Rabu, 5 Oktober 22

Dulu Pesuruh Ronaldo, Kini Dia Favorit Ballon D’Or

Dulu Pesuruh Ronaldo, Kini Dia Favorit Ballon D’Or
* Karim Benzema. (Getty/Goal)

Wow! Pemain Real Madrid Karim Benzema yang dulu sebagai pesuruh Ronaldo, ternyata kini prestasi dia meroket dan bahkan menjadi favorit Ballon D’Or: Bagaimana Benzema bisa jadi ‘King Karim’ Real Madrid?

Karim Benzema harus menunggu lama sebelum naik takhta di Real Madrid, tetapi kini dia adalah sang raja absolut, dengan mahkota mengilap, tongkat komando di tangan, dan sukses memimpin kunjungan kerajaan ke Stamford Bridge.

‘King Karim’ kini menjadi ikon, yang rasanya tampak mustahil satu dekade lalu, karena rekannya terdahulu, Cristiano Ronaldo, merebut semua perhatian dan penghargaan di Madrid.

Benzema bekerja keras bagai kuda, seringkali di posisi sayap, demi melayani bomber Portugal itu, yang merupakan topskor sepanjang masa Los Blancos dengan 450 gol. Kesempatannya untuk bersinar baru hadir begitu Ronaldo cabut ke Juventus 2018 kemarin.

Dan striker Perancis itu mengambilnya dengan mulus, menjelma “striker terbaik di dunia” menurut sang pelatih, Carlo Ancelotti, dan menjadi unggulan di perburuan Ballon d’Or 2022.

Benzema memimpin tangga topskor di La Liga Spanyol dengan 24 gol, 10 lebih banyak dari Juanmi, Raul de Tomas, Enes Unal, dan rekannya Vinicius Junior, yang semuanya seri di peringkat dua.

Golnya memberi Madrid keunggulan yang sulit di kejar, yakni 12 poin di puncak klasemen, dengan delapan laga tersisa.

Benzema juga melakoni comeback impresif di panggung internasional di Piala Eropa 2020 (yang digelar di pertengahan 2021 akibat pandemi Covid-19), dan akan kembali menjadi pilar Prancis di Piala Dunia 2022 Qatar.

Sehari setelah final, 19 Desember 2022, dia bakal berusia 35 tahun, fakta yang membuat performanya semakin bikin geleng-geleng kepala. Di saat kebanyakan pemain seusianya mulai merosot, Benzema justru semakin membubung tinggi.

Akhir pekan kemarin, brace yang ia cetak dari titik putih membantu Madrid melangkahi Celta Vigo dan mempertahankan keunggulan mereka di puncak La Liga, sementara momen individual terbaiknya terjadi Maret lalu, melawan Paris Saint-Germain di Santiago Bernabeu.

Hat-trick spektakuler 17 menit Benzema membantu Real Madrid bangkit dari ketertinggalan 2-0 (dalam agregat) untuk menyingkirkan PSG dari Liga Champions Eropa di babak 16 besar, dengan Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe dipaksa gigit jari.

Narasi partai tersebut berputar di nama terakhir, dengan Mbappe diprediksi kuat bakal berseragam Madrid musim depan setelah kontraknya habis, sekalipun laporan di Prancis menyebut bahwa ia berubah pikiran dan meneken kontrak baru bersama raksasa Ligue 1 itu.

Mbappe mencetak gol buat PSG di kedua leg dan membuat pertahanan Los Blancos kelimpungan, tetapi ‘King Karim’ mengubah total jalannya pertandingan.

Jika – atau saat – Mbappe bergabung dengan Madrid, dia akan bermain bersama Benzema alih-alih menggesernya. Striker 34 tahun itu masih bisa memberikan banyak hal, dan sepertinya tidak akan menyerahkan lampu sorot begitu saja setelah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang.

Kehadiran Ronaldo mengerdilkan Benzema, dan tidak perlu heran mengingat tajamnya penyerang Portugal itu dan betapa ia dipuja di ibukota Spanyol.

Benzema ditugasi untuk menjadi jalur suplai Ronaldo dan ketidakegoisan serta kualitasnya membantu striker yang kini kembali ke Manchester United itu mencapai puncak kejayaan, dengan memenangkan empat dari lima koleksi Ballon d’Or-nya di Real Madrid.

Ronaldo juga jamak dipandang sebagai protagonis Madrid ketika meraih empat Liga Champions Eropa dalam lima tahun, sementara Benzema hanyalah salah satu pemeran pembantunya.

Namun harus dibilang, ia memainkan peran itu dengan sempurna, dan tanpa mengeluh. Sebuah aset underrated yang bertahan lebih lama dari delapan manajer Real Madrid sejak tiba di Bernabeu 2009 lalu (Manuel Pellegrini, Jose Mourinho, masa bakti pertama Ancelotti, Rafael Benitez, Julen Lopetegui, Santiago Solari, dan dua rezim Zinedine Zidane).

Kunci dari umur panjang Benzema di Madrid dan bagaimana ia kini memainkan peran ‘pembunuh’ buat mereka adalah kemampuan beradaptasinya dan mindset-nya yang fleksibel.

