Rabu, 11 Desember 19

Ekonomi Rakyat …

Ekonomi Rakyat …

Oleh: Sri Bintang Pamungkas, Aktivis

 

Siapa yang tidak tahu Widjojo Nitisastro… Arsitek Pembangunan Indonesia, setelah Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo. Tetapi mereka tidak bisa berkutik di bawah Soeharto. Pada akhirnya, setelah 30 tahun membangun, perekonomian Indonesia jebol. Alih-alih Soeharto yang menuruti Petunjuk Ahlinya, para Ahli yang tidak mampu menasihati Soeharto itu justru menuruti Petunjuk Sang Presiden. Pada hampir hayatnya, Mohamad Sadli mengatakan “…. Gomballah ekonom-ekonom muda anti Soeharto itu, paling-paling nanti ngutang lagi, ngutang lagi…” Seakan menyindir, tapi sekaligus membenarkan, bahwa solusi atas persoalan ekonomi Indonesia tidak lain adalah ngutang. Sadli adalah salah satu dari Mafia Berkeley sendiri…

Salah satu masalah besar ekonomi Indonesia memang utang luar negeri. Ketika saya tanya Pak Sumarlin di forum APBN pada sekitar Februari 1993, Pak Menkeu tidak menjawab. Baru setahun kemudian di forum yg sama, ada selentingan jawaban: Tergantung pada Pak Harto… Saya pikir, orang-orang pandai ini menjadi bodoh! Tapi takut mundur… entah karena takut digebug atau takut menjadi pengangguran …! Dan rakyat yang menjadi korban!

Soeharto jatuh, tapi Sadli benar! Hal berutang itu terus berulang… dan utang luar negeri (ULN) terus bertumpuk…tanpa mereda! Indonesia benar-benar ketagihan ULN.

Pada akhir SBY, ULN Indonesia mencapai USD 298 milyar. Sekarang, dalam waktu 2,5 tahun Jokowi, ULN mencapai USD 334 miliar! Yang artinya naik USD 36 milyar… dan kalau dalam selang waktu itu ada utang yang sudah jatuh tempo dan dibayar, berarti tambahan utang baru yang dibuat Jokowi bisa saja mencapai USD 50 miliar! Identik dengan ULN yang dibuat di zaman Soeharto selama 9-10 tahun!

Para ekonom kita yangg bekerja di pemerintahan memang goblog. Yg awalnya pinter-pinter, begitu masuk lingkaran kekuasaan, tiba-tiba ikut presidennya menjadi goblog…Tapi lagi-lagi mereka takut mundur….juga Mulyani dan Darmin. Meskipun begitu, si Mul masih bisa bilang: “…mestinya pembangunan dibiayai dengan pajak…bukan dengan utang!” Dan Darmin mulai sontoloyo dengan bilang: “….nggak mbangun pun utang terus nambah…”.

Darmin membuka rahasia, bahwa ULN itu dibikin tidak untuk membangun tetapi memang sengaja untuk merusak Indonesia…. Mirip dengan apa yang dikatakan Soemitro: “…30% dari utang luar negeri kita menguap di tangan Pemerintah…”. Itu sesudah Soemitro bukan lagi menteri… Bahkan, baru kemarin, Mulyani mengaku tidak tahu digunakan untuk apa saja tambahan utang sebanyak itu….! Tambahan utang yang mayoritas berasal dari RRC.

Republik ini sengaja dirusak Jokowi…dan ini terkait dengan Cina, baik mafia Cina Indonesia maupun Cina RRC yg dikoordinir oleh Badan Intelijen Cina. Masuknya jutaan orang Cina yang mengaku pekerja adalah bagian dari rencana besar RRC dan Jokowi untuk menyerahkan kedaulatan NKRI kepada RRC dalam arti yang sesungguhnya!

Indonesia sebenarnya kaya raya, tidak perlu berutang tanpa kendali seperti ini. Kaya dengan bumi, air dan kekayaan alam di dalamnya. Juga kaya dengan manusia. Tapi seperti orang bilang: “…we have a lot of bodies, but no manpower…”. Tenaga kerja kita tidak cukup terlatih dan terdidik untuk menguasai teknologi! Mereka digaji rendah… dan itu menjadi kebanggaan Soeharto dan lain-lain. Akibatnya, buruh kita tidak bisa bekerja keras…sehingga jatuhnya sangat mahal!

