Kamis, 26 Mei 22

E-Money Bikin Kita Lebih Boros?

E-Money Bikin Kita Lebih Boros?
* uang elektronik atau e-money.

Penggunaan uang tunai semakin tidak populer, menyusul penggunaan uang elektronik atau e-money yang semakin marak. Tapi, apakah e-money membuat kita semakin sering belanja?

Apakah pengeluaran tanpa menggunakan uang tunai fisik membuat orang berbelanja lebih banyak?

Ini adalah pertanyaan yang rumit dan melibatkan sisi manusia yang pada dasarnya tidak rasional, dalam berbagai cara.

Misalnya, secara psikologis orang-orang merasa sangat sedih ketika mereka kehilangan sekitar Rp1 juta. Perasaan itu tidak sebanding dengan kesenangan yang mereka rasakan saat mendapatkan Rp1 juta.

Dengan kata lain, kehilangan lebih menyakitkan meski jumlah uang sama. Wawasan psikologis semacam ini telah mendorong perubahan besar di bidang ekonomi.

Sebelumnya, dalam ekonomi klasik, akademisi mendasarkan teori mereka pada asumsi bahwa orang berperilaku rasional, tapi ini terbukti salah oleh studi psikologis.

Hal ini mengarah pada disiplin ekonomi perilaku dan cabang-cabang seperti psikologi konsumen.

Salah satu peneliti dalam disiplin yang relatif baru ini adalah Drazen Prelec. Profesor MIT itu pernah melakukan penelitian yang melibatkan pelelangan diam-diam.

Lelang diadakan pada siswa di sekolah bisnis Sloan bergengsi, untuk mendapatkan tiket ke pertandingan basket NBA, yang sudah terjual habis.

Para peneliti mengatakan kepada separuh peserta lelang bahwa mereka hanya dapat membayar dengan uang tunai, sementara separuh lainnya diberitahu bahwa mereka hanya dapat membayar dengan kartu kredit.

Hasilnya pun mengejutkan. Rata-rata, pembeli dengan kartu kredit menawar lebih dari dua kali lipat pembeli tunai.

Namun, juga ditunjukkan bahwa tagihan kartu kredit menyebabkan rasa sakit yang luar biasa besar bagi penerima.

Bahkan, para ekonom perilaku percaya ini menjelaskan popularitas kartu debit.

Tapi bagaimana dengan dompet daring atau yang biasa disebut e-wallet?

Yang penting adalah umpan balik, jelas Emir Efendic, seorang psikolog pasca-doktoral dan ekonom perilaku di University of Louvain.

“Dengan kartu kredit, Anda tidak mendapatkan informasi instan tentang uang yang Anda keluarkan. Tetapi dengan uang online, Anda melihat jumlah uang Anda yang otomatis berkurang,” kata Efendic.

“Tanpa informasi itu, Anda akan menghabiskan lebih banyak uang”.

Namun, Prelec telah menemukan ada yang dia sebut sebagai “momen menyakitkan”, hampir seperti rasa sakit nyeri yang singkat, ketika kita berpisah dengan uang kita.

Rasa sakit ini bisa hilang ketika kita membayar dengan e-wallet, tapi butuh penelitian lebih lanjut.

Rasa sakit karena berpisah dengan uang kita dapat membuat kita tidak melakukan pengeluaran berlebihan, tetapi aspek negatifnya adalah hal itu dapat merampas kesenangan kita dalam mengkonsumsi.

Biaya psikologis ini oleh Prelec disebut sebagai “pajak moral”. Akhirnya beralih menggunakan pembayaran elektronik. Nampaknya, sistem tanpa uang tunai ini cukup mengejutkan dari sisi kenyamanan.

Mungkin ini lebih baik untuk ekonomi, di mana itu bisa bermanfaat jika orang membelanjakan uang mereka lebih bebas, dan banyak pemerintah di seluruh dunia berusaha mendorong ini.

Tapi kadang-kadang, pengeluaran semacam ini, tanpa menggesek kartu sama sekali, mengarah ke semacam kegelisahan.

Mungkin ini adalah “pajak moral” yang disebut Prelec.

Dengan kata lain, saya mungkin merasakan ketidaknyamanan ini karena saya membayangkan bahwa saya mungkin bisa menghabiskan uang itu untuk keperluan lain.

Karena semakin banyak masyarakat yang beralih dari berbasis uang tunai ke uang tunai, cara kita menghabiskan uang mungkin akan berubah.

Tetapi uang akan tetap menjadi kekuatan yang mengatur dalam kehidupan manusia. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.