan pergi ke Jaro (Kepala Desa) dengan daun pinang. Kemudian membawa barang-barang seserahan yang di dalamnya terdapat cincin baja putih sebagai mas kawin. Setelah itu, ada beberapa alat untuk rumah tangga dan pakaian upacara pernikahan untuk wanita.

Masyarakat Badui memilih pemimpin dengan kriteria yang sudah tua dan paling bijak dalam membawakan sukunya menjadi sukses. Mereka hanya memilih berdasar kriteria itu, tidak ada promosi pemimpin sampai kampanye seperti masyarakat di negara pada umumnya.

Kemudian untuk hukum adat, sama seperti suku lainnya, mereka memiliki bagian sendiri untuk mengurusi orang-orang yang melanggar aturan adat. Hukuman diberikan berdasarkan kategori pelanggaran yang sudah disepakati dari leluhur, mulai dari pelanggaran serius sampai ringan.

5. Terbuka dengan masyarakat luar

Meski memiliki aturan adat yang ketat, suku Badui terbuka terhadap pengunjung atau turis yang ingin mempelajari kebudayaan mereka.Suku Badui memang tergolong kokoh menjalani kehidupan berdasarkan aturan adat yang kuat dan tertutup dari dunia luar.

Namun, mereka masih melakukan kegiatan sehari-hari dengan ramah dan mau saling menghormati budaya lain. Suku Badui saat ini lebih terbuka, terlebih untuk Badui Luar. Bagaimana mereka menjalin hubungan baik dengan penuh kedamaian begitu kental terasa. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.