Selasa, 27 September 22

Elon Musk Luncurkan Ribuan Satelit ke Ruang Angkasa untuk Layanan Internet Kecepatan Tinggi

Elon Musk Luncurkan Ribuan Satelit ke Ruang Angkasa untuk Layanan Internet Kecepatan Tinggi
* Roket SpaceX lepas landas dari Cape Canaveral, bawa satelit Starlink. (Getty/BBC)

Perusahaan SpaceX milik orang terkaya Elon Musk telah meluncurkan ribuan satelit ke orbit. Banyak orang berkata mereka telah melihatnya di langit.

Satelit-satelit itu adalah bagian dari proyek Starlink , yang bertujuan untuk menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi dari luar angkasa ke daerah-daerah terpencil di Bumi.

Apa itu Starlink dan bagaimana cara kerjanya?

Dilansir BBC News, Starlink menyediakan layanan internet melalui jaringan satelit yang sangat banyak.

Layanan ini ditujukan bagi orang-orang yang tinggal di daerah terpencil dan tidak bisa mendapatkan internet berkecepatan tinggi.

“Ada orang-orang di Inggris yang masuk dalam kategori itu, tetapi ada lebih banyak lagi di berbagai belahan dunia, di tempat-tempat seperti Afrika,” kata Dr Lucinda King, Manajer Proyek Luar Angkasa di Universitas Portsmouth.

Satelit-satelit Starlink telah ditempatkan di orbit rendah di sekitar Bumi supaya kecepatan koneksi antara satelit dan daratan bisa secepat mungkin.

 

Sumber: Riset BBC

 

Namun, banyak sekali satelit yang diperlukan untuk menyediakan cakupan internet bagi seluruh dunia.

Diperkirakan Starlink telah menempatkan sekitar 3.000 satelit ke luar angkasa sejak 2018. Pada akhirnya mereka mungkin akan menggunakan 10.000 atau 12.000 satelit, kata Chris Hall.

“Menggunakan satelit memecahkan masalah koneksi internet di lokasi-lokasi terpencil di gurun dan pegunungan,” ujarnya.

“Dengan ini tidak diperlukan pembangunan infrastruktur dalam jumlah besar, seperti kabel dan tiang, untuk mencapai daerah-daerah tersebut.”

Berapa biaya Starlink dan siapa yang akan menggunakannya?

Dibandingkan penyedia layanan internet biasa, Starlink tidak murah.

Pelanggan harus membayar $99 (Rp1,4 juta) per bulan. Parabola dan router yang diperlukan untuk terhubung ke satelit harganya $549 (Rp8,1 juta).

Namun, 96% rumah tangga di Inggris sudah mampu mengakses internet berkecepatan tinggi, seperti halnya 90% rumah tangga di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

“Sebagian besar negara maju sudah terhubung dengan baik,” kata Profesor Sa’id Mosteshar, Direktur Institut Kebijakan dan Hukum Luar Angkasa Universitas London. “Mereka mengandalkan sebagian kecil pasar untuk pendapatan.”

Perusahaan itu mengatakan mereka memiliki 400.000 pelanggan di 36 negara yang saat ini tercakup dalam layanannya —sebagian besar di Amerika Utara, Eropa, dan Australasia. Ini terdiri dari rumah tangga dan bisnis.

Tahun depan, Starlink berencana untuk memperluas cakupannya lebih jauh ke seluruh Afrika dan Amerika Selatan, dan ke Asia, wilayah di dunia tempat jangkauan internet masih kurang merata.

“Harga Starlink barangkali terlalu mahal untuk banyak rumah tangga di Afrika, misalnya,” kata Chris Hall. “Tapi itu bisa memainkan peran penting dalam menghubungkan sekolah dan rumah sakit di daerah terpencil di sana.” (BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.