Rabu, 21 Oktober 20

Edan! Warga AS Minum Disinfektan Cegah Corona Presiden Trump Ogah Tanggung Jawab

<span class=Edan! Warga AS Minum Disinfektan Cegah Corona Presiden Trump Ogah Tanggung Jawab">
* Penyemprotan disinfektan. (OMG)

Edan! Warga Amerika Serikat (AS) meminum cairan disinfektan untuk mencegah agar tidak terinfeksi virus Corona (Covid-19). Padahal, disinfektan adalah zat berbahaya dan beracun jika tertelan.

Akibat ulah warganya tersebut, Presiden AS Donald Trump tidak mau bertanggung jawab atas peningkatan jumlah warga yang meminum disinfektan.

Stasiun televisi CNN (28/4/2020) melaporkan, Donald Trump mengumumkan dengan menyatakan: “Saya tidak bertanggung jawab atas adanya peningkatan jumlah warga Amerika yang meminum disinfektan karena mengikuti saran untuk membunuh Virus Corona di tubuh.”

Presiden AS ini mengaku tidak mengetahui ada lonjakan jumlah warga yang meminum disinfektan setelah dirinya menyampaikan kiat untuk melawan Covid-19.

Minggu lalu dalam jumpa pers di Gedung Puith, Donald Trump mengatakan, meminum disinfektan dan berjemur di bawah sinar matahari dapat menyembuhkan pasien Corona.

Sehari setelah jumpa pers Trump, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, CDC mengumumkan kepada publik negara itu agar menggunakan disinfektan secara benar.

Sebelumnya, Presiden Trump menghadapi gelombang kritikan setelah komentarnya terkait penggunaan disinfektan untuk pasien Covid-19.

“Saya lihat dari hasil riset cairan disinfektan dapat membunuh virus dalam waktu satu menit. Satu menit. Adakah cara sehingga kita bisa mengujinya, seperti menyuntik cairan disinfektan atau membersihkan tubuh kita? Saya tertarik melihatnya.”

Sejumlah dokter di AS memperingatkan bahwa ide Trump tersebut berpotensi fatal.

Dokter paru-paru Vin Gupta mengatakan kepada NBC News: “Ide menyuntik atau menelan cairan pembersih ke dalam tubuh tidak bertanggung jawab dan berbahaya.”

“Itu adalah cara yang sering dipakai jika orang ingin bunuh diri.”

Sementara itu Kashif Mahmood, seorang dokter di Charleston, Virginia Barat, mengatakan di Twitter: “Sebagai seorang dokter, saya tidak bisa menyarankan menyuntik cairan disinfektan ke paru-paru, atau memaparkan diri terhadap radiasi sinar UV untuk mengobati Covid-19. Jangan mendengarkan nasihat medis dari Trump.”

John Balmes, dokter paru-paru di Rumah Sakit Umum Zuckerberg San Francisco, memperingatkan bahwa orang dapat menderita masalah kesehatan hanya dengan menghirup bau cairan pemutih.

Seperti dikutip oleh Bloomberg News, Dr Balmes mengatakan: “Menghirup klorin dalam cairan pemutih adalah hal terburuk bagi paru-paru Anda. Rongga pernafasan dan paru-paru kita tidak dibuat untuk menghirup aerosol yang ada dalam cairan disinfektan.

“Walaupun cairan pemutih atau alkohol isopropyl tersebut encer, itu masih tidak aman bagi manusia. Itu adalah ide yang sangat konyol.”

Trump sebelumnya menyarankan obat malaria, hydroxycloroquine, sebagai obat yang mungkin dapat mengobati virus corona. Tapi ia telah berhenti menggaungkan obat itu belakangan ini.

Minggu ini, sebuah studi yang meneliti sejumlah pasien virus corona di sebuah rumah sakit pemerintah AS khusus veteran militer mendapati jumlah pasien yang meninggal yang diobati oleh hydroxycloroquine lebih banyak ketimbang pasien yang meninggal dan mendapat perawatan standar.

Menanggapi ide Trump tersebut, Joe Biden, yang kemungkinan besar akan menjadi kandidat calon presiden dari Partai Demokrat dalam pemilu AS November nanti, mengatakan lewat Twitter: “Sinar UV? Menyuntik disinfektan? Bagaimana kalau ini, Presiden: tes orang lebih banyak. Sekarang. Dan sediakan alat pelindung diri bagi tenaga medis profesional.”

Turki Kirim Masker dan Alkes ke AS
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Ankara bermaksud mengirim masker dan alat kesehatan ke Amerika Serikat dalam waktu dekat ini.

Fars News (27/4/2020) melaporkan, Erdogan, Senin (27/4) menuturkan, tidak lama lagi program kerja pemerintah Turki untuk membalikan negara ke kondisi normal, akan dipamerkan.

Erdogan menambahkan, tingkat penyebaran Virus Corona, dan angka kematian yang diakibatkannya sedang mengalami penurunan.

Presiden Turki menegaskan, mulai hari Jumat (1/5) hingga tiga hari berikutnya, akan diberlakukan pembatasan di 31 kota besar negara ini.

Menurut Erdogan, pembatasan keluar masuk kota di Turki yang diberlakukan setiap akhir pekan, diperpanjang hingga akhir bulan Mei 2020.

“Turki akan mengirim masker, alat pelindung diri dan alat medis lainnya ke Amerika, dan hingga kini Ankara sudah membantu 55 negara untuk memerangi wabah Covid-19,” imbuhnya.

Erdogan menegaskan, Turki juga akan memulangkan 25.000 warganya yang tersebar di 59 negara dunia.

Data terakhir menunjukkan jumlah positif Corona di Turki mencapai lebih dari 110 ribu orang, dan korban meninggal lebih dari 2.800 orang.

Prospek Ekonomi AS Mengerikan
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett memperingatkan bahwa pengangguran dapat mencapai tingkat yang belum pernah terlihat sejak Depresi Besar, karena pandemi Corona.

Hassett, seperti dilansir The Washington Post, Minggu (26/4/2020), mengatakan tingkat pengangguran bisa mencapai 16 persen dan AS akan memiliki prospek ekonomi yang mengerikan.

“Kami melihat tingkat pengangguran yang mendekati angka yang kita saksikan selama Depresi Besar,” tambahnya.

Menurut Hassett, kondisi saat ini merupakan guncangan negatif terbesar yang pernah diderita oleh perekonomian AS.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan ia memperkirakan ekonomi akan bangkit kembali pada musim panas tahun ini.

“Saya pikir ketika kita mulai membuka kembali perekonomian pada bulan Mei dan Juni, Anda akan melihat perekonomian benar-benar bangkit kembali pada bulan Juli, Agustus, dan September,” katanya.

Namun, para ekonom memperkirakan bahwa AS membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membangkitkan perekonomiannya.

Kantor Anggaran Kongres AS pada Jumat lalu, memprediksikan bahwa defisit anggaran pemerintah federal tahun ini akan mencapai hampir empat kali lipat dan mendekati angka 3,7 triliun dolar.

Departemen Tenaga Kerja AS dalam sebuah laporan menyatakan 26 juta warga telah kehilangan pekerjaannya akibat imbas Corona.(ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.