Senin, 30 November 20

Ekonomi Turki Dirusak dan Diteror Amerika

Ekonomi Turki Dirusak dan Diteror Amerika

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan kembali mengatakan bahwa Amerika Serikat berada di balik perang ekonomi yang dilancarkan terhadap negaranya.

Erdogan di hadapan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan, AKP menuturkan, kita sedang menghadapi sebuah serangan yang menargetkan perekonomian Turki dan kejatuhan nilai tukar mata uang Lira. Semuanya adalah upaya musuh untuk meneror ekonomi Turki. Pada saat yang sama, Erdogan juga mendesak penguatan nilai tukar Lira terhadap mata uang asing.

Reaksi presiden Turki dan pejabat Ankara lainnya menunjukkan bahwa krisis ekonomi yang saat ini tengah mendera Turki jauh lebih serius dari apa yang diberitakan oleh media-media Turki.

Kenyataannya adalah, masalah ekonomi merupakan titik kelemahan Turki dan Amerika bersama sejumlah negara Eropa, setelah menyadari realitas ini, berusaha merusak perekonomian Turki dengan maksud menundukkan negara itu.

Dalam dua bulan kebelakang, mata uang Turki, Lira mengalami depresiasi sampai 40 persen. Mata uang Lira di pasar saham London bahkan sempat mengalami penurunan hingga 6,1350 poin atau sekitar 0,7 persen.

Pada saat yang sama, Bank Sentral Amerika, Federal Reserve Bank atau The Fed menaikkan suku bunga bank sehingga memperkuat nilai tukar dolar.

Langkah pemerintah Amerika ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga bank bulan September 2018 juga akan mengalami peningkatan kembali.

Salah seorang direktur strategi manajemen dan bisnis pasar-pasar baru di salah satu bank investasi Kanada mengatakan, masalah Turki belum selesai dan tidak ada jalan keluar struktural dan reformasi.

Sebelumnya, Presiden Turki menuturkan, dugaan bahwa Amerika berusaha memanfaatkan kasus pendeta negara itu untuk meruntuhkan perekonomian dan militer Turki, tidak mungkin.

Pendeta Amerika, Andrew Brunson yang merupakan mata-mata Washington dan memiliki kedekatan dengan jaringan Fethullah Gullen, orang yang diduga berada di balik kudeta militer gagal di Turki pada Januari 2016, ditangkap dan divonis penjara 35 tahun. Namun pendeta Amerika ini sekarang berada dalam tahanan rumah karena sakit yang dideritanya.

Hubungan Turki-Amerika di akhir-akhir perang Suriah terus memburuk, dipicu oleh kudeta militer gagal di Turki. Pada kenyataannya, permasalahan yang membuat hubungan Turki-Amerika memburuk mencakup banyak kasus, yang sejak dua tahun lalu melanda kedua negara.

Masalah itu ditambah dengan penjualan senjata dari Rusia dan dukungan serius Amerika atas pasukan Kurdi di Suriah dan Irak, sehingga semakin memperkeruh hubungan Washington-Ankara.

Menyusul semakin parahnya kondisi perekonomian Turki, sepertinya Erdogan mengerahkan seluruh upayanya untuk menyelesaikan sebagian permasalahan negara dengan mendekati Iran dan Rusia.

Presiden Turki ingin perdagangan dengan Iran dan Rusia dilakukan menggunakan mata uang nasional setiap negara dan menghapus dolar dari transaksi bisnis mereka. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.