Senin, 28 September 20

Emas: Signal Peringatan Dini

Emas: Signal Peringatan Dini
* Ilustrasi emas.

Keadaan yang belum begitu menjanjikan dari Yunani, serta rilis data Bank Sentral China tentang jumlah cadangan emas yang mereka punya (lebih sedikit dari yang diharapkan publik), membuat investor agak menjauhi emas. Akibatnya mudah ditebak, yaitu harga yang melorot drastis karena sentimen negatif.

Harga emas turun di bawah US$1.100/ounce, setelah dalam beberapa waktu terakhir diperdagangkan dalam range fluktuasi yang sempit. Jika dikonvert ke Euro, maka harga emas mengalami penurunan sebesar 1.000 Euro.

Bagi mereka yang tinggal di Eropa dan memiliki simpanan dalam mata uang Euro, sudah barang tentu emas merupakan investasi yang baik, ketimbang menyimpan uang di bank – paling tidak dalam setahun belakangan-. Dengan suku bunga yang hampir mendekati nol dan bahkan negatif di beberapa negara Eropa, investasi dalam mata uang Euro hampir pasti tidak akan menguntungkan.

Di sisi lain, jika dihargai dalam US Dolar, maka emas bukan merupakan investasi yang bagus sejak 2011 ketika harga emas ada di-record high. Sebaliknya, emas adalah investasi yang menggiurkan tahun 1999 sampai 2000, ketika harga masih berkisar US$ 300 /ounce.

Sementara itu, dalam dua tahun terakhir, kejatuhan harga emas lebih banyak disebabkan oleh kuatnya US Dolar terhadap semua mata uang utama dunia. Dari waktu ke waktu seluruh mata uang akan kehilangan daya belinya, meskipun tidak secara bersamaan. Ada yang lebih cepat, ada pula mata uang yang akan bertahan cukup lama sebelum akhirnya kehilangan daya juga. Khusus untuk US Dolar sendiri, kita tidak pernah tahu kapan ia akan kehilangan tajinya, karena sampai saat ini The Green Back masih menjadi reserve currency global.

Namun demikian jika inflasi meroket, maka kekuatan suatu mata uang terhadap mata uang lain, tidak akan terlalu berpengaruh lagi. Jika misalnya inflasi ada di kisaran 10% di Amerika dan 20% di Eropa, maka jelas US Dolar akan lebih kuat terhadap Euro. Tapi dalam skenario seperti ini, jangan lantas melupakan emas, karena ia akan bersinar cemerlang akibat tingginya inflasi.

Pertanyaan besarnya adalah di tengah-tengah semua harga yang turun – termasuk emas – apakah hanya investor emas saja yang patut menjadi kuatir, sementara penurunan ini mungkin hanya sementara sebelum harga akan kembali rebound.

Pernahkah Anda berpikir bahwa situasi emas saat ini, sebetulnya sedang menjelaskan keadaan ekonomi dalam gambaran yang lebih kompleks dari sekedar tren bearish yang sedang terjadi?

Saya sendiri tidak begitu percaya dengan mitos dari sistem ekonomi Keynesian yang berkata, bahwa ada semacam bargaining sistem antara inflasi dan jumlah angka pengangguran di suatu negara. Bisa aja ekonomi justru bertumbuh di saat tingkat inflasi rendah, seperti yang terjadi di Amerika sepanjang abad 19.

Jika mata ketersediaan uang berada pada titik stabil, dengan teknologi serta produksi yang terus meningkat, otomatis semua harga akan turun. Lihat saja harga dari komputer Anda. Di tengah-tengah meningkatnya suplly uang, harga elektronik malah makin turun dari hari ke hari. Apalagi jika ada model baru di pasaran.

Masalah utama ekonomi dunia saat ini adalah hampir semua pertumbuhan ekonomi dan naiknya perdagangan saham ternyata ditunjang hanya oleh beberapa kebijakan Federal Reserve, seperti rendahnya suku bunga. Apakah akan ada yang percaya bahwa harga saham akan sebaik hari ini, jika Federal Reserve tidak pernah mengeluarkan kebijakan Quantitative Easing 1,2 dan 3?

Ya, ada tiga sekuel inflasi moneter yang “menjamin” harga saham menjadi bagus meskipun hanya dalam jangka pendek.

Federal Reserve mengakhiri kebijakan QE3 bulan Oktober 2014. Sampai saat ini, sudah hampir setahun. Pertanyaannya adalah, apakah ekonomi akan tetap menjadi kuat tanpa support dari Federal Reserve?

Rasanya tidak ada yang 100% yakin dengan hal tersebut. Tapi rendahnya harga emas bisa saja menjadi pertanda buruk bagi ekonomi dunia saat ini. Krisis yang paling jelas mengancam adalah resesi.

Saya yakin bahwa investor harusnya memiliki cadangan emas sebagai investasi, meskipun saya juga tidak menyuruh Anda untuk melakukan spekulasi dalam hal ini. Kecuali Anda adalah trader yang memang tiap haru berurusan dengan emas di lantai bursa. Intinya adalah begini, emas merupakan komoditi alternatif di dalam situasi krisis atau inflasi tinggi.

Sebagai seorang investor, sangat penting untuk menyeimbangkan jenis portofolio yang Anda miliki. Yang dapat saya sarankan adalah ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli emas sebagai penyeimbang portofolio Anda, apalagi jika investasi emas Anda memang tidak begitu banyak saat ini dibanding dengan produk lainnya. Kisaran yang paling ideal adalah miliki emas sebanyak 20% dari total investasi Anda hari ini dan pastikan jumlahnya tidak kurang dari 10%.

Mungkin Anda tidak akan menjadi kaya raya dengan memilih emas sebagai investasi Anda hari ini, tapi komoditas yang satu itu merupakan penyeimbang yang baik bagi investasi Anda.

Jika menurunnya harga emas merupakan indikasi akan terjadinya krisis ekonomi, maka kemungkinannya sangat besar harga emas akan melonjak drastis. Memang suku bunga yang saat ini rendah, bisa saja menjadi lebih rendah ketika krisis terjadi. Tapi pastikan Anda mengalokasikan bagian dari portofolio Anda di dalam emas.

Kadang-kadang diperlukan kesabaran untuk melihat hasil tuaian yang besar. (Samuel M.J Karwur,  A New Dimension Bearer)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.