Senin, 27 Juni 22

Dwelling Time Pelabuhan Tanjung Priok Harus Segera Dibenahi

Dwelling Time Pelabuhan Tanjung Priok Harus Segera Dibenahi

Imar
Jakarta-Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai
dwelling time terjadi karena beberapa faktor, salah satu yang paling dominan adalah  ketidaksiapan Pelabuhan Tanjung Priok dalam mengantisipasi arus barang. Padahal, dalam tiga tahun terakhir, arus barang di Priok, baik domestik maupun luar negeri meningkat di atas 20%, akan tetapi infrastruktur di Priok jalan di tempat.

“Ini memang sebuah keanehan. Apa yang diminta Presiden dan Menko Perekonomian agar Dwelling Time bisa ditekan menjadi 3 hari,  tidak serius dijalankan oleh Pelindo, Otoritas Pelabuhan atau pejabat lainnya yang terkait dengan pelabuhan. Sekali lagi, itu adalah instruksi presiden,”kata Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iskandar Zulkarnain di Jakarta, Senin (8/7/2013).

Sekarang, lanjutnya yang rugi adalah pelaku usaha, baik pemilik barang, pelayaran, pelaku logistik dan transportasi darat. Sedangkan yang untung otomatis Pelindo II karena peti kemas semakin lama di pelabuhan, tarifnya progresif dan semakin mahal dan memberikan kontribusi keuntungan bersih, tanpa ada investasi.

“Sejujurnya pelaku logistik pesimistis akan ada solusi cerdas atas masalah ini. Kecuali pihak-pihak yang terkait disana belajar fokus kepada job bisnis dan tugasnya. BC fokus kepada sektornya dgn memaksimalkan proses pemeriksaan barang pada jalur merah lebih cepat,”paparnya.

Sedangkan Pelindo II, menurutnya  fokus pada tugasnya dalam mengawal kelancaran arus barang.

“Jangan mencari untung terus, atau yang lainnya apalagi ekspansi yg ke sektor yang tidak perlu karena bisa diusahakan swasta, sedangkan di depan matanya sendiri tidak beres,”ketusnya.

Untuk keperluan ini, ia meminta untuk memperbanyak swasta nasional membantu mengembangkan pelabuhan. “Jangan di makan sendiri.
Otoritas Pelabuhan harus tegas, jalankan tugas sebagai wakil pemerintah disana. Jangan sarat kepentingan dan memihak,” tambahnya.

“Berdayakan back up area, jangan takut kepada Operator Pelabuhan.
Karantina juga agar diberdayakan oleh negara, beri kesempatan untuk mereformulasi perannya agar mampu menjawab tuntutan zaman. Jika semua sudah berjalan seimbang, saya yakin masalah dwelling time akan selesai,”tegasnya.

“Tapi perlu diingat bahwa situasi pelabuhan lainnya juga sama. Contoh saja, antrean kapal di Panjang, Lampung sangat tinggi bahkan mencapai 20 kapal, begitu juga di Teluk Bayur, Jambi, Palembang, Surabaya, Medan dan Makassar. Semua pelabuhan utama ini bermasalah dan yang paling besar masalahnya ada di Priok,”pungkasnya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.