Sabtu, 11 Juli 20

Fadak dan Wadil Qurro, Pola Manajemen Lahan Pertanian Pangan Rasulullah SAW

Fadak dan Wadil Qurro, Pola Manajemen Lahan Pertanian Pangan Rasulullah SAW
* Kebun di Fadak. (Foto: http://id.wikishia.net)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian, Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Setelah berhasil menaklukkan benteng Khaibar, dan Yahudi telah meninggalkan lahan mereka di As-Syiqq, Nathah, dan Al-Katibah, Rasulullah SAW melanjutkan ekspedisinya ke Fadak dan Wadil Qurro. Memasuki kedua sub-wilayah Khaibar ini, Rasulullah SAW tanpa meperoleh perlawanan. Yahudi merasa ketakutan, dan akhirnya mereka melarikan diri,  meninggalkan tempat tinggal mereka dan lahan pertaniannya yang subur.  Dengan sendirinya lahan pertanian Fadak dan Wadil Qurro menjadi tanah milik kaum muslimin, yang berstatus lahan milik negara (fay’i land).

Pengelolaan lahan milik negara bagi Fadak dan Wadil Qurro berbeda dengan manajemen lahan bagi As-Syiqq, Nathah, dan Al-Katibah. Untuk ketiga wilayah sub Khaibar ini, Rasulullah membagikannya kepada kaum muslimin, namun untuk Fadak dan Wadil Qurro, Rasulullah SAW tidak membagikannya. Beliau langsung mengelola lahan milik negara itu, dengan memanggil Yahudi – sebagai pemilik asal lahan tersebut – untuk menjadi penggarap lahan pertanian itu (Al-Muafiri, 2003).

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW telah mempekerjakan penduduk Khaibar dengan separuh dari produk yang dihasilkan dari Khaibar berupa buah-buahan dan sayuran. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperkenalkan skim kerja sama al-musaqoh, yakni bagi hasil antara pemilik lahan dengan penggarap, di mana semua biaya pengelolaan lahan ditanggung oleh pemilik lahan, dengan nisbah bagi hasil antara pemilik lahan dengan penggarap sesuai kesepakatan (Sabiq, 1993).

Rasulullah SAW dalam bekerja sama dengan Yahudi tidak membiarkannya melainkan mengawasinya dengan mengangkat Abdullah bin Rawahah sebagai petugas khusus yang mengawasi dan menghitung jumlah produk pertanian yang dihasilkan dari tanah Khaibar. Ketika Abdullah bin Rawahah terkena musibah, di mana beliau mati syahid di Perang Mu’tah (629 M/8 H), Rasulullah mengangkat penggantinya, bernama Jabbar bin Shahr bin Ummayah. Kerja sama al-musaqoh dengan Yahudi untuk mengelola tanah pertanian Khaibar berlangsung sampai pada masa pemerintahan Umar bin al-Khaththab (634 M-644 M/13-23 H) (Al-Muafiri, 2003).

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.