Sabtu, 21 Mei 22

Fahri Ributkan Istilah ‘Publik’ Jokowi

Fahri Ributkan Istilah ‘Publik’ Jokowi
* Fahri Hamzah.

Jakarta, Obsessionnews – ‎Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mempertanyakan, pertayaaan Presiden Joko Widodo menyikapi sidang kasus pelanggaran kode etik Ketua DPR Setya Novanto di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Jokowi berharap MKD bisa memberikan putusan yang objektif dengan didasari alat bukti dan keterangan saksi-saksi yang ada serta mendengar kemauan publik. ‎Namun, Fahri mempertanyakan, publik mana yang dimaksud Jokowi.

“Kalau saya dengar suara publik NTT kemarin, marah Novanto diganti. Publik mana yang didengar, Pak Jokowi? Kalau publik NTT saya dengar kemarin enggak setuju Pak Nov diganti atau dihukum,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/12/2015).

Fahri justru menyalahkan Jokowi. Menurutnya, Pernyataan tersebut bisa disebut bagian dari intervensi yang bisa mempengaruhi putusan MKD yang akan dibacakan pada Rabu siang ini.

“Kalau kita mau lobi-lobi, ya di ‘belakang layar’ saja. Jangan membuat pernyataan publik yang menekan, yang meminta, dan sebagainya,” kata politisi PKS itu.

Politisi PKS ini mengingatkan, DPR punya fungsi Legislasi, anggaran dan pengawasan. Bila Jokowi terlalu mendikte proses sidang di MKD, justru fungsi legislatif menjadi terbalik menjadi pengawasan. ‎

“Ini adalah puncak dari hubungan kenegaraan dari dua kelembagaan yang sangat kasar dan terlalu vulgar. Kita sudah menjaga ini dengan baik, tetapi rupanya publik-publik figur di pihak eksekutif ini sudah terlalu vulgar. Mudah-mudahan ini disadari. Sebab, kalau tidak, politik kita bisa runyam,” kata dia.‎ (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.