Rabu, 29 Juni 22

Dwikorita Karnawati, Sang Pendidik Berintegritas

Dwikorita Karnawati, Sang Pendidik Berintegritas

Sebagai rektor baru, dia bertekad akan menjaga kekompakan di tingkat pimpinan universitas dan menyikapi penggabungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sederhananya, dia merupakan sosok pendidik yang berintegritas tinggi.

Mengenal dekat sosok Dwikorita Karnawati tak bisa lepas dari deretan gelar maupun penghargaan prestisius. Usai menamatkan gelar S-1 di UGM, dia melanjutkan S-2 dan S-3 di Leeds University, United of Kingdom (UK). Ibu dua anak ini juga memperoleh beberapa penghargaan seperti The Young Academic Award dari World Bank (1997 & 1998),  Leverhulme Professorship Award dari Institute for Advanced Studies, University of Bris (2002), dan The International Consortium – United Nations International Strategy on Disaster Reduction (UN-ISDR) yang menganugerahinya The International Award pada tahun 2011.

Sebelum dikukuhkan sebagai rektor, Rita, sapaan akrabnya, banyak dikenal sebagai pakar, sekaligus pengamat masalah kerentanan tanah akibat bahaya gempa bumi. Mengutip dari ugm.ac.id, dia sempat membuat pemetaan zona rawan terhadap gempa bumi dan tingkat intensitas kerentanannya paska gempa 27 Mei 2006 silam di Bantul.

Berita SatuBersama suaminya Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D, dia dinobatkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik UGM. Terpilihnya Rita turut mencetak sejarah sebagai bagi UGM yang sudah berdiri sejak 67 tahun silam. Karena dia adalah seorang rektor perempuan pertama.

Semasa kecilnya dulu, dia sempat bercita-cita menjadi guru TK. Namun, menjadi sirna seketika saat mendapat pengaruh dari kakak sepupu dan pamannya yang menekuni teknik geologi. Meskipun, sang ibunda memintanya kuliah di jurusan ekonomi, dia tetap mendaftarkan geologi sebagai pilihan pertama, baru ekonomi di pilihan kedua.

“Dari penelitian-penelitian, saya semakin menyadari bahwa permasalahan di lapangan sangat kompleks dan tidak mungkin hanya diatasi oleh satu disiplin ilmu,”cetusnya.

Rita berkisah, dirinya butuh berinteraksi dengan pakar lain, termasuk bidang geologi, mengingat wilayah kepulauan Indonesia berada dalam lingkungan geodinamik yang sangat aktif serta memiliki batas-batas pertemuan berbagai lempeng tektonik aktif, lempeng Indo-Australia maupun Samudra Pasifik yang menggesek lempeng Benua Asia. Gerakan yang bersifat tektonik tersebut mengakibatkan terjadinya berbagai jenis proses geodinamik, seperti gempa bumi, tsunami, dan longsor.

Riwayat kontribusi sahabat SMA Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ini cukup diperhitungkan di UGM. Dia salah satu sosok penting yang mengintesifkan kerja sama UGM di lingkup ASEAN dan Asia semasa menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni. Dia juga yang memprakarsai program keterlibatan universitas-industri melalui riset dan implementasinya dalam berbagai bidang industri termasuk agroindustri, tekstil, kesehatan, dan geothermal. Nama perempuan kelahiran Yogyakarta 6 Juni 1964 ini kian melambung di masyarakat setelah menjadi moderator debat Capres 2015.

Selain akan melanjutkan penelitiannya, ada beberapa amanah besar yang menanti. Sebagai rektor baru, dia bertekad akan menjaga kekompakan di tingkat pimpinan universitas dan menyikapi penggabungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Penilaian masyarakat terhadap UGM yang masih sulit menerima mahasiswa dari luar Jawa merupakan tantangan yang harus dijawabnya pula.

Mengemban amanah baru, tentu ada penyesuaian pula dalam kehidupan hariannya. Untuk menyiasati waktu kesibukan, tak jarang Rita mengajak mereka ke lingkungan penelitiannya.

“Keluarga sudah memahami saya, terutama suami. Ketika saya pulang di awal waktu, suami malah balik bertanya. Anak-anak sudah enjoy, bahkan kadang minta ikut saat ke tempat penelitian,” akunya dalam suatu wawancara. (Naskah: Silvy Riana Putri/Women’s Obsession)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.