Belanda meninggalkan sumur-sumur minyak bumi puluhan tahun, tapi kita tidak mampu menanganinya…. Jepang meninggalkan tambang dan dapur aluminium di Sigura-gura puluhan tahun, tapi kita lalu tidak mampu melanjutkannya…! Kita tidak pernah mau belajar mengolah bijih emas di Timika, sehingga Freeport yg menanganinya. Juga nikel, timah, perak dan lain-lain.

Ah, itu terlalu tinggi! Jalanlah dari Jakarta ke Bandung lewat Puncak. Di sepanjang jalan Bogor-Puncak orang-orang desa berduyun-duyun membawa pisang ke pinggir jalan… ya, pisang rakyat! Allah Yang Maha Kuasa yang meninggalkan pisang-pisang itu…berbagai jenis… Bahkan, kalau ke Banten ada pisang yg kulitnya merah…! Belum lagi yang jenis Medan sampai Ambon… bisa ratusan macam…apalagi kalau di-Bangkok-kan! Tapi, kita masih saja mengimpor pisang dari Filipina dan Amerika Latin yang terlihat lebih bagus….

Di negara-negara pengekspor pisang itu, rakyat menanam pisang dg teknologi. Ada ahli-ahli pertanian di sana. Hasilnya jadi bagus, dan berbuahnya serentak. Dipotong, dipilih, dipilah-pilah, dimasukkan ke dalam peti, dibawa ke pelabuhan untuk diekspor menjadi  jutaan dollar.

Kasihan petani pisang kita. Pemerintah tidak peduli. Juga lulusan institut pertanian kita. Mereka menjadi sarjana pertanian, tapi tidak tahu harus ke mana. Banyak yang menjadi wartawan, kerja sembarangan atau menganggur!

Tidak hanya pisang. Dari Sabang sampai Merauke. Hortikultura tropis yang tidak ada ke duanya di dunia bersalju. Semua anugerah Allah yang disia-siakan, tidak dipelihara, tidak dibina, dibiarkan terbengkalai.

Dan tidak itu saja. Belanda menjadi kaya-raya hanya karena berdagang rempah-rempah. Ke mana rempah-rempah kita sekarang?! Di zaman Belanda, kota Bima adalah pelabuhan pengirim ternak sapi terbesar, sumber daging untuk wilayah2 lain di Nusantara. Ke mana sekarang sapi-sapi kita… pada saat padang-padang rumput kita kosong dan sebagian berubah menjadi bangunan2… Ke mana juga karet kita…kopi kita…tembakau kita…cokelat kita…?! Ada…. tapi tercecer… tidak terpelihara…tidak terindustri… Tidak bisa menghasilkan jutaan Dollar. Lebih mudah berutang…

Kasihan Sarjana-sarjana Teknik ITB…Mereka sudah senang sekalipun cuma mengajar di sekolah-sekolah menengah, asal dapat gaji bulanan. Para gurubesarnya tidak mampu mengajari bagaimana menciptakan pekerjaan. Sekalipun itu tugas dan kewajiban pemerintah. Tapi para profesor UGM juga sudah senang mendapat kunjungan Jokowi. Mereka sudah merasa bangga anak didiknya bisa menjadi presiden… Paling tidak sudah lebih unggul dari UI.

Di negara2 maju ukuran sukses seorang presiden kalau bisa meningkatkan lapangan kerja, mengurangi pengangguran. Di Indonesia, seorang presiden harus berbuat abeh-aneh, supaya kelihatan jempolan.

Sudah begitu banyak orang2 pinter lulusan luar negeri pulang ke Tanah Air. Tidak usah dari ilmu yg didapatnya di kelas…. tapi cukup melihat saja bagaimana lalu-lintas dan kota ditata… Tapi sesudah pulang, tidak bisa berbuat apa-apa…Bertahun-tahun jalanan macet… seakan-akan tak peduli. Ke mana ilmunya?! Di sana menyaksikan orang bekerja dari jam 9 sampai jam 5. Di sini dari jam 5 sampai jam 9… tapi waktunya habis di jalanan… dan mereka ikhlas saja! Di mana kau, wahai ilmuwan?!

Jokowi bangga orang miskin di Indonesia turun jumlahnya dari 36 juta di jaman SBY menjadi 28 juta. Tapi di jaman SBY garis kemiskinan USD 2 sehari, kira-kira 27 ribu, seperti kriteria Bank Dunia. Tapi Jokowi pintar… garis kemiskinan diturunkannya menjadi 10 ribu…Sebagian profesor UGM bangga, karena tidak tahu…. mereka anggap Jokowi pintar! Belum lagi masuknya jutaan Cina dari Utara!

@SBP
25/7

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.