Selasa, 27 Oktober 20

Eksploitasi Prostitusi Artis di Media

Eksploitasi Prostitusi Artis di Media

Bagi pria si hidung belang yang kelebihan uang, tentu seks dengan perempuan lain bisa dijadikan ‘hiburan’ untuk melampiaskan nafsunya. Apalagi kalau duitnya tak berseri– apalagi pengusaha–, tentu akan cari perempuan harganya mahal atau artis yang bisa ‘dipakai’ alias bispak. Kasus terakhir, kabarnya artis cantik Vanessa Angel bisa ‘dipakai’ dengan tarif seharga Rp80 juta. Kini, nama Vanessa Angel pun menjadi bagian dari banyak judul berita media massa yang tengah mengulik kasus dugaan prostitusi online yang menjeratnya.

Berdasarkan rilis Polda Jawa Timur, Senin (7/1), untuk pekerjaan yang diduga dilakoni Vanessa dengan tarif Rp80 juta, ia menerima upah kurang dari setengahnya. Setengah lebih lainnya masuk ke kantong muncikari dan pihak lain yang terlibat sebagai perantara. “Masing-masing orang punya pembagiannya 25%. Kayak kemarin itu dibagi tiga. Kepada ininya (Vanessa, red) Rp35 juta, sisanya dibagi-bagi tim,” ungkap Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan seperti dilansir media online, Senin (7/1).

Saat merespon berbagai pemberitaan media massa terkait kasus prostitusi online belakangan, Peneliti media, Wisnu Prasetya Utomo menilai, dari sekian banyak aspek terkait kasus prostitusi online ini – profil klien prostitusi online tersebut, struktur jaringan, dan sebagainya- sebagian media memilih untuk lebih fokus mengupas seluk beluk sosok sang artis. “Secara umum, saya mesti bilang bahwa (pemberitaan kasus prostitusi online artis) masih sangat buruk. Selama ini selalu masih bias terhadap perempuan, dalam hal ini artis,” ungkap dia seperti dilansir BBC News Indonesia, Senin (7/1/2018).

Wisnu berpandangan bahwa lebih banyak porsi pemberitaan yang bersifat eksploitatif. “Dalam bahasa saya, eksploitasi terhadap nama-nama besar artis tadi, yang sama sekali, ironisnya, tidak terkait langsung dengan kasusnya.” Ia merujuk pada sejumlah pemberitaan yang muncul dan diasosiasikan dengan kasus tersebut, seperti “pose-pose seksi artis di media sosialnya, kemudian saya membaca ada berita soal artis yang kemarin ditangkap, misalnya, membatalkan pertunangan.”

Kritikan tertuju pada fokus produksi berita sejumlah media yang kabur dari masalah utama yakni dugaan prostitusi online. Menurutnya, banyak angle berita yang lebih layak diproduksi untuk kepentingan publik. “Kalau bicara porsi, ya mestinya (bahas) kasusnya sendiri, penangkapannya satu hal, kemudian hal lain adalah problem-problem struktural yang ada di sana. Siapa aktornya, apakah ada backup, misalnya dari aparat, atau seperti apa. Nah, itu yang mesti dibongkar oleh media, idealnya begitu,” paparnya.

Suatu penian pun diberikan, pemberitaan kasus dugaan prostitusi online yang melibatkan artis jarang mengupas isu-isu substansial yang bisa menguak dapur bisnis asusila tersebut. “Lebih banyak justru hal-hal yang sifatnya sensasional,” ucapnya.

Redaksi media massa bukannya tidak paham mengenai framing pemberitaan yang sepatutnya dilakukan. Setiap redaksi juga dianggapnya pasti mafhum dengan Kode Etik Jurnalistik yang menjadi pedoman kegiatan jurnalistik yang mereka lakukan. Wisnu pun menilai beberapa media sengaja melanggar kode etik jurnalistik. Ada dua faktor yang membuat redaksi media massa mengambil fokus terhadap nama sang pesohor dalam memberitakan kasus prostitusi online artis. Pertama, lebih mudah dilakukan. Kedua, potensial mendatangkan pembaca.

Ia berpandangan, kultur pembaca Indonesia yang mudah dibuat penasaran oleh skandal sosok terkenal, membuat media massa mentranslasikan peluang tersebut ke dalam produk jurnalistik yang tidak proporsional dari segi porsi pemberitaan. Karena itu, Dewan Pers selaku regulator pers di Indonesia diminta bisa memaksimalkan peran mereka untuk menegakkan kode etik jurnalistik yang bisa menjaga kualitas jurnalisme yang dihasilkan media massa.

Yakni, berita-berita yang eksploitatif tadi harus diberikan teguran oleh regulator, karena mau tidak mau kita berharap pada regulator untuk menegakkan regulasi. Selain aspek regulasi, literasi media di masyarakat juga menjadi aspek yang penting dalam menjaga kualitas berita yang dibuat jurnalis.

“Banyak misalnya di media sosial yang kemudian melakukan protes terhadap media. Menurut saya, budaya protes atau kritik terhadap media itu bagus untuk mengetahui mana berita-berita yang bermasalah, dan mana yang sebenarnya seharusnya didorong,” tandasnya. (Red)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.