Selasa, 21 September 21

Fahri Hamzah Isi Seminar Nasional di UIN Sumut

Fahri Hamzah Isi Seminar Nasional di UIN Sumut

PRESS RELEASE
Fenomena Hari Ini Adalah Wujud Dari Kegagalan Mengelola Kompleksitas

Medan – Ratusan mahasiswa memenuhi Aula Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara (Sumut), Rabu (31/5/2017). Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang juga tokoh Reformasi 98 dan tokoh pemuda Islam Indonesia datang ke kampus tersebut dalam rangka mengisi acara Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Medan.

Nampak Asisten II Gubernur dan Wakil Rektor UIN mendampingi Fahri Hamzah diatas podium membahas tema “Pemuda dan Kepemimpinan Masa Depan”. Dalam sambutannya, Ketua KAMMI Medan menyatakan bahwa Fahri Hamzah disambut hangat di Sumatera Utara. Fahri, kata aktivis Medan adalah salah satu idola mereka. Aktivis muda hari ini belajar bannyak dari Fahri Hamzah tentang idealisme dan kekritisannya dalam menyikapi masalah rakyat.

Fahri Hamzah menjelaskan tentang tiga hal berkaitan dengan tema Seminar. Pemuda, Kepemimpinan dan Masa depan. Ia urai dalam konteks Indonesia. Fahri katakan, pemuda hadir pada masa-masa krisis. Indonesia dipenuhi oleh sejarah kehadiran pemuda pada masa krisis. Agama memberi perhatian pada pemuda. Banyak teladan di kitab suci.

Sementara tentang kepemimpinan, Fahri Hamzah menyatakan bahwa kepemimpinan berarti keberanian untuk bersikap. Untuk mengerti. Kepemimpinan berarti followership. Kesukarelaan. Sementara ketika berbicara tentang masa depan, Fahri katakan bahwa kita berada di simpang jalan. Masa yang indah atau yang suram. Kitalah para pemuda yang akan menentukannya.

Berkaitan tentang fenomena hari ini, Fahri mengatakan, bahwa Indonesia memerlukan otak-otak besar untuk mengertinya. Indonesia terlalu besar. Tidak dapat disederhanakan. Hari ini, kampus melarang orang untuk berbicara. Padahal inilah masa kebebasan. Pembicara siapapun sekeras apapun harus dibiarkan. Dilindungi. Tragedi di kampus di jaman orde baru tidak boleh terulang lagi.

“Inilah bentuk dari ketidakmampuan negara mengelola kebebasan. Gagal mengelola kompleksitas. Sehingga panik. Seharusnya bukan kebebasan yang dikurangi, tapi kapasitas negaralah yang harus diperkuat”, pungkas Fahri Hamzah. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.