“Ketika Ronaldo bermain buat Real Madrid, dia mencetak 50 sampai 60 gol per tahun,” ujar Benzema kepada France Football Januari kemarin. “Jadi Anda harus beradaptasi dengan realita ini.”

“Saya harus lebih banyak bergerak di lapangan, memberinya ruang. Ketika dia pergi, yang berubah adalah bahwa ini saatnya saya mengambil alih, mencetak gol dan memberi assist buat rekan satu tim saya yang lain.”

Meski Benzema tidak benar-benar menyamai kengerian Ronaldo di depan gawang, ia bisa menghadirkan kreativitas buat tim, memimpin peringkat tangga pemberi assist di La Liga dengan 11 torehan.

Benzema saat ini duduk di urutan ketiga topskor abadi Real Madrid dengan 316 gol, di bawah Ronaldo dan cuma terpaut 8 lesakkan dari Raul Gonzalez yang legendaris.

Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Hugo Sanchez, Emilio Butragueno dkk sudah diempaskannya, dan Benzema belum menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan injakkannya di pedal gas.

Jika saja Benzema mengambil 91 penalti yang dieksekusi Ronaldo buat Madrid, plus 26 yang dieksekusi Sergio Ramos, dia bakal menjadi topskor sepanjang masa Los Blancos. Tetapi dia masa bodoh.

“Selain statistik, mencetak lebih banyak gol, saya tidak melihat ada yang berubah dari sepakbola saya,” imbuh Benzema. “Saya masih pemain yang sama. Bergerak, mencipta, bermain satu sentuhan.”

“Kita tidak lagi melihat apa yang dilakukan seorang pemain di lapangan, kita cuma melihat siapa yang mencetak gol. Dan besoknya, dia dianggap yang terbaik.”

“Terjadi pada saya – kalau saya tidak bermain bagus tetapi mencetak gol, mereka menganggap saya yang terbaik.”

Dengan keran golnya yang seolah tanpa henti, penghargaan juga datang silih berganti. Wawancaranya bersama France Football adalah dalam rangka perayaan dirinya dinobatkan sebagai pemain Prancis terbaik 2021.

Benzema memainkan peran penting membantu Les Bleus menjuarai UEFA Nations League Oktober tahun lalu, mencetak dua gol dan dinobatkan man of the match kontra Spanyol di final.

Bersama negaranya, dia menjalin duet mematikan bersama Mbappe. Di level klub, kerjasamanya dengan Vinicius Junior juga menjadi kunci buat Real Madrid dan membantu Benzema mempertahankan performa terbaiknya.

Karim Benzema mencetak 20 gol di liga selama empat musim berturut-turut.

Setelah dikecewakan Luka Jovic dan Eden Hazard, Benzema akhirnya menemukan partner yang bisa ia percayai dalam diri winger muda Brasil itu.

Uniknya, Vinicius bisa dibilang membantu melayani Benzema seperti dahulu Benzema melayani Ronaldo. Tetapi King Karim adalah raja arif yang sampai sekarang masih dengan senang hati melayani partner penyerangnya.

Tapi hubungan mereka tidak dimulai baik-baik. Benzema terekam mengkritik Vinicius oleh kamera stadion saat interval sebuah laga Oktober 2020, sesuatu yang diklaim Benzema sebagai sebuah assist dengan cara berbeda.

“Hanya dengan dua tiga komentar, dua tiga gerakan, saya menunjukkan arahan, terutama di 20 meter terakhir,” jelasnya.

“Dia harus memutuskan sendiri, umpan silang untuk memberi assist bukan hanya demi mengumpan, menengadah dulu, dan dia melakukan itu semua.”

“Sekarang, dia Vinicius. Saya bermain bareng pemain-pemain hebat saat masih kanak-kanak, saya harus melihat mereka dan menelan informasi cepat-cepat. Saya belajar bermain dengan kepala saya. Menganalisis permainan rekan-rekan satu tim.”

Gemilang sebagai tumpuan serangan Madrid sembari didukung Vinicius, yang amat lincah dan dinamis demi menyamai teknik manis dan visi kreatif Benzema, keduanya jadi senjata pamungkas Madrid ketika berhasil revans dengan merontokkan Chelsea asuhan Thomas Tuchel dengan skor 3-1.

The Blues mengentaskan Real Madrid musim lalu di semi-final Liga Champions Eropa, dan jika bukan karena gol akrobatik Benzema di leg pertama, ketika imbang 1-1 di Bernabeu, Chelsea bisa dibilang memporakporandakan Los Blancos.

“Dua tahun lalu, menurut saya dia adalah salah satu pemain paling underrated di dunia sepakbola,” begitu penilaian Tuchel terhadap Benzema sebelum rematch kedua tim, Kamis (7/4) dini hari WIB di Stamford Bridge. “Tetapi mungkin sudah enggak!”

Dan kali ini Madrid, yang lagi-lagi harus berterima kasih kepada hat-trick Benzema, berhasil menuai hasil berbeda di hadapan Chelsea. Dalam kemenangan di Stamford Bridge yang akan dikenang hingga sekian tahun lamanya, Los Blancos masih dipimpin ujung tombak yang sama, dan Benzema sendiri bersikeras dia tidak berubah, meski kini menyandang mahkota mengilap dan duduk di singgasana El Real sebagai ‘King Karim’. (Goal.com/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.