Sabtu, 28 Mei 22

Fadli Zon Kritik Dominasi Buruh Asal Cina

Fadli Zon Kritik Dominasi Buruh Asal Cina
* Wakl Ketua DPR Fadli Zon.

Jakarta, Obsessionnews.com  – Isu mengenai membanjirnya buruh asing Cina di Indonesia, yang kembali menjadi perbincangan hangat dalam sepekan terakhir, merupakan isu sensitif yang harus disikapi secara hati-hati oleh pemerintah dan tak boleh dianggap remeh.

“Kita punya problem sejarah terkait konflik etnis, baik pada masa kolonial maupun sesudah kemerdekaan. Itu sebabnya isu mengenai buruh asing asal Cina merupakan isu sensitif. Pemerintah tak boleh menafikan isu ini menjadi semata-mata soal angka atau ekonomi. Kita pun tak ingin NKRI dicederai lagi oleh konflik etnis atau agama,” kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/7/2016).

Fadli berpendapat ada tiga alasan kenapa soal tenaga kerja asing asal Cina ini tak boleh disepelekan pemerintah. Isu ini juga tak bisa lagi dianggap sebagai isu perburuhan semata, melainkan telah menjadi isu sosial, politik, dan keamanan.

Pertama, dalam sejarah, kita punya pengalaman konflik etnis yang tak menyenangkan dan menjadi luka kolektif bangsa. Kita tak ingin soal buruh asing ini mengusik kembali riwayat konflik dan luka lama itu.

Kedua, isu buruh asing asal Cina ini muncul ketika perekonomian nasional kita tidak sedang baik-baik saja, dan angka ketimpangan ekonomi juga sedang buruk-buruknya, di mana indeks kita mencapai 0,45. Ini angka terburuk sepanjang sejarah. Pemerintah mestinya sensitif mengenai hal ini. Jangan sampai pemerintah dianggap telah merampas kesempatan kerja bagi rakyatnya sendiri.

Ketiga, RRC saat ini sedang menjadi sorotan dunia, terutama dalam persoalan konflik Laut Cina Selatan. Kita perlu melihat isu buruh asal Cina ini dalam konteks geopolitik dan geoekonomi juga, agar jangan sampai mengorbankan kepentingan nasional.

“Pernyataan pemerintah cukup membingungkan dalam menyikapi persoalan ini. Menteri Tenaga Kerja menyatakan jumlah tenaga kerja asing cenderung turun. Padahal kita sudah masuk ASEAN Economic Community, apalagi sejak Juni 2015 lalu pemerintah telah membebaskan visa kunjungan 169 negara ke Indonesia. Pasti ada persoalan di situ. Apalagi, seperti yang dibaca dari berbagai berita, munculnya imigran-imigran gelap makin sering terjadi di Indonesia. Jangan sampai turunnya angka tenaga kerja asing yang dicatat oleh Kementerian Tenaga Kerja merupakan efek dari lemahnya pengawasan dan penegakkan hukum,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini.

Menurutnya, tidak ada negara di dunia yang membuka pintu begitu lebar bagi tenaga kerja asing, kecuali kualifikasi mereka memang tak tersedia di dalam negeri. Di ASEAN saja, dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kita punya perjanjian bahwa pekerja asing yang diperbolehkan hanya terkait delapan profesi dan itupun jabatannya spesifik dan telah ditentukan.

“Lha ini pemerintah tidak melakukan tindakan apapun atas ribuan buruh asal Cina yang kualifikasinya, termasuk buruh kasar seperti buruh angkut, penggali tanah, tukang semen, atau tukang rumput,” kritiknya.

Fadli mengatakan, sebagai investor, RRC hanya merupakan negara dengan investasi terbesar kesembilan saja di Indonesia. Begitu juga sebagai kreditor, kredit dari Cina hanya menempati urutan kelima, kalah oleh Singapura, Jepang, AS dan Belanda.

“Tapi anehnya, jumlah tenaga kerja asing kita didominasi oleh Cina, hingga 23 persen. Dari sisi politik dagang, sudah jelas Cina lebih diuntungkan daripada kita. Kita menyediakan lapangan kerja bagi buruh asal Cina,” ujarnya.

Investasi asing secara konservatif, lanjutnya, mestinya bisa membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Apalagi, menurut data BPS, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia semakin meningkat.

“Saya pernah membaca ada sebuah pabrik yang 90 persen tenaga kerjanya berasal dari Cina. Itu kan kebijakan yang tidak benar,” tandasnya.

Ia menambahkan, buruh kita membutuhkan pekerjaan. Jangan rebut peluang ini dengan menguntungkan buruh asing. (arh, @arif_rhakim)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.