Jumat, 23 Oktober 20

Ekuador Jadi Kota Mayat, 5.000 Kematian dalam Semalam Negara Gagal Akibat Pemerintah Lelet

<span class=Ekuador Jadi Kota Mayat, 5.000 Kematian dalam Semalam Negara Gagal Akibat Pemerintah Lelet">
* Jenazah yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador. (BBC)

Di kawasan Guayas, negara bagian paling terdampak pandemi Covid-19 di Ekuador, negara di khatuliswa yang subur kaya dengan hasil bumi, ketika angka resmi mengenai korban wabah dicek silang dan dicermati, fakta yang mencul sungguh mencengangkan.

Setidaknya 6.700 orang meninggal dunia di dua minggu pertama April, menjadikan Guayas area paling terdampak bukan hanya di negara tersebut tapi di seluruh Amerika Latin.

Dan kematian tersebut tidak hanya terkait Covid-19: layanan kesehatan setempat lumpuh karena pandemi dan banyak pasien dengan kondisi kesehatan lainnya tidak dapat mendapatkan layanan kesehatan yang seharusnya.

“Kami sudah melihat orang meninggal di mobil, di ambulans, di rumahnya, di jalanan,” kata Katty Mejía, seorang pekerja di rumah duka di Guayaquil, ibu kota negara bagian dan kota terbesar di Ekuador.

“Salah satu alasan mereka tidak dirawat di rumah sakit karena alasan kekurangan tempat tidur. Jika mereka ke klinik swasta, mereka harus membayar dan tidak semua orang punya uang,” paparnya seperti dilansir BBC News Indonesia, Minggu (19/4/2020).

Dalam masa pandemi di kota dengan populasi 2,5 juta penduduk itu, rumah duka kewalahan – sebagian harus tutup sementara karena pekerjanya ketakutan terjangkit virus.

Kerabat yang putus asa membiarkan mayat tergeletak di depan rumah, sementara sebagian lain membiarkannya di tempat tidur hingga berhari-hari.

Kota Guayaquil juga mulai kehabisan ruang untuk menguburkan mayat, memaksa sebagian orang untuk membawa jenazah kerabat ke kota tetangga untuk dimakamkan di sana.

Kebutuhan untuk menguburkan jenazah sangat tinggi hingga sebagian warga menggunakan kotak karton sebagai peti mayat. Narapidana juga membuat peti mati dari kayu.

Ini video tentang negara EQUADOR yang mengabaikan CORONA dan kurang antisipasi hingga peti mati berjajar di sepanjang jalan.Semoga tidak terjadi di Indonesia ya Allah.. karena sama PERSIS di indonesia kurang antisipasi, disaat Corona sedang mendekat ke Indonesia malahan para petingginya pada SOMBONG & PETHAKILAN mengabaikan keberadaan CORONA , Corona takut masuk Indonesia lah.. CORONA ditolak dengan susu kuda liar lah.., salam namaste lah.., salam sikut lah.. sambil pencilaan! Giliran beneran disamperin CORONA baru kebakaran jenggot‼️

Dikirim oleh Saptaning pada Minggu, 19 April 2020

Negara ‘Gagal’
President Ekuador Lenín Moreno mengakui negara telah gagal mengatasi krisis kesehatan. Hingga 16 April, pemerintah yakin hanya 400 orang meninggal dunia karena virus corona. Tapi setelah Satuan Tugas Gabungan Virus Corona mengumpulkan semua data, gambaran besarnya berubah.

“Dengan angka yang kita dapat dari Kementerian Dalam Negeri, tempat pemakaman umum, kantor pencatatan sipil dan tim kami, kami sudah menghitung setidaknya 6.703 kematian di Guayas di 15 hari pertama pada April,” kata Jorge Wated, kepala Satgas pemerintah.

“Rata-rata mingguan di sini mencapai 2.000. Jadi, kami sudah merekam 5.700 kematian dari biasanya.”

Tidak semua kematian di Guayas terkait langsung dengan Covid-19 – sebagian orang meninggal karena gagal jantung, masalah ginjal, atau masalah kesehatan lain yang memperburuk kondisi karena tidak segera ditangani.

Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan di penjuru kawasan – akankah pandemi menimbulkan dampak sekunder yang sama di negara-negara Amerika Latin lainnya atau di kawasan lain di dunia dengan sistem kesehatan yang lemah?

Di Wuhan, China, angka resmi tengah direvisi dan hasilnya bisa jadi mengejutkan. Di Spanyol, negara Eropa paling terdampak, ada perbedaan dari cara data dikumpulkan dan dibuka di level lokal dan nasional.

“Kesehatan masyarakat di Ekuador selalu bermasalah. Ini merupakan salah satu titik lemah di hampir semua periode pemerintahan,” kata Dr Carlos Mawyin kepada BBC.

Ia menduga krisis Covid-19 merupakan badai yang sempurna di Ekuador. “Dengan sistem kesehatan yang lemah dan jumlah pasien yang tinggi, ICU dengan cepat menjadi lumpuh,” katanya.

Ekuador telah memperpanjang jam malam dan berjanji akan mengetes makin banyak pasien. Tapi bagi warga di Guayaquil yang pernah melihat orang terkasih meninggal dunia, janji itu sudah terlambat. (*/BBC)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.