Kamis, 27 Januari 22

Empat Anggota DPR ini Diduga Terlibat Kasus Penipuan

Empat Anggota DPR ini Diduga Terlibat Kasus Penipuan

Jakarta, Obsessionnews.com – DPR RI sebagai lembaga perwakilan rakyat sampai saat ini belum bisa mendapatkan citra yang positif dari masyarakat. Pasalnya, perilaku anggota dewan kerap kali tidak menunjukkan sebagai wakil rakyat. Bahkan banyak dari mereka justru terlibat dalam kasus hukum baik korupsi, narkoba maupun pidana umum.

Terakhir DPR diramaikan dengan kasus dugaan penipuan yang dilakukan anggota Komisi IX DPR Indra S Simatupang. Ia ditetapkan oleh Polda Metro Jaya sebagai tersangka dalam kasus penipuan ‎kerja sama sawit yang merugikan korban Rp 96 miliar.

Berikut anggota DPR yang namanya pernah disebut-sebut terlibat dalam kasus penipuan.

Pertama, kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat ‎Syofwatillah Mohzaib. Pria 41 tahun ini pada 2013 diduga tersangkut kasus penggelapan dan penipuan uang sejumlah Rp 2,5 miliar yang menyangkut satu hak guna usaha di Palembang.

Syofwatillah dilaporkan Mularis Djahri, pemilik PT Campang Tiga. Ia disebut telah memberikan uang kepada Syofwatillah Rp 2,5 miliar kepengurusan Hak Guna Usaha PT Campang Tiga di Desa Campang Tiga Kecamatan Cempaka, Kabupaten OKU seluas 4 hektare.

Kasus ini sempat ramai di Mahkamah Kehormatan Dewan. Sebab, MKD sempat mendapat surat dari Kepolisian untuk memeriksa Syofwatillah. Namun, anggota Komisi Pertanian ini membantah melakukan penipuan. Ia pun melaporkan balik Mularis ke Polisi atas dugaan pencemaran nama baik.

Kedua, ‎kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Gde Sumarjaya. Ia pernah dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKd) oleh warga atas dugaan penipuan penggunaan anggaran untuk daerah pemilihaanya.

Wakil Ketua MKD Junimart Girsang sempat menyatakan, ‎pihaknya memutuskan membentuk tim panel. Tim Panel dibentuk karena Gde diduga melakukan pelanggaran etik berat. “Putusan Rapim, laporan yang bersangkutan itu dia dibawa ke rapat internal anggota, lalu rapat memutuskan membentuk panel,” katanya, (20/1/2016).

Kasus ini sudah dilaporkan ke MKD tahun 2015. Namun, legislator dari Bali ini membantah terlibat kasus penipuan seperti yang dituduhkan dalam laporan. Kasus ini pun tidak ada kelanjutannya.

Ketiga, ‎adalah kasus penipuan dari kisah cinta penyanyi dangdut Cita Citata dengan anggota DPR Amrullah Amri Tuasikal. Kisah cinta dua pasangan ini berakhir setelah Cita merasa dibohongi atau ditipu oleh Amri. Cita pun akhirnya melaporkan Amri ke MKD Jumat (5/8/2016).

Pelantun lagu “Sakitnya Tuh di Sini” merasa dibohongi oleh Amri yang ternyata sudah memiliki anak. ‎ Masalah pun semakin runyam lantaran cincin tunangan senilai Rp 450 juta yang dibeli Amri, tagihannya malah jatuh ke tangan Cita. Ia diminta untuk melunasinya.

Merasa bersalah, anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra ini akhirnya meminta maaf di depan publik karena telah membohongi Cita. Permohonan maaf Amri disampaikan di media sosial. Kedua pihak akhirnya sepakat berdamai kasusnya tidak dilanjutkan.

Keempat, kasus penipuan yang diduga dilakukan Indra S Simatupang. Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan ini dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas kasus penipuan terhadap dua orang pengusaha bernama Louis Gunawan Khoe dan Yacub Tanoyo.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan, akibat penipuan tersebut korban mengalami kerugian sekitar Rp 96 miliar. Hendy mengungkapkan, dugaan penipuan yang dilakukan Indra dimulai sejak tahun 2013.

Ia mengungkapkan, Indra, yang belum menjadi anggota DPR RI, mengajak korban untuk bisnis jual beli kernel dan CPO (crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah) yang dibeli dari PTPN V (Riau) dan PTPN VII (Lampung) lalu dijual ke PT Sinar Jaya dan PT Wilmar.

“Korban diiming-imingi keuntungan 10 persen dari modal yang telah dikeluarkan dalam waktu satu bulan,” ujar Hendy Jumat (28/10/2016).

Untuk meyakinkan korbannya, Indra mengajak korban bertemu dengan ayahnya yang bernama Muwardy Simatupang. Indra bercerita kepada korbannya bahwa bisnis jual beli kernel tersebut dahulunya dirintis ayahnya saat menjabat sebagai Deputi Menteri BUMN pada tahun 2004.

Setelah korban percaya, lanjut Hendy, Indra membuat surat perjanjian dengan total ada 8 surat perjanjian. Namun, dari perjanjian tersebut, modal yang telah dikeluarkan korban tidak pernah dikembalikan oleh Indra.

Ia beralasan modal tersebut akan diputar kembali untuk menjalankan bisnis lainnya yang pada faktanya bisnis tersebut tidak pernah ada. Setelah Indra menjabat sebagai anggota DPR RI, bisnis itu dilanjutkan oleh staf pribadinya yang bernama Suyoko.

“Sampai akhirnya di bulan April 2015 hingga sampai saat ini kerjasama tersebut berhenti dan korban tidak mendapatkan lagi keuntungan dan uang modalnya juga tidak pernah dikembalikan,” ucapnya.

Akibat dari perbuatannya itu, ia bersama ayahnya Muwardy, dan staf pribadinya, Suyoko telah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Ketiganya dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan jo Pasal 55 ayat (1) KUHP tentang turut serta melakukan tindak pidana.‎ (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.